Khutbah Jumat: Meneladani Persahabatan Nabi dengan Alam
NU Online · Kamis, 23 April 2026 | 14:10 WIB
Muhammad Faizin
Penulis
Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata hari ini mulai dari kerusakan hutan, pencemaran air, hingga perubahan iklim, kita perlu kembali menengok keteladanan Rasulullah SAW dalam membangun hubungan yang harmonis dengan alam. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga etika ekologis yang luhur.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Meneladani Persahabatan Nabi dengan Alam”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang menciptakan langit, bumi, serta seluruh isinya dengan keseimbangan yang sempurna. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sang teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam memperlakukan alam semesta dengan kasih sayang dan tanggung jawab.
Dalam ajaran Islam, hubungan manusia dengan alam bukanlah hubungan yang kaku dan penuh eksploitasi, namun merupakan hubungan persahabatan yang saling berkaitan. Rasulullah telah memberikan contoh nyata bagaimana beliau bersahabat dengan lingkungan, baik itu benda hidup maupun benda mati.
Dalam kehidupan Rasulullah, beliau memberi nama pada benda-benda miliknya, pada hewan peliharaannya, bahkan pada peralatan yang digunakan sehari-hari. Ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi menunjukkan adanya ikatan emosional antara manusia dan lingkungan sekitarnya.
Sebagai contoh, Rasulullah memberi nama pakaian beliau sebagaimana sebuah hadits:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ
Artinya: “Biasanya Rasulullah saw apabila mendapatkan baju baru, ia akan memberinya nama.” (HR Tirmidzi)
Persahabatan Nabi dengan lingkungan lainnya tergambar dalam kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sebagaimana termaktub dalam Fathul Bari Jilid 4, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, halaman 374. Dalam kisah itu digambarkan bagaimana sebuah pohon kurma yang biasanya digunakan oleh nabi bersandar saat berdakwah menangis karena Rasulullah sudah pindah tempat dan memiliki mimbar khusus. Disebutkan:
فَلَمَّا كانَ يَوْمُ الجُمُعَةِ قَعَدَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى المِنْبَرِ الَّذي صُنِعَ، فَصَاحَتِ النَّخْلَةُ الَّتي كانَ يَخْطُبُ عِنْدَهَا، حتَّى كَادَتْ تَنْشَقُّ، فَنَزَلَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ حتَّى أخَذَهَا، فَضَمَّهَا إلَيْهِ، فَجَعَلَتْ تَئِنُّ أنِينَ الصَّبِيِّ الَّذي يُسَكَّتُ حتَّى اسْتَقَرَّتْ، قالَ: بَكَتْ علَى ما كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ.
Artinya: “Maka ketika hari Jumat, Nabi saw duduk di mimbar yang telah dibuat, lalu pohon kurma yang di depannya saat Nabi berkhutbah berteriak hingga hampir pecah. Lalu Nabi SAW turun dari mimbar, mendekatinya, lalu memeluknya. Maka pohon tersebut mulai meratap seperti rengekan bayi yang sedang didiamkan hingga tenang. Rasulullah bersabda, "Pohon tersebut menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.".
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Dari persahabatan Nabi ini ini menunjukkan bahwa dulu, manusia hidup berdampingan dengan alam. Mereka menjalin persahabatan dengan alam, membaca tanda-tandanya, dan mengambil secukupnya tanpa merusak. Namun hari ini, manusia modern justru menjadikan alam sebagai objek eksploitasi.
Akibatnya, hubungan emosional dan spiritual dengan alam menjadi hilang. Kita tidak lagi “merasakan” alam, tetapi hanya “memanfaatkan”nya. Dan ketika alam terus dieksploitasi, maka jangan heran jika ia menunjukkan reaksinya dalam bentuk bencana.
Allah telah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)
Di sisi lain, masyarakat tradisional sebenarnya masih menyimpan kearifan dalam berinteraksi dengan alam. Namun sering kali praktik-praktik mereka, seperti larungan atau sedekah bumi, langsung kita anggap salah tanpa memahami maknanya. Padahal itu merupakan simbol penghormatan terhadap alam, bukan penyembahan.
Islam telah memberikan tuntunan yang sangat jelas. Bahkan dalam peperangan sekalipun, Rasulullah saw melarang merusak tanaman, membakar hutan, dan menghancurkan tempat ibadah. Dalam kehidupan sehari-hari, Nabi mengajarkan untuk memberi salam, tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada lingkungan.
Selain itu, Nabi saw adalah sosok yang anti terhadap kerusakan dan pencemaran alam, apalagi yang berkaitan dengan perusakan pohon tanpa alasan, membuat ketidaknyamanan di tempat publik dengan mengotorinya, dan lain-lain.
Nabi saw pernah bersabda:
اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ
Artinya, “Takutlah kalian terhadap tiga hal yang terlaknat; buang air besar di sumber air, tengah jalanan, dan tempat berteduh” (HR Abu Dawud).
Dalam ibadah haji, salah satu aturan yang disyariatkan adalah larangan mencabut rumput, menebang pohon, atau mematahkan ranting di tanah haram. Ini adalah bentuk nyata bahwa ibadah dalam Islam tidak boleh merusak lingkungan.
Semua ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan alam. Oleh karena itu, yang kita butuhkan hari ini bukan hanya sekadar teknologi untuk mengatasi krisis lingkungan, tetapi juga perubahan cara pandang. Kita harus kembali menyadari bahwa kita bukan pusat dari segala-galanya, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang lebih besar.
Kita harus mengembalikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang pencipta. Jika kita mampu menumbuhkan kembali cinta kepada alam, maka insyaAllah alam akan kembali bersahabat, kehidupan akan menjadi lebih seimbang, dan kita dijauhkan dari bencana.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita meneladani bagaimana Rasulullah memperlakukan dan mencintai lingkungan sekitar. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai khalifah di muka bumi.
Semoga Allah saw membimbing kita untuk menjadi manusia yang tidak hanya cerdas secara akal, tetapi juga bijaksana dalam menjaga alam dan taat kepada-Nya. Amin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
---------
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
3
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
4
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
5
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
6
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
Terkini
Lihat Semua