Ilmu Tauhid

Membuktikan Eksistensi Tuhan dalam Teologi Islam

NU Online  ·  Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:59 WIB

Membuktikan Eksistensi Tuhan dalam Teologi Islam

Eksistensi Tuhan

Kreator konten TikTok berakun @callmeibraaaaa (Ibra) menuai sorotan publik dan perdebatan luas di media sosial setelah mengaku tidak percaya pada keberadaan Tuhan karena belum menemukan bukti empiris yang meyakinkan.

 

Dalam videonya, ia menantang agar diberikan tanda atau bukti, misalnya melalui pengiriman sinyal inframerah ke satelit NASA disertai pesan langsung dari Tuhan. Ia menyebut dirinya sebagai diagnostic atheist atau agnostik ateis, yakni seseorang yang memerlukan bukti nyata sebelum mempercayai sesuatu.


Pernyataan tersebut kemudian menimbulkan sebuah pertanyaan mendasar: jika keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen dan pengamatan indrawi secara langsung, bagaimana teologi Islam membuktikan keberadaan Tuhan?

 

Pertanyaan ini sebenarnya membawa kita kepada persoalan yang lebih fundamental: apakah semua pengetahuan tentang sesuatu harus diperoleh melalui bukti empiris?


Jawabannya adalah tidak. Tidak semua kebenaran harus dibuktikan secara empiris. Hal pertama yang perlu dipahami ialah bahwa tidak setiap kebenaran harus dibuktikan melalui pengamatan indrawi dan eksperimen laboratorium. Dalam epistemologi, terdapat berbagai jalan manusia memperoleh pengetahuan.


Sebagian pengetahuan diperoleh melalui pengalaman indrawi (hiss), sebagian melalui berita yang benar (khabar shadiq), dan sebagian lainnya diperoleh melalui akal (‘aql). Bahkan, terdapat pengetahuan yang oleh manusia diterima secara langsung dan pasti sehingga tidak membutuhkan proses pembuktian panjang. 

 

Dalam tradisi keilmuan Islam, pengetahuan semacam ini dikenal sebagai ilmu dharuri, yaitu pengetahuan yang diperoleh secara niscaya dan tidak bergantung pada proses penalaran yang panjang.


Contoh sederhananya adalah pengetahuan mengenai keberadaan diri sendiri. Seseorang mungkin meragukan berbagai hal di luar dirinya. Ia dapat bertanya apakah benda yang dilihatnya benar-benar ada, apakah pengalamannya akurat, atau apakah indranya dapat dipercaya. Namun ketika seseorang mengatakan, “Saya sedang berpikir,” maka dalam aktivitas berpikir itu sendiri terdapat kesadaran mengenai keberadaan dirinya.


Demikian pula dengan konsep wujud atau keberadaan. Sebelum manusia membicarakan apakah sesuatu ada atau tidak ada, ia telah terlebih dahulu memahami konsep “ada” dan “tidak ada”.


Contoh lainnya adalah pengetahuan bahwa satu merupakan setengah dari dua. Kebenaran tersebut tidak memerlukan eksperimen laboratorium. Kita tidak perlu mengambil dua benda, membelahnya, kemudian mengulang percobaan berkali-kali untuk mengetahui bahwa 1 adalah setengah dari 2.


Akal menerimanya berdasarkan hubungan yang niscaya antara konsep-konsep tersebut.
Dalam ilmu logika Islam (manthiq), ilmu dharuri atau pengetahuan aksiomatis antara lain dijelaskan:


ويقال له: الفطري سواء إفتقر إلى حدس أو تجربة أم لا، كتصور وجودك، وكإدراك مفهوم الوجود، والشيء بالنظر لمقابلهما، وكإدراك الواحد نصف الإثنين

 

Artinya: “Disebutkan mengenai ilmu dharuri: ia adalah ilmu yang bersifat fitri, baik membutuhkan intuisi atau pengalaman maupun tidak, seperti pemahaman tentang keberadaan dirimu, pemahaman mengenai konsep wujud, dan sesuatu yang berlawanan dengannya, serta pemahaman bahwa satu adalah setengah dari dua.” (Syihabuddin Ahmad al-Malawi, Asy-Syarhul Kabir ‘ala as-Sullam al-Munawraq, (Kuwait: Dar ad-Dhiya’, 2019), hlm. 144).

