Khutbah

Khutbah Jumat: 3 Elemen Berharga dalam Diri Santri

NU Online  ·  Jumat, 24 Oktober 2025 | 09:15 WIB

Khutbah Jumat: 3 Elemen Berharga dalam Diri Santri

Ilustrasi ngaji. Sumber: Canva/NU Online.

Menjadi santri merupakan perjuangan yang utuh dan menyeluruh dengan 3 elemen utama yakni thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu dengan kesungguhan dan adab), tazkiyatun nafs (penyucian jiwa agar ilmu melahirkan akhlak dan ketulusan), serta jihād fi sabīlillāh (pengorbanan tenaga, waktu, dan pikiran untuk kemaslahatan umat). Ketiga elemen ini menjadikan santri bukan hanya pencari ilmu, tetapi juga pejuang nilai dan pembawa perubahan moral di tengah masyarakat.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: "Khutbah Jumat: 3 Elemen Berharga dalam Diri Santri". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat! (Redaksi).


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ


أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ


قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ، فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 


Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan senantiasa patuh pada perintah-Nya dan tak ada keberanian untuk melakukan apa yang dilarang-Nya. Takwa akan menjadikan kita manusia yang sukses dalam menjalani peran kehidupan karena bisa senantiasa berada pada jalur yang diridhai oleh Allah SWT.


Bagi orang tua, pendidikan keimanan dan ketakwaan harus dimulai sejak dini. Anak-anak kita harus diperkenalkan dengan ilmu-ilmu agama dan keilmuan lainnya, diajari akhlak dan karakter yang kuat, sekaligus mewariskan pesan agar mereka senantiasa mampu menjadi orang yang berguna bagi orang lain.


Penguatan ini bisa kita lakukan dengan mendidik mereka di pesantren yang dalam prosesnya dilakukan dengan tiga elemen berharga yakni thalabul ‘ilmi (mencari ilmu), tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa), dan jihād fī sabīlillāh (berjuang di jalan Allah).


Tiga elemen inilah yang menjadi pondasi eksistensi seorang santri yang beriman dan bertakwa. Santri tidak hanya berpikir dengan akal, tetapi juga mengasah nurani dan membaktikan seluruh tenaganya demi kebaikan umat. Dalam bahasa yang sederhana, santri belajar bukan sekadar untuk tahu, melainkan untuk menjadi.


Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita mengetahui bahwa pesantren adalah lembaga tertua di Nusantara yang menjadi tonggak sejarah pendidikan di Indonesia. Dari pesantrenlah lahir kader-kader yang membentuk peradaban mulia. Dalam konteks elemen thalabul ilmi, di dunia pesantren, ilmu bukan komoditas yang dikejar dan dicari demi gelar atau status, tetapi sebuah kewajiban individu yang telah disabdakan oleh Rasulullah:


طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ


Artinya: ”Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim,” (HR Ibnu Majah).


Bagi santri, ilmu bukan sekadar alat untuk mencari pekerjaan, melainkan sarana beribadah kepada Allah. Santri belajar agar hidupnya bermanfaat, agar pikirannya mampu menjadi kemaslahatan bagi sesama, dan setiap amaliahnya menjadi amal yang saleh. Inilah ilmu yang berharga sebagaimana disebutkan Rasulullah:


إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


Artinya: “Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak,” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).


Selanjutnya dalam elemen tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, seorang santri selalu mengiringi pencarian ilmunya dengan riyādhah dan latihan spiritual. Santri tidak hanya belajar dari buku, tapi juga belajar dari perjuangan hidup melalui berbagai penempaan hawa nafsu seperti kedisiplinan ibadah dan kesederhanaan hidup di pesantren.


Ada kalimat bijak yang menyebutkan “Kalau hanya pandai membaca kitab tapi hatimu gelap, maka belum jadi santri.” Maka, santri belajar menjaga hati dari riya, ujub, dan sombong; menata niat agar setiap amal murni karena Allah. Di sinilah pesantren menjadi sekolah jiwa, tempat santri ditempa agar tidak hanya cerdas, tapi juga bersih batinnya.


Lalu, Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Mengapa pembersihan jiwa begitu penting? Karena ilmu tanpa tazkiyah hanya melahirkan kesombongan intelektual. Sejarah menunjukkan, banyak orang pandai yang justru tergelincir karena hatinya tak terdidik. Santri memahami bahwa ilmu sejati akan menumbuhkan kerendahan hati, bukan arogansi. Itulah sebabnya di pesantren, ibadah dan tirakat berjalan seiring yang menjadikan santri laksana pada yang berbuah. Semakin berisi semakin menunduk.


Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Elemen berharga ketiga yang diperoleh oleh santri adalah jihād fī sabīlillāh. Elemen ini bukan semata-mata perjuangan fisik, melainkan totalitas pengabdian kepada Allah melalui ilmu dan amal. Santri diajarkan untuk berjuang di jalan kebaikan, memperjuangkan kemaslahatan umat, serta menegakkan nilai-nilai keadilan dan kasih sayang.


Dari konteks Sejarah Indonesia, kita tahu bahwa banyak ulama dan santri yang menjadi pejuang kemerdekaan. Hal ini terbukti dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang tidak terlepas dari peran santri. Pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri sebagai wujud apresiasi peran santri dalam perjuangan kemerdekaan.


Kita tahu bahwa kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta pada 17 Agustus 1945. Namun dua bulan setelah itu, sekutu kembali lagi ke untuk menjajah Indonesia. Melihat kondisi ini, KH Hasyim Asy’ari mengobarkan semangat para santri untuk membela tanah air melalui Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945. Dalam Resolusi tersebut ditegaskan bahwa jihad mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban bagi setiap umat Islam. Maka pada 10 November 1945 terjadilah peperangan di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.


Dari sejarah ini, kita tahu bahwa ujian pertama bangsa Indonesia setelah kemerdekaan adalah di Surabaya dan yang mengerjakan ujian dan bisa lulus adalah para santri.


Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikian tadi 3 elemen berharga yang dimiliki oleh santri dalam perjalanannya membentuk karakter diri. Semoga kita bisa menjadikan diri kita santri-santri modern yang senantiasa terus mencari ilmu, menyucikan diri, dan senantiasa memiliki komitmen dalam jihad memperbaiki kondisi menuju arah kebaikan. Allah berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”


بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ


فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ


عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.