Abdullah bin Zubair, Penentang Sistem Monarki Dinasti Bani Umayah
NU Online ยท Selasa, 23 Juni 2026 | 12:00 WIB
Rifqi Iman Salafi
Kolumnis
Pengangkatan Yazid bin Muโawiyah (w. 64 H/683 M) menjadi khalifah menggantikan bapaknya, Muโawiyah bin Abi Sufyan (w. 60 H/680 M) pada 56 H/676 M menyulut kontroversi di kalangan umat Islam. Pasalnya, metode suksesi pemimpin umat Islam dengan mengangkat putera mahkota merupakan hal yang baru dalam kalangan umat Islam.
Empat khalifah sebelumnya dipilih dengan metode yang lebih demokratis, yakni konsensus terbatas atau dewan syuraโ. Metode pengangkatan Yazid juga dianggap menyerupai metode suksesi Imperium Romawiย ataupunย Persia (An-Nasai, al-Sunan al-Kubra, [Beirut: Muassasah al-Risalah, 1421 H/2001 M], jilidย X, hlm.257).
Selain Husain bin โAli ra. (61 H/680 M), โAbdullah bin Zubair (w.73 H/692 M) adalah salah satu sahabat Nabi yang menolak memberi baiโat kepada Yazid bin Muโawiyah (Raghib al-Sirjani, al-Mawsuโah al-Muyassarah fi al-Tarikh al-Islami, [Kairo: Muassah Iqraโ, 2014], jilid I, hal. 166).
โAbdullah yang awalnya tinggal di Madinah memilih bertolak ke Makkah untuk mengonsolidasi kekuatanย gunaย membentuk pemerintah tandingan (Lihat karyaย As-Suyuthi, Tarikh al-Khulafaโ,ย [Beirut: Dar Shadir], hlm. 249).
Yazid tak tinggal diam. Ia mengirim pasukanย pimpinan Muslim bin โUqbah untuk menumpas para pendukung โAbdullah bin Zubair. Pada 63 H, pertempuran antara pasukan Muslim bin โUqbah dan simpatisan โAbdullah bin Zubair di Madinah meletus di al-Harrah, dekat Madinah. Pasukan Madinah yang dipimpin โAbdullah bin Handhalah dapat diatasiย olehย pasukan dinasti Umayyah (Raghib al-Sirjani, jilidย I, hlm. 170).
Pasukan kemudian bergerak ke Makkahย untukย menumpas perlawanan โAbdullah bin Zubair hingga ke akarnya. Di tengah pengepungan Makkah, Yazid bin Muโawiyah mati dan pasukan yang diutusnya ditarik mundur ke Damaskus (Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, [Mathbaโah al-Saโadah, 1358 H], jilid VIII, hal. 238).
Matinya Yazid yang disusul juga oleh penggantinya, Muโawiyah bin Yazid/Muโawiyah II (w. 64 H/684 M),ย kian memperkuat posisi โAbdullah bin Zubair di Makkah. Pasalnya, Muโawiyah II mundur tanpa menunjuk pengganti. Artinya, tak ada seorang pun di Bani Umayyah yang memiliki legitimasi sebagai khalifahย padaย saat itu.
Kekosongan kursi khalifah ini menjadikan kaum Muslimin dari pelbagai wilayah berbondong-bondong membaiat โAbdullah bin Zubair. Anak sahabat karib Zubair bin al-โAwwam bisa dikatakan sebagai khalifah de jure umat Islam pada dekade 680-an (Ibnu Katsir, jilid VIII, hal. 238-239).
Namun, kekuasaan โAbdullah bin Zubair tidak lepas dari cela. Posisinya yang berada di Makkah memang secara religius memperkuat legitimasi.ย Namun, secara strategis, hal iniย justruย melemahkan dirinya. Pusat kekuasaannya jauh dari wilayah yang diduduki umat Islam seperti Syam. Untuk mengatasinya, cucu Abu Bakar dari jalur Asmaโ binti Abu Bakar mempercayakan pemerintahan di Syam kepada saudara kandungnya, Mushโab bin Zubair (w.71 H) (Al-Bidayah wan Nihayah, jilidย IX, hal. 86).
Titik balik kekuasaan โAbdullah bin Zubair terjadi ketika keluarga Umayyah berhasil melakukan konsolidasi kembali. Abdul Malik bin Marwan (w. 86 H/705 M), yang menggantikan ayahnya, Marwan bin al-Hakam (w. 65 H/685 M), merupakan administrator dan politikus yang andal.ย
Ia mampu menyoldikan keluarga Umayyah. Di bawah kekuasaannya, satu per satu wilayah yang telah direbutย olehย pasukan โAbdullah bin Zubair dapat diakuisisi kembali. Setelah mengamankan Suriah dan Mesir, ia bisa menamatkan kekuasaan Mushโab bin Zubair di Irak padaย 71 H/691 M. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi pihak Makkah (Raghib al-Sirjani, jilid i, hal. 170-171).
