Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri
NU Online · Ahad, 19 Juni 2016 | 04:00 WIB
Tak terkecuali Kiai Muhammad, seorang Kiai di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamkesanan yang sangat alim dan menutupi dirinya dari keterkenalan oleh khlayak ramai. Kabarnya ia pernah nyantri di Pesantren Kiai Maksum Lasem. Ia juga rupanya memiliki hubungan yang baik dengan pesntren Tebuireng, Denanyar, Tambakberas dan Rejoso Jombang.
Kiai Muhammad pernah menceritakan kepada penulis bahwa suatu hari datanglah kepadanya seorang warga desanya yang baru pulang bekerja dari luar negeri sebagai TKI. Dalam sowannya itu dengan nada memendam amarah yang memuncak, seorang warga meminta izin sang kiai untuk membunuh seseorang. Pasalnya, orang yang dimaksud ini telah main serong dengan istrinya selama ditinggal bekerja ke luar negeri.
“Saya minta izin kiai, saya minta restu dan doanya, saya mau carok.” Katanya.
“Kenapa?” kata sang kiai.
“Istri saya diambil orang,” ungkapnya.
Untungnya, sang kiai dapat meredam emosi warga tersebut. Sang kiai mengungkapkan bahwa tidak ada untungnya berkelahi dan bunuh-membunuh. Ia juga mengungkapkan bahwa jika seorang warga tersebut menang, ia akan dipenjara. Selama di penjara siapa yang tahu kalau istrinya akan dicuri orang lagi. Jika ia kalah dan harus mati, maka istrinya akan kawin lagi. Jadi sebaiknya carok itu jangan pernah terjadi.
“Menurut saya,” lanjut sang kiai dengan nada tenang dan hati-hati, “Sebaiknya jangan ada bunuh-bunuhan karena tidak ada untungnya baik buat yang kau bunuh maupun dirimu sendiri.”
“Lagian kamu sendiri juga agak keliru, masa istri ditinggal ke luar negeri, dalam hitungan tahun lagi,” kata Kiai Muhammad yang mengerti bahwa tamunya itu habis pulang dari luar negeri.
“Sebaiknya jangan ada carok itu, kamu lebih baik hidup tenang dan jaga istrimu baik-baik. Yang lalu biarlah berlalu sebagai pelajaran. Kalau harus ke luar negeri berangkatlah bersama jangan sendiri-sendiri,” tutur Kiai Muhammad sebagai pamungkas.
Warga tersebut langsung menyadari emosinya dan pulang dengan perasaan yang penuh kesadaran akan kesalahan dirinya telah meninggalkan istri ke luar negeri. Pertumpahan darah pun dihindarkan. Kiai Muhammad sukses memberi jalan tengah “menang sama menang” dan menghindarkan warga tersebut dari perbuatan yang mencelakakan orang lain dan dirinya. (R. Ahmad Nur Kholis)
Terpopuler
1
Ini Jadwal Lengkap Agenda Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
2
KH Ma’ruf Amin: Calon Ketua Umum PBNU Harus Punya Kapasitas Manajerial dan Teknokratis
3
Data Terkini Gempa NTT: 87 Meninggal Dunia, 1.298 Luka-Luka, dan 150 Ribu Warga Mengungsi
4
Muktamar NU: Absennya Tema Besar dan Agenda Kerakyatan
5
Hukum Karnaval Menutup Jalan Umum dalam Islam, Bolehkah?
6
Anjuran Merayakan Maulid Nabi Muhammad dan Dalil-Dalilnya
Terkini
Lihat Semua