Cara Menemukan Ketenangan di Tengah Hidup yang Serba Cepat
Jumat, 24 Oktober 2025 | 08:00 WIB
Kita hidup di zaman yang bergerak dengan amat cepat. Bertransformasi karena perkembangan teknologi. Setiap harinya pun kita disuguhi oleh informasi, target, dan perbandingan yang tak ada habisnya. Begitu juga, Media sosial membuat segala hal terasa seperti perlombaan: siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih bahagia, dan siapa yang lebih sempurna. Karenanya, banyak orang merasa tertinggal, kehilangan arah, dan hidup dalam kecemasan.
Di tengah ritme hidup yang menuntut kita untuk selalu berlomba-lomba dalam segala hal semacam ini, ada prinsip hidup dalam Islam yang terasa semakin relevan untuk kita terapkan, yaitu qana‘ah. Cara ini bisa kita jadikan sebagai jalan untuk berdamai dengan diri sendiri, menerima keadaan dan keterbatasan tanpa kehilangan semangat untuk terus tumbuh dan berkembang.
Mengenal Qana'ah
Qana‘ah secara bahasa berarti merasa ridha terhadap pembagian rezeki apapun yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Sementara menurut para ahli hakikat, qana‘ah adalah ketenangan hati ketika tidak memiliki hal-hal yang biasa dimiliki (oleh orang lain). Qana‘ah bukan sekadar puas karena memiliki sesuatu, tetapi kemampuan untuk tetap tenang meskipun nasib tidak sesuai harapan.
القناعة: في اللغة: الرضا بالقسمة، وفي اصطلاح أهل الحقيقة: هي السكون عند عدم المألوفات
Artinya: “Qana‘ah secara bahasa berarti merasa ridha terhadap pembagian (rezeki) yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut istilah para ahli hakikat, qana‘ah adalah ketenangan hati ketika tidak mendapatkan hal-hal yang biasa dimiliki atau disenangi.” (Ali bin Muhammad Aj-Jurjani, At-Ta’rifat, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1983], halaman 179).
Lebih luas lagi, Hamka memberikan definisi qanaah dengan memberikan 5 unsur, yaitu: ikhlas menerima adanya, berdoa kepada tuhan agar mendapat tambahan yang layak dan berusaha, menerima ketentuan tuhan, dan tidak terbawa oleh kekecewaan dunia. (Hamka, Tasawuf Modern, [Jakarta: Pustaka Panjimas, tt.], halaman 154).
Cara Praktis Belajar Qana'ah
Qana‘ah pada dasarnya adalah melatih hati untuk merasa cukup tanpa berhenti berusaha. Yaitu, dalam penjelasan berbeda, qanaah merupakan sebuah sikap yang menekankan keseimbangan antara kerja keras dan penerimaan hasil setelah berusaha. Selain itu, qana'ah juga dapat disebut sebagai perilaku yang mendorong untuk tetap merasa cukup dan tidak tamak dengan harta dunia.
Sa‘ad bin Abi Waqqash, salah seorang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, pernah memberikan nasihat kepada anaknya tentang qana‘ah. Ia berpesan agar dalam setiap keinginan, anaknya tetap memelihara rasa cukup, karena tanpa qana‘ah, harta sebanyak apa pun tidak akan pernah membuat hati merasa puas.
عن ابن عيينة قال قال سعد بن أبي وقاص لابنه يا بني إذا طلبت شيئا فاطلبه بالقناعة فإن لم يكن لك قناعة فليس يغنيك مال
Artinya: "Dari Ibnu Uyainah, ia berkata, bahwa Sa’d bin Abi Waqash berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika engkau menginginkan sesuatu, maka mintalah dengan qana‘ah. Sebab jika engkau tidak memiliki qana‘ah, maka harta sebanyak apa pun tidak akan membuatmu cukup.” (Ibnu ‘Asakir, Tarikh Damasyqa, [Beirut: Darul Fikr, 1995], jilid XX, halaman 363).
Inti dari cara praktis qana‘ah adalah manajemen hati. Penjelasan semacam ini, tidak hanya datang dari nasihat Sa‘ad bin Abi Waqqas kepada anaknya, akan tetapi dalam penjelasan lain disebutkan bahwa selama hati merasa cukup, maka hampir semua masalah akan terasa lebih ringan.
القناعة تكون بالقلب فمن غني قلبه غنيت يداه ومن افتقر قلبه لم ينفعه غناه ومن قنع لم يتسخط وعاش آمنا مطمئنا ومن لم يقنع لم يكن له في الفوائت نهاية لرغبته والجد والحرمان كأنهما يصطرعان بين العباد
Artinya: “Qana‘ah berada di hati. Barangsiapa hatinya kaya, kedua tangannya pun akan merasa cukup. Siapa saja yang hatinya miskin, kekayaannya pun tidak akan pernah bermanfaat. Barangsiapa merasa cukup, ia tidak akan merasa kecewa dan hidupnya aman serta tenang. Selain itu, siapapun yang tidak pernah merasa cukup, keinginan terhadap sesuatu yang belum diperolehnya tidak akan pernah terhenti, dan usaha serta rasa kekurangan, akan timbul seolah bertarung di dalam diri manusia.” (Ibnu Hibban, Raudhatul 'Uqala wa Nuzhatul Fudhala, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, tt.], halaman 151).
Jadi, cara praktis untuk mulai qana‘ah ialah dengan melatih hati agar merasa cukup setelah berusaha sebaik mungkin. Qana‘ah tidak berarti pasrah tanpa ikhtiar, tetapi menyeimbangkan kerja keras dengan penerimaan atas hasil yang telah ditentukan Allah. Selain itu, melatih hati dalam hal ini juga bermakna melatih mindset agar tidak selalu mengukur kebahagiaan dari pencapaian materi atau pengakuan orang lain.
Benefit Sikap Qana'ah
Sikap qana‘ah membawa banyak manfaat yang berdampak langsung pada ketenangan jiwa dan kualitas hidup seseorang. Orang yang memiliki qana‘ah akan lebih mudah merasa bahagia meski hidup sederhana, karena kebahagiaannya tidak bergantung pada banyaknya harta, melainkan pada kemampuan mensyukuri apa yang ada.
Bahkan Rasulullah Saw menyebutkan, bahwa orang yang merasa cukup terhadap pemberian (qana'ah) termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bersumber dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash:
عَنْ عَبْدِ اللّٰه بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ, عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِيَ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَرُزِقَ الْكَفَافَ، وَقَنَعَ بِهِ
Artinya: "Dari Abdullah bin Amr bin Abi Al-'Ash dari Rasulullah Saw, ia bersabda: “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk kepada Islam, diberi rezeki yang cukup, dan merasa qana‘ah dengannya.” (HR. Ibnu Majah)
Karenanya, qana‘ah merupakan prinsip hidup yang menenangkan hati dan menyeimbangkan antara usaha dan takdir. Dengan qana‘ah, kita dapat belajar merasa cukup dengan apa yang dimiliki, mensyukuri nikmat Allah, dan tidak terbebani oleh perbandingan sosial atau ambisi yang berlebihan.
Sikap qana'ah juga dapat membuat hidup terasa lebih ringan, pikiran lebih tenang, dan setiap usaha yang dilakukan terasa bermakna, meski dunia terus bergerak cepat dan menuntut banyak hal. Wallahua’lam.
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman