M. Ryan Romadhon
Kolumnis
Sahur sejatinya adalah salah satu anugerah indah yang dititipkan Allah bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa. Lebih dari sekadar aktivitas makan untuk mengisi cadangan energi sebelum berpuasa seharian, sahur merupakan manifestasi kecintaan kita terhadap sunnah Rasulullah SAW.
Dengan menyantap hidangan sahur, kita tidak hanya mempersiapkan fisik, tetapi juga menghidupkan anjuran Nabi Muhammad SAW yang sangat menekankan agar keberkahan dalam momentum ini tidak dilewatkan begitu saja.
Keutamaan Waktu Sahur
Rasulullah SAW memberikan penekanan yang sangat kuat agar setiap Muslim menyempatkan diri untuk bersahur dan sebisa mungkin tidak mengabaikannya. Hal ini dikarenakan sahur memegang peran ganda dalam ibadah puasa: sebagai penopang stamina fisik agar tetap bugar, sekaligus sebagai wadah bagi turunnya keberkahan Ilahi. Berkaitan dengan pentingnya momentum ini, Nabi Muhammad SAW memberikan pesan melalui sabdanya:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: "Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari Muslim)
Mengenai keberkahan dalam sahur yang dimaksud dari hadits di atas, Syekh Hasan al-Masyath dalam kitab Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’ifi Syahri Ramadhan, mengatakan,
وَفِي مَعْنَى كَوْنِهِ بَرَكَةً وُجُوهٌ، مِنْهَا أَنْ يُبَارَكَ فِي الْقَلِيلِ مِنْهُ بِحَيْثُ يَحْصُلُ بِهِ الْإِعَانَةُ عَلَى الصَّوْمِ. وَمِنْهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِالْبَرَكَةِ نَفْيُ التَّبِعَةِ وَالْمُحَاسَبَةِ. وَمِنْهَا أَنَّ الْمُرَادَ التَّقَوِّي عَلَى الصِّيَامِ وَغَيْرِهِ مِنْ أَعْمَالِ النَّهَارِ. وَمِنْهَا أَنَّ الْمُرَادَ بِالْبَرَكَةِ الْأُمُورُ الْأُخْرَوِيَّةُ؛ فَإِنَّ إِقَامَةَ السُّنَّةِ تُوجِبُ الْأَجْرَ وَالزِّيَادَةَ
Artinya: "Mengenai makna bahwa sahur itu mengandung keberkahan, terdapat beberapa sudut pandang (penjelasan), di antaranya: 1) diberikannya keberkahan pada makanan yang sedikit, sehingga makanan tersebut cukup untuk membantu seseorang dalam menjalankan ibadah puasa; 2) ditiadakannya konsekuensi dosa (tabi'ah) dan hisab (pertanggungjawaban yang memberatkan) atas apa yang dimakan saat sahur; 3) memberikan kekuatan fisik untuk menjalankan puasa serta amal-amal siang hari lainnya; 4) perkara-perkara ukhrawi (akhirat); karena menjalankan sunnah akan mendatangkan pahala dan tambahan kebaikan." (Is’afu Ahlil Iman bi Wadza’ifi Syahri Ramadhan, hal. 60-61).
Dari paparan di atas, dapat kita ketahui bahwa ada beberapa makna mengenai keberkahan sahur, yaitu:
- Makanan yang dimakan saat sahur, meskipun sedikit, dapat memberikan kekuatan besar untuk berpuasa.
- Tidak adanya dosa atau hisab (pertanggungjawaban) atas apa yang dimakan.
- Sahur dapat memberikan kekuatan fisik untuk beribadah di siang hari.
- Bersahur menjadikan kita mendapatkan pahala dan kebaikan di akhirat karena telah menjalankan sunnah.
Walhasil, sahur merupakan titik temu yang indah antara pemenuhan kebutuhan fisik dan pendakian derajat spiritual. Di balik aktivitas santap sahur, terdapat hakikat yang lebih dalam: kita tidak sekadar mengonsumsi nutrisi, melainkan sedang memanifestasikan keberkahan melalui hidangan. Ia berperan sebagai benteng yang menjaga stamina raga, sekaligus menjadi wasilah untuk menjemput kasih sayang Allah di waktu dini hari, sebuah fase paling mustajab di mana doa-doa lebih mudah menembus langit. Wallahu a'lam.
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
Terpopuler
1
Para Kiai Sepuh ‘Turun Gunung’ Jelang Muktamar 1984
2
BEM PTNU Se-Nusantara Desak DPR RI Evaluasi Menyeluruh Tata Kelola Kejaksaan demi Perkuat Kepercayaan Publik
3
LF PBNU Sebut Suara Dentuman Semalam Berasal dari Meteor Jatuh
4
Ketum PBNU Sebut Tambakberas Jalan Tengah Terbaik untuk Muktamar Ke-35 NU
5
Hukum Memberi Amplop Setelah Shalat Jenazah
6
Kajian Hadits: Bolehkah Orang Fasik Melakukan Amar Makruf–Nahi Mungkar?
Terkini
Lihat Semua