Ilmu Tauhid

Pembantaian Karbala dan Politisasi Takdir

NU Online  ·  Rabu, 8 April 2026 | 06:00 WIB

Pembantaian Karbala dan Politisasi Takdir

Ilustrasi kaligrafi Ali dan Husain. Sumber: Canva/NU Online.

Tragedi Karbala menjadi catatan kelam tentang pembantaian keluarga Nabi, sekaligus sebagai tonggak awal dari pergolakan teologis terbesar dalam sejarah Islam. Darah suci Sayyidina Husain bin Ali RA dan keluarganya yang tertumpah di padang Taff pada 10 Muharram 61 H (680 M) memantik pertanyaan kalamiyyah yang begitu serius: Mengapa Allah membiarkan kekasih-Nya, cucu Nabi-Nya, dibantai dengan cara yang begitu tragis?


Pertanyaan ini mau tidak mau menyeret umat ke dalam pusaran perdebatan masalah Qada dan Qadar. Di sinilah sejarah mencatat bagaimana sebuah tragedi kemanusiaan dimanipulasi menjadi alat pelanggengan kekuasaan.


W. Montgomery Watt dalam karyanya The Formative Period of Islamic Thought memberikan ulasan bahwa Bani Umayyah secara sistematis mengeksploitasi doktrin predestinasi atau Jabariyyah sebagai alat legitimasi politik.

 

Mereka mengampanyekan gagasan kekuasaan mereka dan segala tindakan kejam yang menyertainya, termasuk pembantaian di Karbala, adalah ketetapan mutlak dari Allah yang tidak dapat dilawan. Doktrin ini bertujuan untuk membungkam pemberontakan, dengan narasi logis yang dipaksakan: menentang ketetapan Umayyah berarti menentang takdir Tuhan (lihat: The Formative Period of Islamic Thought, [Edinburgh: Edinburgh University Press, 1973], chapter iv, halaman 82-85).


Doktrin determinisme politik yang dianalisis Watt ini dicatat rapi oleh Al-Baladhuri melalui dialog historis di istana Kufah antara Ubaidillah bin Ziyad dan Ali Zainal Abidin, putra Husain yang selamat:


فَقَالَ لَهُ (ابن زياد): أَلَمْ يَقْتُلِ اللَّهُ عَلِيَّ بْنَ الْحُسَيْنِ؟ فَقَالَ: كَانَ أَخِي يُقَالُ لَهُ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ وَإِنَّمَا قَتَلَهُ النَّاسُ، قَالَ: بَلْ قَتَلَهُ اللَّهُ. فصاحت زينب بنت علي: يا بن زياد، حسبك من دمائنا


Artinya: "Maka Ibnu Ziyad berkata kepadanya: 'Bukankah Allah yang telah membunuh Ali bin Husain Ali al-Akbar?' Ali Zainal Abidin menjawab: 'Aku memiliki seorang saudara bernama Ali bin Husain, dan sesungguhnya orang-oranglah yang telah membunuhnya.' Ibnu Ziyad membantah: 'Tidak, Allahlah yang membunuhnya!'. Maka Zainab binti Ali berteriak: 'Wahai Ibnu Ziyad, cukuplah bagimu darah kami yang telah tertumpah!'" (Ansab al-Ashraf, [Beirut: Dar al-Fikr, 1996], Juz 3, halaman 412).


Perdebatan tentang takdir ini berlanjut hingga ke Istana Damaskus. Saat dihadapkan kepada Yazid bin Muawiyah, Yazid kembali menggunakan argumen takdir Tuhan untuk membenarkan kejahatan militernya:


وَلَمَّا أُدْخِلَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ عَلَى يَزِيدَ قَالَ: يَا حَبِيبُ. إِنَّ أَبَاكَ قَطَعَ رَحِمِي وَظَلَمَنِي فَصَنَعَ اللَّهُ بِهِ مَا رَأَيْتَ، فَقَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ: {مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا}


Artinya: "Dan tatkala Ali bin Husain dimasukkan ke hadapan Yazid, Yazid berkata: 'Wahai kekasihku, sesungguhnya ayahmu telah memutus tali silaturahimku dan menzalimiku, maka Allah berbuat kepadanya sebagaimana yang engkau lihat.' Maka Ali bin Husain membantahnya dengan membacakan ayat: 'Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya' (QS. Al-Hadid: 22)." (Ansab al-Ashraf, Juz 3, halaman 419).


Dialog-dialog historis ini adalah akar mula perdebatan teologi keadilan Tuhan. Menolak legitimasi Jabariyyah yang menyandarkan kejahatan pada kehendak Tuhan, kelompok mutakallimin, terutama embrio Qadariyyah dan Mu'tazilah kelak berargumen keras tentang af'al al-'ibad dalam hal ini adalah status perbuatan hamba. Mereka menegaskan bahwa pembunuhan Husain murni kejahatan manusia, dan Tuhan Maha Suci dari menzalimi hamba-Nya.


Pembentukan Identitas Sekte

Trauma Karbala, sebagai rentetan dari al-fitnah al-kubra, pada akhirnya mempercepat kristalisasi aliran-aliran teologi. Tragedi ini menjadi garis demarkasi yang melahirkan identitas sekte yang dapat dibilang sangat kaku. 


Abu al-Fath al-Shahrastani dalam mukaddimahnya mengingatkan, bagaimana sengketa politik ini pada akhirnya merobek keutuhan akidah umat:


وَأَعْظَمُ خِلَافٍ بَيْنَ الْأُمَّةِ خِلَافُ الْإِمَامَةِ، إِذْ مَا سُلَّ سَيْفٌ فِي الْإِسْلَامِ عَلَى قَاعِدَةٍ دِينِيَّةٍ مِثْلَ مَا سُلَّ عَلَى الْإِمَامَةِ فِي كُلِّ زَمَانٍ


Artinya: "Perbedaan paling besar di antara umat adalah perbedaan tentang Imamah, yaitu kepemimpinan politik-agama, karena tidak ada sebilah pedang pun yang dihunus dalam Islam atas dasar kaidah agama sebagaimana pedang yang dihunus karena urusan Imamah di setiap zaman." (Al-Milal wa al-Nihal, [Kairo: Muassasah al-Halabi, t.t.], Juz 1, halaman 22).


Dalam bangunan teologi Sunni kontemporer, Karbala diletakkan secara sangat proporsional. Ahlussunnah memandang tragedi ini dengan duka cita mendalam dan melaknat kezaliman, namun menolak menyelundupkan historiografi politik menjadi doktrin akidah dasar. 


W. Montgomery Watt menyoroti bahwa sintesis teologi Asy'ariyah dan Maturidiyah berhasil menyelamatkan mayoritas umat Islam dari jebakan dendam sejarah abadi, dengan merumuskan teologi jalan tengah. (lihat: The Formative Period of Islamic Thought, [Edinburgh: Edinburgh University Press, 1973], chapter x, halaman 311-315).


Tragedi Karbala akan selalu terkenang melampaui batas waktu dan tempat kejadiannya. Peristiwa yang melambangkan catatan kelam perebutan takhta serta laboratorium teologis yang menguji akidah umat Islam tentang keadilan Tuhan, hakikat kesyahidan, dan batas ketaatan. 


Ilmu kalam yang kita warisi hari ini, dengan segala dialektikanya, nyatanya lahir dari upaya keras para ulama membalut luka dan menjawab kebingungan historis yang ditorehkan di padang pasir tersebut. Wallahu a’lam bisshawab.


Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta.