Ramadhan

Khutbah Jumat: Akibat Perpecahan Umat

NU Online  ·  Jumat, 6 Maret 2026 | 03:30 WIB

Khutbah Jumat: Akibat Perpecahan Umat

Khutbah Jumat tentang Perpecahan Umat

Kekuatan umat Muslim berasal dari menyatunya hati, kuatnya kepemimpinan, dan kesamaan tujuan. Adanya perpecahan di tengah umat, hilangnya rasa saling percaya, serta dominasi kepentingan atas kemaslahatan bersama membuat wibawa kaum Muslimin perlahan memudar. Umat Islam yang tercerai-berai sulit membangun strategi kolektif, lemah dalam menentukan prioritas, dan mudah goyah menghadapi tekanan. 
 

Energi umat Islam lebih banyak terkuras untuk menyelesaikan konflik internal daripada memperkokoh barisan. Pertahanan umat Islam berdiri atas solidaritas serta loyalitas terhadap nilai persaudaraan. Melemahnya ukhuwah di kalangan umat Islam pada akhirnya melemahkan barisan bahkan kaburnya arah hidup.
 


Khutbah I
 

اَلْحَمْدُ لِلّٰه، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ
 

فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ
 

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt, Tuhan yang telah mengatur alam secara paripurna, dengan misteri lika-liku kehidupan di dalamnya.  Namun, karena kebesaran rahmat Allah, pada hari yang penuh berkah ini, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dan melaksanakan ibadah shalat Jumat dengan khidmat.
 

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad saw sang pembawa lentera rahmat bagi seluruh alam. Semoga  Allah juga melimpahkan keberkahan kepada keluarga beliau, para sahabat yang setia memperjuangkan ajaran Islam, serta para ulama yang telah berkorban menjaga kemaslahatan umat sepanjang zaman.
 

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah
Umat Islam dalam sejarahnya selalu mendapat kemenangan dengan modal utama persatuan. Hal ini dibuktikan ketika dari satu daulah ke daulah lainnya mampu bertahan karena persatuan Muslimin. Sebaliknya beberapa daulah Islam runtuh ditandai kerana melemahnya persatuan hingga meruntuhkan tatanan masyarakatnya. 
 

Alhasil sejarah kembali memberi pelajaran kepada kita jika umat ini terpecah maka konsekuensinya yang pertama adalah melemahnya kekuatan sosial muslimin. 
 

Kaum musimin yang dimuliakan Allah
Hal ini menjadikan umat menjadi mudah dikalahkan dan kehilangan daya tawar global. Allah swt berfirman dalam Al-Quran, Surah Al-Anfal ayat 46:
 

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ 
 

Artinya: “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (rihukum), dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
 

Imam Ibnu Asyr dalam kitab At-Tahrir wa Tanwir jilid XI halaman 30 menjelaskan:
 

وَأَمَّا النَّهْيُ عَنِ التَّنَازُعِ فَهُوَ يَقْتَضِي الْأَمْرَ بِتَحْصِيلِ أَسْبَابِ ذَلِكَ: بِالتَّفَاهُمِ ، وَالتَّشَاوُرِ، وَمُرَاجَعَةِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا
 

Artinya: “Dan larangan terhadap perselisihan mengharuskan untuk mencari solusinya melalui saling pengertian, musyawarah, dan saling merujuk satu sama lain."
 

Berikutnya adalah hilangnya kepemimpinan dan wibawa peradaban. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi visi bersama untuk membangun peradaban yang kuat. Padahal untuk membina peradaban dibutuhkan rasa persaudaraan sesama muslim yang kuat.
 

Rasulullah saw bersabda sebagaimana disebutkan Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Bari, jilid II, halaman 584: 
 

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَكَ أَصَابِعَهُ
 

Artinya, “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Dan Beliau (Rasulullah) mengaitkan jari-jarinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim). 
 

Kemudian kemunduran ilmu dan pemikiran. Bayangkan jika energi habis untuk bertikai, tentu  pengembangan ilmu dan inovasi jadi terganggu. Sejarah mencatat kehancuran Daulah Abbasiyah secara tidak langsung terjadi karena banyaknya pertikaian sesama Muslimin, pada akhirnya menyebabkan kemunduran ilmu dan memudahkan bangsa Mongol waktu itu melakukan penyerbuan kota Baghdad dan pemusnahan Baitul Hikmah. 
 

Terakhir, mudah diadu domba oleh kepentingan luar. Kaum Muslimin tidak lagi mengenal siapa saudara yang mesti dibantunya. Rasulullah saw bersabda seperti dikutip dalam Syarun Nawawi 'alal Muslim, jilid XII halaman 549:
 

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
 

Artinya, “Barangsiapa yang memisahkan diri dari umat dengan jarak sekecil apa pun dan kemudian meninggal, maka ia mati dalam keadaan bodoh.”
 

Imam as-Sya'rani dalam kitabTanbihul Mughtarrin halaman 225 menyebutkan akhlak dari para ulama terdahulu yang menghindari perselihan dan permusuhan. 
 

وَ كَانَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: لَا تَشْتَرِ مَوَدَّةَ أَلْفِ رَجُلٍ بِعَدَاوَةِ رَجُلٍ وَاحِدٍ
 

Artinya: “Dan Imam Hasan Al-Basri Rahimahullah pernah berkata janganlah membeli persahabatan seribu orang dengan mengorbankan permusuhan seorang saja.”
 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita menjaga persatuan umat Islam dengan membersihkan hati dari prasangka, menahan lisan dari celaan, serta menguatkan komitmen pada nilai-nilai Islam yang menyatukan. Perbedaan hendaknya disikapi dengan kedewasaan dan adab, bukan dengan permusuhan. 
 

Muslimin tidak boleh terpecah dari persaudaraan akibat perbedaan aliran di dalam tubuh umat. Seyogyanya perbedaan ini jangan menjadi jurang pemisah yang melahirkan saling curiga, saling mencela bahkan memutuskan persaudaraan. Kita juga tidak boleh terpecah karena perbedaan antarumat beragama, muslimin tidak dibenarkan menebar kebencian dan permusuhan.  Muslimin mesti selalu mengusung prinsip hidup dengan damai yang menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan kemanusiaan.
 

Demikian lagi dalam ranah politik, pilihan politik bersifat terbuka dan bukanlah ukuran keimanan seseorang. Karena itu, sungguh tidak bijak jika perbedaan pilihan politik  dapat merusak persaudaraan memutus hubungan keluarga, atau memecah barisan umat. Politik sepatutnya  menjadi wasilah memperjuangkan kemaslahatan bersama. Persaudaraan harus lebih kuat daripada segala bentuk perbedaan.
 

Dengan ukhuwah yang kokoh, umat Islam akan memiliki kekuatan yang bermartabat, pertahanan yang tangguh, serta peradaban yang mulia. Mari bersatu dalam kebaikan agar umat Islam tetap kuat, terhormat, dan diridhai Allah swt. Amin ya Rabbal 'alamin. 
 

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II
 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
 

Ustadz Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam Asal Aceh, Pengasuh di Dayah Jeumala Amal