Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
NU Online ยท Ahad, 9 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Gus Ulil saat memberikan keterangan dalam Ngaji Kitab Hikam di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Ahad (9/8/2026) (NU Online/Risky)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Dalam perjalanan hidup, seseorang butuh menepi dari obsesi ketenaran. Sebab ketenaran adalah imbas dari kerja keras yang dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang relatif panjang. Ketenaran yang didapat seseorang secara instan justru akan cepat tenggelam.
Keterangan tersebut disampaikan Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla saat Ngaji Hikmah ke-11 Kitab Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah Sakandari di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat pada Ahad (9/8/2026).ย
"Orang itu kalau mau suksesnya solid dan kokoh itu harus didasari dulu dengan latihan yang berlangsung lama, tidak memerhatikan sorotan, validasi seseorang," kata Gus Ulil.
Ia memberikan gambaran bahwa fase ini bak benih yang ditanam di dalam tanah. Benih tersebut akan tumbuh lebih sempurna dibanding benih rapung sebab digeletakkan di atas tanah. Proses di balik layar ini kerap dilakukan para tokoh atau figur yang diidolakan.
Gus Ulil menyampaikan, di dalam Iqadzhul Himam fi Syarhil Hikam, Ibnu 'Ajibah menerjemahkan khumul dengan membuang rasa keakuan dalam setiap lini kehidupan. Mereka yang berhasil menanam etos ini akan memperoleh buah kebijaksanaan dan pengetahuan yang bersumber dari Allah swt.
"Jadi, di dalam hidup, kamu itu harus ada fase tidak merasa jadi siapa-siapa," tegasnya.ย
Lebih lanjut, Gus Ulil mengemukakan dua level khumul yang dilakukan seorang muslim. Pertama, khumul yang dilakukan sepanjang usia oleh orang-orang tertentu. Kedua, level khumul yang dilakukan secara temporer sebagai latihan. Khumul jenis terakhir ini yang ia sebut dengan fase bagi seseorang.
Seirama, Dokter Umum jebolan Universitas Yarsi Anwar Sadat menyebut fase khumul sebagai masa seseorang mengalami laku prihatin, seperti pengalaman masa pendidikan profesi bagi sarjana kedokteran. Fase ini ia sebut sebagai proses penguatan batin.
"Kami di kedokteran ketika tahap koasistensi itu menangani berbagai persoalan, mulai dari membersihkan rumah sakit, merawat pasien sampai menghadapi keluhan orang yang macam-macam. Dalam situasi seperti itu, kami merasa dalam khumul itu," ujar dokter Anwar.
Ia juga menyampaikan, di dalam kedokteran seorang calon dokter diharuskan menuntaskan sejumlah buku dan melewati masa latihan dalam jangka waktu tertentu sebelum membuka praktik. Fase ini untuk meruntuhkan keakuan yang bercokol dalam diri seseorang.
"Kami di kedokteran itu harus membaca buku tebal-tebal, dan ketika sudah jadi dokter kita harus menganalisa sendiri kira-kira mengarah ke penyakit apa," jelasnya.
Diketahui, Hikmah kesebelas dalam Kitab al-Hikam bermakna "Benamkan dirimu dalam bumi kekosongan. Sebab, sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam (di balik kekosongan), tak akan sempurna buahnya,"
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 5 Dosa yang Sering Diremehkan, tetapi Berat Pertanggungjawabannya
2
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar Resmi Buka Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU
3
Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Dosa Menyebar Informasi Palsu
4
Sejumlah Bakal Calon Ketua Umum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Kiai Ma'ruf Amin
5
454 Kasus DBD di Tapanuli Tengah, 5 Warga Meninggal Dunia
6
Sambut Muktamar ke-35 NU, MA IPNU Gelar Diskusi Panel Undang Bakal Calon Ketum PBNU
Terkini
Lihat Semua