 

Dengan demikian, menuntut agar seluruh kebenaran harus terlebih dahulu dibuktikan melalui pengamatan empiris sebenarnya merupakan sebuah asumsi epistemologis, bukan hukum universal bagi seluruh pengetahuan. Bahkan, asumsi tersebut tidak dapat dibuktikan hanya dengan metode empiris.

 

Persoalan Eksistensi Tuhan Adalah Persoalan Metafisis

 

Di sinilah persoalan eksistensi Tuhan harus ditempatkan secara tepat. Tuhan dalam teologi Islam bukanlah benda material yang berada di dalam ruang, menempati volume tertentu, memiliki massa, atau bekerja seperti objek fisik lainnya.

 

Karena itu, pertanyaan seperti “Di mana Tuhan secara fisik?”, “Berapa ukuran Tuhan?”, “Apa warna Tuhan?”, atau “Mengapa Tuhan tidak dapat ditangkap kamera?” sejak awal mengandung kesalahan kategori.


 

Sebab, instrumen empiris dirancang untuk mengamati fenomena yang memiliki karakter empiris. Sedangkan Tuhan, dalam konsep tauhid Islam, bukan bagian dari alam material.
Dengan kata lain, ketidakmampuan mikroskop, kamera, teleskop, satelit, atau laboratorium untuk menangkap Tuhan tidak membuktikan ketiadaan Tuhan.


Sama seperti ketidakmampuan timbangan untuk mengukur kebenaran sebuah proposisi matematika tidak membuktikan bahwa proposisi matematika tersebut tidak benar.

 


Syekh Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi menjelaskan:


وجود الله عز وجل : دعوى علمية تتعلق من العلم بجانب لا يخضع للتجربة والمشاهدة


Artinya: “Eksistensi Allah ‘Azza wa Jalla merupakan persoalan ilmiah yang berkaitan dengan wilayah pengetahuan yang tidak tunduk kepada eksperimen dan pengamatan indrawi.” (Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1997), hlm. 78).

 

Poin pentingnya adalah bahwa tidak empiris bukan berarti tidak rasional. Sebuah kesimpulan dapat bersifat rasional meskipun objek yang disimpulkan tidak menjadi objek pengamatan indrawi secara langsung.


Justru dalam banyak persoalan, manusia mengetahui sesuatu melalui efek, konsekuensi, atau tanda-tanda yang ditimbulkannya. Kita tidak melihat “akal” sebagai benda yang memiliki warna dan bentuk tertentu, tetapi kita mengetahui adanya kemampuan rasional melalui aktivitas berpikir.


Kita tidak melihat hukum logika sebagai benda material, tetapi kita menggunakannya untuk membedakan argumentasi yang benar dan salah.


Demikian pula, teologi Islam tidak mengatakan bahwa manusia melihat Tuhan melalui indra lalu menyimpulkan bahwa Tuhan ada. Sebaliknya, manusia menalar dari keberadaan makhluk menuju keberadaan Sang Pencipta.


Setidaknya terdapat dua prinsip rasional yang dapat menjadi dasar pembuktian keberadaan Tuhan tanpa harus bergantung pada pengamatan empiris secara langsung. 

 

Pertama, prinsip bahwa sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk ada dan tidak ada membutuhkan faktor yang menentukan keberadaannya. Kedua, hukum kausalitas yang dapat ditunjukkan melalui keteraturan dan keterkaitan berbagai unsur dalam alam semesta.

 

Pembuktian yang pertama, kita melihat alam semesta ini mengalami perubahan, memiliki permulaan, dan tidak kekal. Dengan demikian, alam semesta bukan sesuatu yang wajib ada dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang keberadaannya dapat dipahami sebagai sesuatu yang mungkin ada dan mungkin tidak ada.

 

Jika demikian, keberadaan alam semesta membutuhkan faktor yang menentukan salah satu dari dua kemungkinan tersebut. Sebab, sesuatu yang memiliki kemungkinan yang sama untuk ada dan tidak ada tidak mungkin menentukan dirinya sendiri untuk menjadi ada. Ia membutuhkan kekuatan luar yang memberikan penentuan sehingga keberadaannya terwujud. Dan kekuatan itulah yang diyakini sebagai Tuhan.

 

Mungkin saja timbul pernyataan, “salam semesta ini ada dengan sendirinya tanpa butuh kekuatan yang mempengaruhi dari luar” maka anggapan tersebut mengharuskan bahwa sesuatu dapat menjadi lebih unggul dari sisi yang lain tanpa faktor yang membuatnya unggu. Dan ini mustahil.

 

Pembuktian yang kedua dapat dilihat melalui keteraturan dan keterkaitan sebab-akibat yang terdapat dalam alam semesta. Untuk memahaminya, kita dapat mengambil contoh sederhana berupa jam. Sebuah jam memiliki berbagai bagian kecil yang tersusun secara teratur dan saling berkaitan. Setiap bagian memiliki fungsi tertentu dan bekerja bersama bagian lainnya sehingga jam dapat menunjukkan waktu sebagaimana mestinya.

 

Ketika melihat keteraturan tersebut, kita tidak akan menganggap bahwa susunan berbagai komponen jam terjadi secara kebetulan tanpa adanya pihak yang merancang dan menyusunnya. Keteraturan fungsi setiap bagian justru menunjukkan adanya perancang yang memahami tujuan dan mengatur setiap komponen agar dapat bekerja secara bersama-sama.

 

Jika demikian, bagaimana dengan alam semesta yang jauh lebih kompleks? Ketika kita memperhatikan alam semesta, kita menemukan keteraturan dalam hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Keteraturan tersebut juga tampak pada struktur yang lebih kecil hingga pada tingkat atom dan berbagai unsur penyusun materi. Masing-masing memiliki karakteristik dan hubungan tertentu yang memungkinkan terbentuknya sistem yang sangat kompleks.

 


Kita juga melihat bahwa berbagai bagian alam semesta saling berkaitan dan menjalankan fungsi masing-masing dalam suatu sistem yang lebih luas. Keseluruhan unsur tersebut membentuk keteraturan yang berlangsung menurut hukum dan ketentuan tertentu.


Jika keteraturan pada sebuah benda sederhana seperti jam mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa ada perancang yang menyusunnya, maka alam yang jauh lebih kompleks juga pasti ada yang merancang dan menyusunnya.


 

Bila demikian, siapakah aktor yang membuat semuanya ada dari tiada? Siapakah yang merancang dan membentuk seluruh karakter yang kita lihat di setiap hal di jagat raya ini?

 

Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Meskipun Tuhan tidak pernah menampakkan diri-Nya, tetapi kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan itulah penyebab utama dari segala keberadaan di alam semesta. Keberadaannya adalah pasti dan tak bisa didebat lagi.


 

Inilah yang dalam pembahasan ilmu kalam dikenal sebagai dalil al-‘illah al-gha’iyyah atau dalil hikmah dan keteraturan alam. Dalil ini bertolak dari pengamatan terhadap keteraturan dan tujuan yang terdapat pada berbagai fenomena alam, kemudian mengantarkan pada kesimpulan tentang adanya sebab yang mengatur dan memberikan tujuan tersebut.


Syekh Romadhon al-Buthi menjelaskan:

 


فهذه هي الحقيقة البديهية التي يطلق عليها اسم : دليل العلة الغائية أو دليل الحكمة والنظام في الشيء . وهي أصل في مسألة الدليل على وجود الله ، يقوم على علة مؤثرة ثابتة بالاستقراء التام .

 

Artinya, “Inilah kebenaran aksiomatis yang disebut sebagai dalil ‘illah ghā’iyyah atau dalil hikmah dan keteraturan pada sesuatu. Dalil ini merupakan salah satu dasar dalam pembuktian keberadaan Allah, yang bertumpu pada adanya sebab yang berpengaruh dan ditetapkan melalui metode induksi yang sempurna.” (Syekh Romadhon al-Buhti, Kubra Yakiniyat al-Kauniyyat, [Damaskus, Darul Fikr: 1997], halaman 90)

 

Dengan demikian, Menurut teologi Islam, pembuktian keberadaan Tuhan melalui dalil aqli (akal rasional) dan pengetahuan aksiomatis, seperti lewat konsep keniscayaan wujud dan keteraturan alam , sudah sangat kokoh, logis, dan tuntas secara epistemologis.

 


Pendekatan empiris yang menuntut bukti materiil, kasat mata, atau uji laboratorium langsung terhadap Tuhan dari dulu sampai kapanpun tidak akan pernah ketemu titik temunya. Mengapa? Karena Tuhan bukan bagian dari objek material atau fisik yang tunduk pada hukum eksperimen indrawi. Waallahu a’lam.


------------
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan