Ilmu Tauhid

Paganisme Pra-Islam: Menyembah Berhala Atau Menjadikannya Wasilah?

NU Online  ·  Selasa, 24 Februari 2026 | 06:30 WIB

Paganisme Pra-Islam: Menyembah Berhala Atau Menjadikannya Wasilah?

Ilustrasi situs sejarah. Sumber: Canva/NU Online.

Kondisi kehidupan Arab menjelang kelahiran Islam dikenal dengan sebutan zaman jahiliyah. Hal ini dikarenakan kondisi sosial politik dan keagamaan rakyat Arab pada waktu itu. Hal tersebut ditimbulkan lantaran pada masa sebelum Islam lahir, Arab tidak mempunyai nabi, kitab suci, ideologi, kepercayaan, serta tokoh besar yang membimbing mereka.


Terdapat empat kepercayaan yang ada pada masyarakat Arab pra-Islam. Paganisme pada masa pra-Islam merupakan salah satu dari empat kepercayaan yang ada pada masyarakat pra-Islam selain fatalisme, kepercayaan kepada Allah dan monotheisme. (Rizka Damayanti, Ellya Roza, "Sistem Kepercayaan Paganisme Masyarakat Arab Pra-Islam," TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 8 (1), 83-96)


Meski demikian, menurut catatan sejarah, pada mulanya, bangsa Arab merupakan penganut agama hanif Nabi Ibrahim lewat Nabi Ismail as sebagai nenek moyang mereka. Seiring berjalannya waktu, kebathilan dan kesyirikan masuk dan merusak ajaran agama hanif Nabi Ibrahim. 


Menurut Ibnu Katsir dalam catatannya, paganisme atau penyembahan berhala pada bangsa Arab dibawa oleh Amr bin Luhay sekembalinya ia dari Syam.


قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: حَدَّثَنِي بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ عَمْرَو بْنَ لُحَيٍّ خَرَجَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الشَّامِ فِي بَعْضِ أُمُورِهِ فَلَمَّا قَدِمَ مَآبَ مِنْ أَرْضِ الْبَلْقَاءِ وَبِهَا يَوْمَئِذٍ الْعَمَالِيقُ وَهُمْ وَلَدُ عِمْلَاقٍ وَيُقَالُ وَلَدُ عِمْلِيقَ بْنِ لَاوَذَ بْنِ سَامِ بْنِ نُوحٍ رَآهُمْ يَعْبُدُونَ الْأَصْنَامَ فَقَالَ لَهُمْ مَا هَذِهِ الْأَصْنَامُ الَّتِي أَرَاكُمْ تَعْبُدُونَ؟ قَالُوا لَهُ: هَذِهِ أَصْنَامٌ نَعْبُدُهَا فَنَسْتَمْطِرُهَا فَتُمْطِرُنَا وَنَسْتَنْصِرُهَا فَتَنْصُرُنَا فَقَالَ لَهُمْ: أَلَا تُعْطُونِي مِنْهَا صَنَمًا فَأَسِيرُ بِهِ إلى أرض العرب فيعبدونه فَأَعْطَوْهُ صَنَمًا يُقَالَ لَهُ هُبَلُ فَقَدِمَ بِهِ مَكَّةَ فَنَصَبَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِعِبَادَتِهِ وَتَعْظِيمِهِ

 

Artinya: “Ibnu Hisyam berkata: sebagian cendekiawan menceritakan kepadaku bahwa Amr bin Luhay pergi dari Mekkah menuju Syam untuk beberapa keperluan. Ketika ia sampai ke daerah (Ma’ab) dari tanah Al-Balqa. Pada saat itu terdapat anak keturunan Amlaq. Ada juga yang mengatakan: Amliq bin Laudz bin Sam bin Nuh- Amr melihat mereka menyembah berhala. 


Amr berkata kepada mereka: “berhala apa ini yang kalian sembah?”. “Ini adalah berhala yang kami sembah karena ketika kami meminta hujan, mereka menurunkan hujan untuk kami, dan ketika kami meminta pertolongan, mereka menolong kami,” jawab mereka. “Apakah kalian tidak memberikan kami berhala, sehingga aku bawa ke Tanah Arab agar mereka (bangsa Arab) menyembahnya?” pinta Amr. Kemudian mereka memberikan Amr berhala yang bernama (Hubal). Ia membawanya ke Mekah dan memerintahkan masyarakat menyembahnya dan mengagungkannya”. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, [Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, 1988], juz II hal 237).


