Khutbah

Khutbah Jumat: Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit

NU Online  ·  Kamis, 23 April 2026 | 14:54 WIB

Khutbah Jumat: Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit

Khutbah Jumat (Freepik)

Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika rezeki terasa sempit, kebutuhan meningkat, sementara kemampuan terasa terbatas. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang bisa tergoda untuk mencari jalan pintas. Apa yang sebelumnya dianggap salah, perlahan mulai terlihat “masuk akal” karena tekanan keadaan.

 


Khutbah Jumat dengan judul, “Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.


Khutbah I


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ فَالِقِ الحَبِّ وَالنَّوَى، وَخَالِقِ العَبْدِ وَمَا نَوَى، اَلمُطَّلِعِ عَلَى بَاطِنِ الضَّمِيْرِ وَمَا حَوَى،وَ بِمَشِيْئَتِهِ رَشَدَ مَنْ رَشَدَ وَغَوَى مَنْ غَوَى، وَبِإِرَادَتِهِ فَسَدَ مَا فَسَدَ وَاسْتَوَى مَا اسْتَوَى، وَ صَرَفَ مَنْ شَاءَ إِلَى الهُدَى وَمَنْ شَاءَ إِلَى الهَوَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَأَنْعِمْ وَأَكْرِمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ مَا عَطِشَ إِنْسَانٌ وَارْتَوَى.


فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ العَظِيْمِ، إِتَّقُوْا اللّٰهَ تَعَالَى فِيْ السِّرِّ وَالعَلَنِ، إِتَّقُوْا اللّٰهَ تَعَالَى القَائِلَ فِي كِتَابِهِ العَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللّٰهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ 


 

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

 

Marilah kita senantiasa memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Karena atas segala karunia yang diberikan oleh-Nya, kita bisa hidup dengan keadaan tenteram dan tercukupi setiap hari. 

 

Kemudian, shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan sosok teladan, yang melalui ajarannya kita dibimbing untuk menjaga kebersihan hati, tutur kata, serta perilaku. Semoga keberkahan itu juga dilimpahkan kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh kaum muslimin yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga hari Akhir.

 

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, mari tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi setiap larangan Allah, serta selalu bergaul bersama orang-orang yang benar. 

 

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah di surat At-Taubah ayat 119: 

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”

 

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

 

Sebagai kelompok ekonomi menengah ke bawah, kita merasakan bahwa akhir-akhir ini kita dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Harga kebutuhan pokok melonjak naik, BBM di beberapa SPBU mulai terbatas stoknya, dan lowongan pekerjaan semakin sempit serta tidak mudah diakses. 

 

Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit di antara kita yang imannya mulai diuji dan perlahan goyah. Sebagian tergoda menempuh jalan pintas, mencari keuntungan dengan cara-cara yang tidak jujur, bahkan sampai menghalalkan segala cara demi segera lepas dari himpitan kesulitan.

 

Pada titik yang lebih jauh, ada yang terjerumus hingga berani merampas hak dan harta orang lain, seolah-olah keadaan dapat membenarkan tindakan yang keliru. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 188 Allah SWT berfirman:

 

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ

 

Artinya: “Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”

 

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

 

Surat Al-Baqarah ayat 188 menegaskan larangan keras untuk mengambil atau merampas harta orang lain dalam bentuk apa pun dan dalam kondisi apa pun.  Imam Al-Baghawi dalam kitab Ma’alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an (jilid 1, hlm. 210) menerangkan bahwa larangan “memakan harta sesama dengan cara yang batil” berarti mengambil harta dengan cara yang tidak dibenarkan oleh Allah.

