Nasional

Kerusakan Lingkungan Tak Pernah Netral Gender, Perempuan Menanggung Beban Terberat

NU Online  ยท  Jumat, 24 April 2026 | 09:00 WIB

Kerusakan Lingkungan Tak Pernah Netral Gender, Perempuan Menanggung Beban Terberat

Gambar hanya sebagai ilustrasi berita. (Foto: freepik)

Jakarta, NU Online

Pimpinan Eco-Dormitory Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Nafidah Inarotul Huda, mengungkapkan bahwa kerusakan lingkungan tidak pernah bersifat netral gender. Dampaknya dirasakan secara tidak merata, dan perempuan kerap menjadi kelompok yang paling rentan.


โ€œDalam situasi krisis ekologis seperti bencana alam, perempuan justru berada di garis depan, mereka justru menanggung beban berat karena berinteraksi langsung dengan sumber daya alam seperti air, pangan, dan energi domestik,โ€ ujar Nafidah dalam Webinar bertajuk Perempuan & Ekologi: Mewarisi Semangat Kartini, Merawat Kelestarian Bumiย yang digelarย pada Kamis (23/4/2026).


Ia menjelaskan bahwa ketika lingkungan mengalami kerusakan, perempuan menghadapi tekanan berlapis. Selain beban domestik yang meningkat, perempuan juga kerap mengalami keterbatasan akses terhadap informasi, mobilitas, serta pengambilan keputusan.


โ€œKondisi ini memperbesar risiko keselamatan, bahkan dalam situasi bencana alam, perempuan lebih rentan mengalami luka atau kehilangan nyawa,โ€ ucapnya.


Nafidah juga menyoroti perspektif ekofeminisme yang melihat adanya keterkaitan antara eksploitasi alam dan penindasan terhadap perempuan.


โ€œEkofeminisme memandang bahwa sistem patriarki dan kapitalisme menggunakan logika dominasi yang menempatkan perempuan dan alam sebagai objek yang bisa dikendalikan demi keuntungan ekonomi,โ€ jelasnya.


Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dampak krisis lingkungan tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan. Dalam situasi krisis iklim, perempuan menghadapi risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, termasuk meningkatnya angka kelahiran mati (stillbirth) akibat paparan panas ekstrem.


โ€œKetimpangan ini semakin mempertegas bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan keadilan sosial dan gender,โ€ katanya.


Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat luas.


โ€œKerusakan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial. Perempuan seringkali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, padahal mereka yang paling terdampak. Ini harus menjadi perhatian bersama,โ€ tegasnya.


Nafidah menekankan bahwa upaya pemulihan lingkungan perlu berbasis pada keadilan gender.


โ€œPendekatan ekofeminisme penting untuk memastikan bahwa perempuan tidak hanya menjadi korban,โ€ katanya.


โ€œTetapi perempuan juga harus sebagai aktor utama dalam menjaga dan merawat lingkungan agar tidak terus-menerus menjadi pihak yang menanggung beban paling berat dari kerusakan yang mereka tidak ciptakan,โ€ lanjutnya.