Dalam perjalanannya, terdapat 3 berhala paling besar yang berada pada bangsa Arab saat itu. Manat milik Hudzail dan Khuzaah yang diletakkan di Musyallal di tepian pantai yang sejajar dengan Qudaid. Latta di daerah Thaif, milik Bani Tsaqif, diletakkan di menara masjid Thaif bagian kiri. Kemudian Uzza milik Bani Quraish, Kinanah serta kabilah lain yang diletakkan di Wadi Nakhlah As-Syamiah di atas Dzatu Irq. (Syafiyurrahman Al-Mubarukfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, [Riyadh, Muntada al-Tsaqafa, 2013], hal 35).


Paganisme Pra-Islam: Menyembah Atau Menjadikannya Wasilah?

Paganisme yang dilakukan masyarakat Arab pra-Islam bukan hanya menjadikannya perantara kepada Allah, melainkan menyekutukan Allah dengan menyembah selain-Nya. Masyarakat Arab pada saat itu berprasangka bahwa tidak seyogyanya menyembah Allah secara langsung. 


Pada mulanya mereka mempercayai bahwa para malaikat, rasul, nabi, dan hamba-hamba Allah yang shalih dari para wali, orang-orang yang bertakwa dan melakukan amal baik  merupakan makhluk yang dekat dan memiliki kedudukan tinggi di sisi-Nya. Sehingga kemudian bangsa Arab saat itu menjadikan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara membuat patung-patung yang mereka bayangkan. 


Mereka menyembahnya dan menjadikannya sekutu bagi Allah dan menganggapnya tidak mengubah agama Nabi Ibrahim. Mereka menyangka berhala-berhala tersebut dapat menjadi perantara kepada Allah. (Rahiq al-Makhtum, hlm. 37).


Terkait hal ini, Muhammad Husain Haikal, sejarawan asal Mesir dalam bukunya Hayatu Muhammad berkata:


وهذه الأصنام جميعًا، سواء منها ما كان بالكعبة أو حولها وما كان في مختلف جهات بلاد العرب وبني مختلف قبائلها، كانت تعتبر الوسيط بين عبادها وبين الإله الأكبر. وكان العرب لذلك يعتبرون عبادتهم إياها زلفى يتقربون بها إلى الله وإن كانوا قد نسوا عبادة الله لعبادتهم هذه الأصنام


Artinya: "Seluruh berhala ini, baik yang berada di dalam Ka'bah atau di sekelilingnya dan yang berada di berbagai macam penjuru negara Arab dan berbagai kabilah dianggap sebagai perantara antara hamba dan Tuhannya yang Agung. Bangsa Arab pada saat itu menganggap menyembah berhala-berhala tersebut sebagai perantara untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Meski pada akhirnya mereka lupa menyembah Allah dikarenakan menyembah berhala-berhala ini". (Muhammad Husain Haikal, Hayatu Muhammad, [Kairo, Muassasah Handawi litta'lim watsaqafah, 2012], hal 97)


Setelah datangnya Islam, lewat Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa praktik penyembahan berhala yang dilakukan oleh bangsa Arab merupakan bentuk kesyirikan dan sama sekali tidak bisa mendekatkan kepada-Nya. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 3:


اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُۗ وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

 

Artinya: “Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar. (Qs. Az-Zumar: 3).


Terkait hal ini, lewat ayat di atas, Syekh Nawawi Banten menjelaskan bagaimana prasangka bangsa Arab yang menganggap praktik penyembahan berhala merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. 


أي والمشركون الذي عبدوا من غير الله أربابا ملائكة وعيسى وعزيرا، والأصنام، والشمس، والقمر، والنجوم يقولون: ما نعبدهم إلّا ليقربونا إلى الله في المنزلة

 

Artinya: “Orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah dan menjadikannya Tuhan, baik malaikat, Isa, Uzair, berhala-berhala, matahari, bulan dan bintang-bintang, mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka kecuali dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah’.”. (Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz II, hal 324).


Kesimpulannya, praktik paganisme bangsa Arab pra-Islam tidak hanya sekadar menjadikan berhala sebagai perantara. Melainkan menyembah mereka dengan menjadikannya sekutu bagi Allah SWT.


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis tinggal di Indramayu.