Khutbah Jumat Dzulqadah: Bulan Damai di Tengah Dunia yang Gemar Bertikai
NU Online · Kamis, 23 April 2026 | 13:30 WIB
Sunnatullah
Kolumnis
Bulan Dzulqadah merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam, karena ia merupakan salah satu dari empat bulan haram dalam Islam. Namun, ia tidak boleh hanya dipahami sebagai bulan untuk meningkatkan ketakwaan, tetapi juga harus dipahami sebagai bulan untuk menghindari segala perbuatan yang bisa menimbulkan permusuhan, seperti pertengkaran, penyebaran ujaran kebencian, dan lainnya.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat Dzulqadah: Bulan Damai di Tengah Dunia yang Gemar Bertikai”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Mari kita awali khutbah Jumat ini dengan kalimat syukur al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah swt berikan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladaninya.
Sebagaimana Rasulullah senantiasa menyampaikan pesan takwa dalam setiap khutbahnya, maka sebagai bentuk meneladani sunnahnya, perkenankan kami untuk menyampaikan wasiat takwa kepada diri kami sendiri dan kepada jamaah sekalian. Marilah kita terus berupaya menjadi pribadi yang bertakwa. Karena dengan takwa, langkah kita akan terarah dan hidup kita penuh berkah.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Saat ini kita berada di salah satu bulan yang sangat dimuliakan, yaitu bulan Dzulqadah, yang merupakan salah satu dari bulan-bulan haram (asyhurul hurum). Istilah asyhurul hurum dalam Islam merujuk pada empat bulan mulia yang telah ditetapkan dalam Islam, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS At-Taubah [9]: 36).
Salah satu kemuliaan yang Allah berikan kepada kita semua di bulan Dzulqadah dan tiga bulan haram lainnya adalah bahwa kemaksiatan yang dilakukan di bulan ini siksaannya lebih berat, dan ketaatan yang dikerjakan di dalamnya memiliki nilai pahala lebih berlipat ganda dibanding bulan-bulan biasa. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, jilid XVI, halaman 41, yaitu:
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً، وَالطَّاعَةُ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً
Artinya, “Dan makna al-hurum adalah bahwa maksiat pada bulan-bulan tersebut lebih berat siksanya, dan ketaatan pada bulan-bulan tersebut lebih banyak pahalanya.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Namun, yang jarang kita ketahui adalah bahwa kemuliaan Dzulqadah tidak hanya sebatas pembalasan dosa dan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga ditetapkan sebagai bulan damai dan aman. Sehingga segala bentuk tindakan yang memicu pertikaian, permusuhan, dan peperangan sangat dilarang dalam Islam. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ
Artinya, “Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar.” (QS. Al-Baqarah, [2]: 217).
Perlu kita pahami bersama bahwa ketentuan tentang bulan-bulan haram ini pada awalnya hadir dalam konteks masyarakat terdahulu yang masih hidup dalam sistem kesukuan. Adapun pada zaman sekarang, kehidupan manusia telah diatur dalam sistem negara dan hubungan internasional yang memiliki aturan dan kesepakatan tersendiri terkait peperangan dan perdamaian.
Namun demikian, nilai yang terkandung dalam syariat ini tetap relevan sepanjang zaman, yaitu perintah untuk menahan diri, menjauhi permusuhan, dan mengedepankan kedamaian. Maka pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa Islam mendorong umatnya untuk menjadi pembawa kedamaian, bukan sumber pertikaian, kapan pun dan di mana pun kita berada.
Oleh sebab itu, segala perbuatan yang dapat memicu pertikaian, seperti berkata kasar, menyakiti orang lain, menyebarkan fitnah dan berita yang belum jelas kebenarannya, mudah terpancing emosi, saling menghina dan merendahkan, hingga memperuncing perbedaan di tengah masyarakat, wajib kita hindari dan jauhi demi menjaga kedamaian serta persatuan umat.
Sebab, muslim sejati adalah mereka yang berhasil menjaga tangan dan lisannya untuk tidak menyakiti orang lain, sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat, Rasulullah saw bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya, “Orang Muslim adalah orang yang sesama Muslim selamat dari gangguan lisan dan tangannya, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).
Oleh sebab itu, mari kita jadikan bulan Dzulqadah ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, tidak hanya dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi juga dalam hubungan kita dengan sesama manusia. Tahanlah lisan dari ucapan yang menyakitkan, kendalikan emosi dari amarah yang berlebihan, serta jagalah sikap dari segala hal yang dapat merusak persaudaraan. Karena sejatinya, menjaga kedamaian dan persatuan adalah bagian dari takwa.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikianlah khutbah Jumat pada siang hari yang penuh berkah ini. Semoga apa yang telah disampaikan dapat menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa mulianya bulan Dzulqadah sebagai bulan perdamaian.
Mari kita jadikan bulan ini sebagai titik tolak untuk meninggalkan segala bentuk permusuhan, pertikaian, dan ujaran kebencian, serta memulai hidup yang lebih damai, penuh toleransi, dan saling menghormati. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
3
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
4
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
5
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
6
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
Terkini
Lihat Semua