Tiga Larangan Nabi: Jangan Menyerupai Hewan dalam Perbuatan Ini
NU Online ยท Rabu, 7 Mei 2025 | 13:00 WIB
Muhaimin Yasin
Kolumnis
Manusia dan hewan adalah dua makhluk Allah SWT yang sama-sama memiliki ciri khas tersendiri. Keduanya pun mempunyai sisi keunggulan dan kekurangan masing-masing. Hukum alam semacam ini, seakan dirancang untuk menciptakan ekosistem makhluk hidup agar senantiasa baik dan stabil.
Akan tetapi di antara keduanya, Allah SWT menjadikan manusia sebagai makhluk terbaik. Bahkan dari keseluruhan makhluk hidup. Predikat ini, tidak serta-merta disematkan begitu saja, namun mempunyai landasan yang kokoh.
Pertama, dari aspek bentuk, manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan paras terbaik. Dibuktikan dengan QS. At-Tin ayat 4. Kedua, dari aspek tanggung jawab, manusia adalah makhluk yang berperan sebagai khalifah di bumi dan menjadi satu-satunya makhluk yang dapat memikul amanah, tatkala sebelumnya langit, bumi dan gunung tidak sanggup mengelolanya. Sebagaimana dijelaskan QS. Al-Baqarah ayat 31 dan QS. Al-Ahzab ayat 71.
Baca Juga
Ini Doa Lengkap Menyembelih Hewan Kurban
Selain itu, kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain adalah penganugerahan akal dan nafsu yang seimbang serta dapat dikelola olehnya dengan baik. Hal demikian menjadikan manusia mampu menjadi pengendali alam semesta. Seperti yang diterangkan QS. Al-Jasiah ayat 13.
Dengan semua ketetapan ini, seyogyanya manusia menjadi makhluk yang paling beradab. Namun sering kali, manusia lupa akan keistimewaan yang mereka miliki. Sehingga terkadang perilakunya cenderung buruk dan tidak jauh berbeda dengan hewan yang tidak memiliki akal.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW mengingatkan manusia agar hidup sesuai kodratnya. Supaya tidak sama dengan hewan, Nabi SAW secara eksplisit mengingatkan umatnya untuk menghindari tiga perbuatan ini. Apa saja? Simak tulisan ini sampai tuntas.
1. Menarik Kembali Barang Pemberian
Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya agar mereka tidak sekali-kali mengambil sesuatu yang pernah diberikan atau dihadiahkannya kepada orang lain. Karena perbuatan ini sama saja dengan tabiat anjing yang terkadang menjilat kembali muntahannya.
Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bersumber dari Ibnu Abbas:
ุนููู ุงุจููู ุนูุจููุงุณู ุฑูุถููู ุงููููฐูู ุนูููููู
ูุง ููุงูู ููุงูู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงููููฐูู ุนููููููู ููุณููููู
ู: โููููุณู โููููุง โู
ูุซููู ุงูุณููููุกูุ ุงูููุฐูู ููุนูููุฏู ููู ููุจูุชูููุ ููุงููููููุจู ููุฑูุฌูุนู ููู ููููุฆููู
Artinya: Dari Ibnu Abbas Ra, ia berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: โTidak sepantasnya bagi kita mempunyai sifat buruk. Yakni, mengambil kembali barang pemberian, bagaikan anjing yang menelan kembali muntahannya sendiri.โ (HR. Bukhari)
2. Berlebihan Dalam Berbicara
Sebagaimana yang maโruf, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan cenderung menjerumuskan kepada hal yang dilarang oleh agama. Termasuk juga dalam hal ini, berkaitan dengan berbicara terlalu berlebihan. Karena Nabi Muhammad sendiri menyamakan perilaku orang-orang yang memiliki sifat tersebut seperti dengan sapi.
Seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bersumber dari Abdullah bin Amr:
ุนููู ุนูุจูุฏู ุงููููฐูู ุจููู ุนูู
ูุฑููุ ุฃููู ุฑูุณููููู ุงููููฐูู ุตููููู ุงููููฐูู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููุงูู: โุฅููู โุงููููฐูู โููุจูุบูุถู โุงูุจููููุบู ู
ููู ุงูุฑููุฌูุงูู ุงูููุฐููู ููุชูุฎูููููู ุจูููุณูุงูููู ููู
ูุง ุชูุชูุฎูููููู ุงูุจูููุฑูุฉู
Artinya: Dari Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: โSesungguhnya Allah SWT membenci laki-laki yang pandai berbicara, yang menggerakkan lidahnya seperti sapi.โ (HR. At-Tirmidzi)
Syekh Hasan bin โAli al-Fayumi dalam kitab Fathul Qarib al-Mujib โalat Targhib wat Tarhib menjelaskan bahwa maksud dari hadits tersebut ialah, Nabi Muhammad SAW melarang umatnya berlebihan dalam berbicara sehingga mulutnya berbuih, seperti sapi yang sedang makan rumput. Dan ia berharap supaya dirinya dipuji. (Fathul Qarib al-Mujib โalat Targhib wat Tarhib [Riyadh, Maktabah Darussalam, 2018] jilid 11, hal. 49)
Lebih luas lagi, maksud dari menggerakkan lidah seperti dalam hadits tersebut ialah seseorang tidak boleh terlalu memainkan lidahnya agar terlihat kepandaiannya ketika berbicara. Yakni, dengan memutar-mutarkannya di sekitar area gigi. (Ali bin Muhammad, Mirqatul Mafatih Misykatul Mashabih, [Beirut: Darul Fikr, 2002] jilid VIII, hal. 3020)
3. Dalam Gerakan Shalat
Selain dari kedua perbuatan di atas, nasihat Nabi Muhammad untuk tidak menyerupai hewan juga ditekankan ketika proses pelaksanaan sholat. Dalam keterangan ini, Nabi melarang umatnya untuk menyerupai anjing ketika sujud.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bersumber dari Anas:
ุนููู ุฃูููุณู ููุงูู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงููููฐูู ุตููููู ุงููููฐูู ุนููููููู ููุณููููู
ู: โุงุนูุชูุฏููููุง โููู ุงูุณููุฌููุฏูุ ููููุง ููุจูุณูุทู ุฃูุญูุฏูููู
ู ุฐูุฑูุงุนููููู ุงููุจูุณูุงุทู ุงููููููุจู
Artinya: Dari Anas, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: โSeimbanglah dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan lengannya seperti anjing.โ (HR. Bukhari)
Syekh Mazharuddin Az-Zaidani dalam kitab Al-Mafatih Syarhul Mashabih menjelaskan, bahwa maksud dari โmembentangkan lengannya seperti anjingโ dalam hadits tersebut ialah meletakkan atau menempelkan kedua telapak tangan dan kedua sikunya ke lantai. (Al-Mafatih Syarhul Mashabih, [Kuwait: Darunnawadir, 2012] jilid 2, hal. 149)
Selanjutnya, dalam shalat juga Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk tidak menyerupai gagak, duduk seperti hewan buas, dan tidak mau berpindah-pindah tempat tatkala di dalam masjid seperti unta. Sebagaimana dalam hadits dijelaskan:
ุนููู ุนูุจูุฏู ุงูุฑููุญูู
ููู ุจููู ุดูุจููู ููุงูู: ููููู ุฑูุณูููู ุงููููฐูู ุตููููู ุงููููฐูู ุนููููููู ููุณููููู
ู ุนููู ุซูููุงุซู: โุนููู โููููุฑูุฉู โุงููุบูุฑูุงุจูุ ููุนููู ููุฑูุดูุฉู ุงูุณููุจูุนูุ ููุฃููู ูููุทููู ุงูุฑููุฌููู ุงููู
ูููุงูู ุงูููุฐูู ููุตููููู ููููู ููู
ูุง ูููุทููู ุงููุจูุนููุฑู
Artinya: Dari Abdurrahman bin Syibl, ia berkata: bahwasanya Rasulullah SAW melarang (umatnya) dari tiga perkara: 1) mematuk seperti gagak, 2) duduk seperti hewan buas, 3) menetap di satu tempat sholat seperti unta. (HR. Ibnu Majah)
Ath-Thaibi dalam kitab Al-Kasyif โan Haqaiqis Sunan menjelaskan bahwa maksud dari mematuk seperti gagak adalah terlalu cepat ketika sujud dalam sholat. Seakan-akan meletakkan berdiam sejenak (menempelkan kening) bagaikan gagak yang menempelkan paruhnya terhadap makanan yang hendak disantapnya.