 

Simak penjelasan lengkapnya;


أَيْ لَا يَأْكُلُ بَعْضُكُمْ مَالَ بَعْضٍ بِالْبَاطِلِ أَيْ مِنْ غَيْرِ الْوَجْهِ الَّذِي أَبَاحَهُ اللَّهُ، وَأَصْلُ الْبَاطِلِ الشَّيْءُ الذَّاهِبُ، وَالْأَكْلُ بِالْبَاطِلِ أَنْوَاعٌ، قَدْ يَكُونُ بِطَرِيقِ الْغَصْبِ وَالنَّهْبِ وَقَدْ يَكُونُ بِطَرِيقِ اللَّهْوِ كَالْقِمَارِ وَأُجْرَةِ الْمُغَنِّي وَنَحْوِهِمَا، وَقَدْ يَكُونُ بِطَرِيقِ الرِّشْوَةِ وَالْخِيَانَةِ

 

Artinya: “Yakni, janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang batil, yaitu dengan cara yang tidak dibenarkan oleh Allah. Asal makna ‘batil’ adalah sesuatu yang hilang (tidak bernilai/lenyap). Memakan harta secara batil itu memiliki berbagai bentuk; bisa melalui perampasan dan penjarahan, bisa pula melalui jalan yang melalaikan seperti perjudian dan upah dari hal-hal yang tidak dibenarkan seperti nyanyian (yang diharamkan) dan semisalnya, dan bisa juga melalui suap serta pengkhianatan.”

 

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

 

Jangan sampai kesulitan hidup justru menyeret kita untuk merampas hak milik orang lain. Sebab ketika hati mulai terbiasa membenarkan cara yang keliru, perlahan batas antara yang halal dan yang haram akan memudar, hingga akhirnya terasa samar dan tidak lagi dipedulikan.

 

Pada mulanya mungkin hanya berupa “sedikit” yang diambil, dengan dalih keadaan yang mendesak dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Namun jika terus dibiarkan, kebiasaan itu dapat tumbuh menjadi keberanian untuk mengambil lebih besar lagi, bahkan tanpa lagi disertai rasa bersalah atau penyesalan.


 

Bahkan dalam hadits, Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan dan mengancam umatnya yang melampaui batas dengan mengambil hak orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Umamah:

 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌مَنِ ‌اقْتَطَعَ ‌حَقَّ ‌امْرِئٍ ‌مُسْلِمٍ ‌بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللّٰهُ لَهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ 

 

Artinya: Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya secara tidak benar, maka Allah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan baginya surga.” Lalu seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun itu sesuatu yang sedikit?” Beliau menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu dari pohon arak (kayu siwak)” (HR. Muslim)

 

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

 

Sejatinya, kesempitan hidup bukan alasan untuk melanggar batas yang telah ditetapkan, termasuk mencuri harta dan berbuat curang. Allah telah mengingatkan dalam surat Al-Baqarah ayat 188 agar kita tidak memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Maka, dalam kondisi apa pun, pastikan setiap rupiah yang kita bawa pulang berasal dari jalan yang halal, meskipun sedikit dan terasa lambat.

 

Sebagai masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah yang paling terdampak karena situasi sulit ini, kita jangan sampai mencuri, merampas, dan mengambil sesuatu yang menjadi milik orang lain. 

 

Hindari juga segala bentuk kecurangan, sekecil apa pun, yakni tidak menipu dalam jual beli, tidak memanipulasi pekerjaan, dan tidak tergoda jalan pintas yang melanggar aturan. 

 

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,


Begitu pula bagi para pejabat yang memiliki amanah dan wewenang, hendaknya kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak kepada rakyat. Arahkan keputusan untuk memudahkan urusan masyarakat, meringankan beban mereka, dan menghadirkan kebijakan yang adil serta solutif. Jika memungkinkan, berikan subsidi atau salurkan dana sosial kepada kelompok yang paling rentan agar mereka tetap mampu bertahan dalam situasi sulit.

 

Dan yang paling penting, jangan sekali-kali tergoda untuk melakukan korupsi, terlebih di tengah kondisi yang justru menuntut kejujuran dan kepedulian yang lebih besar.

 

Sebab Rasulullah SAW telah mengingatkan dengan tegas bahwa siapa pun yang mengambil hak orang lain dengan cara yang batil akan mendapatkan ancaman berat, bahkan meskipun yang diambil itu hanya sesuatu yang kecil. Ini menjadi peringatan bahwa sekecil apa pun bentuk pengkhianatan terhadap amanah tetap memiliki konsekuensi di sisi Allah.

 

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk bertahan di jalan yang benar, meskipun dalam keadaan yang paling sulit.

 


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

 

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ


----------
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman