Dalam khazanah tasawuf, tajalli merupakan salah satu konsep paling mendalam dan subtil yang menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan. Secara etimologis, tajalli berarti “penampakan” atau “manifestasi”. Dalam konteks spiritual, istilah ini menggambarkan proses ketika cahaya Ilahi (nur ilahi) memancar dalam hati seorang hamba yang telah bersih dari sifat-sifat duniawi.
Tajalli bukan sekadar pengalaman mistik, melainkan puncak perjalanan ruhani yang menuntun seorang salik (pejalan spiritual) menuju pengenalan sejati kepada Allah SWT. Di tengah arus modernitas yang serba cepat dan materialistik, konsep tajalli; bersama nilai-nilai tasawuf lainnya, sering dianggap tidak relevan karena dinilai terlalu abstrak dan sulit dipahami.
Namun, bukankah kehidupan yang serba material justru meninggalkan ruang hampa dalam hati manusia? Lantas, mampukah tasawuf dengan konsep tajalli-nya mengisi kekosongan batin tersebut? Bagaimana sejatinya tajalli dapat dimaknai serta diterapkan dalam kehidupan modern saat ini?
Pengertian Tajalli dalam Tasawuf
Haidar Putra Daulay, Zaini Dahir, dan Chairul Azmi Lubis dalam artikel berjudul “Takhalli, Tahalli, dan Tajalli” yang dimuat dalam Pandawa: Jurnal Pendidikan dan Dakwah, Vol. III, No. 3, September 2021, menjelaskan bahwa tajalli merupakan fase terungkapnya nur ghaib atau cahaya keimanan dalam hati. Fase ini ditandai dengan hadirnya akhlak mulia dalam diri seseorang serta terbiasanya tubuh melakukan amal saleh yang lahir dari keimanan.
Kondisi tersebut merupakan puncak dari proses spiritual sebelumnya, yakni takhalli dan tahalli. Dengan membuat perumpamaan seperti sebidang tanah yang hendak ditanami, para penulis menggambarkan takhalli sebagai proses membersihkan lahan dari rumput liar, tahalli sebagai proses menanam dan merawat bibit, dan tajalli sebagai hasil panen berupa cahaya Ilahi yang menumbuhkan kebaikan dalam diri.
Pandangan ini sejalan dengan konsep para sufi klasik seperti Ibnu 'Arabi, Al-Ghazali, dan Al-Jili. Mereka menafsirkan tajalli sebagai manifestasi hakikat Allah dalam ciptaan-Nya. Bagi mereka, Allah tidak pernah benar-benar “terpisah” dari makhluk-Nya, melainkan senantiasa menampakkan diri melalui segala bentuk wujud di alam semesta.
Ibnu ‘Arabi bahkan mengklasifikasikan tajalli ke dalam beberapa tingkatan, yaitu tajalli dzati (penampakan Dzat Allah), tajalli sifati (penampakan sifat-sifat Allah), dan tajalli af'ali (penampakan perbuatan Allah). Dalam pemahaman ini, alam semesta bukanlah entitas terpisah, melainkan cermin yang memantulkan keindahan dan kebesaran Tuhan.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 115:
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ١١٥
wa lillâhil-masyriqu wal-maghribu fa ainamâ tuwallû fa tsamma waj-hullâh, innallâha wâsi‘un ‘alîm
Artinya, “Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
Tahapan Menuju Tajalli
Proses tajalli tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia memerlukan penyucian batin (tazkiyatun nafs) dan pembiasaan dzikir yang konsisten. Para sufi menjelaskan adanya tiga tahap besar dalam perjalanan menuju tajalli.
Proses yang pertama ialah takhalli, yakni mengosongkan diri dari sifat tercela seperti kesombongan, cinta dunia, ria, dan dengki. Inilah yang dimaksudkan sebagai proses pembersihan lahan sebelum penyemaian benih kebaikan. Proses berikutnya ialah tahalli, yakni menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji: sabar, ikhlas, tawakal, dan kasih sayang.
Sesudah kedua proses di atas terlewati, maka seorang murid (yang berharap menuju jalan Allah) akan bisa mencapai tahapan tajalli. Imam Al-Qusyairi menjelaskan hal tersebut sebagai:
التجلي : هو إشراق أنوار الحق على قلوب المريدين
Artinya, “Tajalli ialah tersingkapnya kebenaran pada hati seorang murid,” (Al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, [Beirut: Darul Kutub al-Islamiyyah], 2007, hlm. 66).
Dengan kata lain, bisa kita pahami bahwa tajalli adalah hadirnya cahaya Ilahi dalam hati, sehingga seseorang melihat segala sesuatu sebagai manifestasi dari kehendak Allah. Pada tahap tajalli, seorang hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat, melainkan menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah “cermin” dari kehendak Tuhan. Baginya kini, semuanya fana, yang tampak hanya ke-baqa-an ilahi.
Praktik Tajalli dalam Kehidupan Modern
Di era digital dan kompetitif seperti saat ini, konsep tajalli sangat relevan untuk mengembalikan keseimbangan batin manusia. Banyak orang kehilangan makna karena terjebak dalam pencapaian duniawi yang semu.
Menghidupkan tajalli di masa kini berarti melihat Allah dalam setiap peristiwa dan pekerjaan. Misalnya, saat sedang bekerja, seseorang menyadari bahwa ia bukan sekadar mencari nafkah, tetapi sedang menunaikan amanah Ilahi untuk memberi manfaat bagi sesama.
Saat menghadapi ujian hidup, ia tidak sekadar melihatnya sebagai musibah, tetapi sebagai bentuk manifestasi kekuasaan Allah yang menguji keikhlasan. Saat menyaksikan keindahan alam, ia melihat penampakan keindahan Allah yang menumbuhkan rasa syukur dan cinta.
Mengaplikasikan konsep tajalli dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari latihan kesadaran (muraqabah) dan dzikir secara konsisten agar senantiasa mengingat Allah. Seorang sufi modern tidak perlu mengasingkan diri di gunung, melainkan menghadirkan Allah di tengah hiruk-pikuk dunia.
Kita bisa mengawali hari dengan dzikir dan meniatkan segala sesuatu untuk “melihat Allah dalam setiap urusan hari ini.” Saat bekerja, kita tanamkan kesadaran bahwa setiap napas adalah anugerah dari Allah. Saat berinteraksi dengan orang lain, kita melihat mereka sebagai manifestasi kasih Allah yang hadir dalam bentuk manusia lain.
Dengan cara ini, tajalli bukan sekadar konsep mistis, melainkan spiritualitas aktif yang menembus kehidupan sosial, etika, dan profesi.
Pada akhirnya, tajalli adalah pengalaman batin tentang ketauhidan yang berupa kesadaran bahwa tiada yang hakiki selain Allah. Dalam dunia yang penuh distraksi, tajalli mengajarkan kita untuk menemukan Tuhan di balik layar kehidupan, seperti di balik pekerjaan, relasi, bahkan penderitaan. Mengamalkan tajalli hari ini bukan berarti hidup di awang-awang, tetapi justru menjadikan kehidupan lebih jernih, berorientasi Ilahi, dan penuh makna. Wallahu a'lam.
Muhammad Ibnu Sahroji, atau Ustadz Ges.