Selanjutnya, โDuduk seperti hewan buasโ maksudnya adalah meletakkan kedua lengan bawahnya menempel ke lantai ketika sujud. Kemudian, โmenetap di satu tempat seperti untaโ maksudnya ialah menentukan tempat khusus di masjid bagi dirinya sendiri bagaikan unta yang mendiam. (Al-Kasyif โan Haqaiqis Sunan, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, 2013] jilid 2, halaman 415)
Tidak hanya itu, Rasulullah juga tidak membolehkan umatnya menyerupai kuda ketika hendak selesai shalat. Sebagaimana dalam hadits:
ุนููู ุฌูุงุจูุฑู ุจููู ุณูู
ูุฑูุฉู ููุงูู:โูููููุง โุฅูุฐูุง โุตููููููููุง โู
ูุนู โุฑูุณูููู ุงููููฐูู ุตููููู ุงููููฐูู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููููููุง: ุงูุณููููุงู
ู ุนูููููููู
ู ููุฑูุญูู
ูุฉู ุงููููฐูู ุ ุงูุณููููุงู
ู ุนูููููููู
ู ููุฑูุญูู
ูุฉู ุงููููฐูู ุ ููุฃูุดูุงุฑู ุจูููุฏููู ุฅูููู ุงููุฌูุงููุจูููููุ ููููุงูู ุฑูุณูููู ุงููููฐูู ุตููููู ุงููููฐูู ุนููููููู ููุณููููู
ู: ุนูููุงู
ู ุชูููู
ูุฆููููู ุจูุฃูููุฏููููู
ู ููุฃููููููุง ุฃูุฐูููุงุจู ุฎููููู ุดูู
ูุณู ุฅููููู
ูุง ููููููู ุฃูุญูุฏูููู
ู ุฃููู ููุถูุนู ููุฏููู ุนูููู ููุฎูุฐูููุ ุซูู
ูู ููุณููููู
ู ุนูููู ุฃูุฎูููู ู
ููู ุนูููู ููู
ูููููู ููุดูู
ูุงูููู
Artinya: Dari Jabir bin Samurah, ia berkata: ketika kami sholat bersama Rasulullah SAW, pada saat kami mengucapkan โAssalamuโalaikum warahmatullah.. Assalamuโalaikum warahmatullah (selesai shalat)โ Rasulullah memberikan isyarat dengan tangannya ke kiri dan ke kanan, seraya berkata, โAtas dasar apa kalian memberi isyarat dengan tangan kalian seperti ekor kuda yang bergerak-gerak? Padahal cukuplah seseorang di antara kalian meletakkan tangannya di atas pahanya, kemudian ia mengucapkan salam kepada saudaranya yang di kanan dan kiri.โ (HR. Muslim)
Al-Qurthubi menjelaskan dalam kitab Al-Mufhim Lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, bahwa maksud dari hadits ini ialah Rasulullah melarang untuk mengisyaratkan (menggerakkan) tangan ke arah kanan dan kiri ketika salam saat shalat. Seperti gerakan ekor kuda yang mengibas ke kanan dan kiri. Serta hadits ini menjelaskan tentang ketenangan ketika shalat.
Selain itu, hadits ini juga merupakan landasan argumentatif dari Abu Hanifah dalam menetapkan hukum, bahwa hukum sholat (sah atau tidak) itu berlaku sampai rukun salam. Apabila seseorang berhadats (misalnya), ketika duduk tasyahud akhir sebelum salam, maka shalatnya tidak sah. (Al-Mufhim Lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1996] jilid II, halaman 61).
Demikianlah penjelasan mengenai nasihat Nabi Muhammad SAW tentang tiga perbuatan yang menyerupai sifat hewan dan dilarang secara tegas. Kita dilarang mengambil kembali pemberian yang telah diberikan kepada orang lain, karena perbuatan tersebut serupa dengan tabiat anjing yang menjilat kembali muntahannya.
Selain itu, kita juga tidak boleh berlebihan dalam berbicara dengan niat sombong. Sebab hal itu membuat kita serupa dengan sapi. Serta kita harus memperhatikan setiap gerakan dalam shalat sesuai ketentuan yang berlaku. Wallahuaโlam.
Ustadzย Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Masyarakat Adat Kalimantan Timur Ungkap Penolakan Proyek Karbon Bank Dunia
3
Khutbah Jumat: Makna Kemerdekaan yang Hakiki dalam Islam
4
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
5
Innalillah, Sesepuh Buntet Pesantren KH Hasanuddin Kriyani Wafat
6
Gus Yahya Lepas Jenazah KH Hasanuddin Kriyani di RSPAD, Kenang sebagai Panutan Umat
Terkini
Lihat Semua