Setahun kemudian, Abdul Malik mengutus pasukan dengan 40.000 tentara yang dipimpin oleh al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi (w. 95 H/714 M) untuk menggempur Makkah dan, di sisi lain, menamatkan riwayat perlawanan โAbdullah bin Zubair.ย Perebutan kota Makkah berlangsung alot.
Al-Hajjaj perlu mengepung kota suci umat Islam itu selama tujuh bulan. Ia menggunakan senjata untuk menyerang pusat kekuatan โAbdullah bin Zubair. Sepanjang pengepungan, โAbdullah bin Zubair kehilangan dukungan dari pihak-pihak yang sebelumnya mendukungnya. Hanya ibundanya, Asmaโ binti Abu Bakar (w.73 H) yang berdiri mendukungnya (Raghib al-Sirjani, jilidย I, hlm.171).
Dalam situasi genting tersebut, โAbdullah mendapat dukungan moril dari Asmaโ binti Abu Bakar ra,
ููุชู ููุงูููููู ููุง ุจูููููู ุฃูุนูููู
ู ุจูููููุณูููุ ุฅููู ููููุชู ุชูุนูููู
ู ุฃูููููู ุนูููู ุญูููู ููุฅููููููู ุชูุฏูุนููุ ููุงู
ูุถู ููููุ ููููุฏู ููุชููู ุนููููููู ุฃูุตูุญูุงุจูููุ ููููุง ุชูู
ูููููู ู
ููู ุฑูููุจูุชููู ููุชูููุนููุจู ุจูููุง ุบูููู
ูุงูู ุจูููู ุฃูู
ููููุฉูุ ููุฅููู ููููุชู ุฅููููู
ูุง ุฃูุฑูุฏูุชู ุงูุฏููููููุงุ ููุจูุฆูุณู ุงููุนูุจูุฏู ุฃูููุชูุ ุฃูููููููุชู ููููุณูููุ ููุฃูููููููุชู ู
ููู ููุชููู ู
ูุนูููุ ููุฅููู ููููุชู: ููููุชู ุนูููู ุญููููุ ููููู
ููุง ูููููู ุฃูุตูุญูุงุจูู ุถูุนูููุชูุ ููููุฐูุง ููููุณู ููุนููู ุงููุฃูุญูุฑูุงุฑู ููููุง ุฃููููู ุงูุฏูููููุ ููููู
ู ุฎููููุฏููู ููู ุงูุฏููููููุงุ ุงููููุชููู ุฃูุญูุณูููุ ููุงูููููู ููุถูุฑูุจูุฉู ุจูุงูุณูููููู ููู ุนูุฒูู ุฃูุญูุจูู ุฅูููููู ู
ููู ุถูุฑูุจูุฉู ุจูุณูููุทู ููู ุฐูููู
Artinya, โWahai anakku, jika engkau tahu bahwa dirimu berada di jalan kebenaran, maka kepada kebenaran itulah engkau serukan! Teruslah maju! Sahabat-sahabatmu telah terbunuh di atas jalan kebenaran tersebut. Jangan biarkan cecunguk-cecunguk keluarga Umayyah itu mempermainkan dirimu. Jika kau menginginkan dunia, maka kau adalah seburuk-buruknya hamba. Kau telah membinasakan dirimu sendiri dan orang-orang yang terbunuh bersamamu.
Jika kau berada di atas jalan yang benar sementara sahabat-sahabatmu melemah dan engkau ikut melemah, maka itu bukanlah perilaku orang-orang merdeka, dan bukan pula perilaku ahli agama. Seberapa abadi hidup di dunia? Mati terbunuh lebih baik. Demi Allah, terkena tebasan pedang dalam keadaan mulia lebih kusukai daripada terkena cambukan, sedangkan aku berada di kehinaan.โ (Ahmad Zaky Shafwat, Jumharah Khuthab al-โArab fi โUshur al-โArabiyyah al-Zahirah,ย [Beirut: al-Maktabah al-โIlmiyyah], jilid 2, hal.178).
Meskiย memilikiย kekuatan militer, โAbdullah bin Zubair tak lekas mundur. Puncaknya, ia gugur dalam satu pertempuran di Masjid al-Haram pada 73 H/692 M. ย Dengan gugurnya putra Zubair bin โAwwam, berakhirlah pemerintah tandingan di Makkah.
Seluruh wilayah kaum Muslimin kembaliย berada dalamย genggaman Wangsa Umayyah. Berakhirnya perang ini juga menandai berakhirnya Perang Saudara II di kalangan umat Islam yang berkecamuk selama 12 tahun (Fred Donner, Muhammad and the Believers at the Origins of Islam, [Cambridge: Harvard University Press], hal. 188).
Meski seumur jagung, legacy โAbdullah bin Zubair jauh lebih besar daripada kekuasannya yang berumur pendek. Ia adalah simbol perlawanan terhadap praktik nepotisme yang nyata muncul di sistem monarki usungan Dinasti Umayyah. Ia juga menunjukkan bahwa legitimasi politis tidak hanya muncul karena kekuatan militer, tetapi jugaย karena reputasi moral.
ย
Rifqi Iman Salafi, alumnus Sastra Inggris UIN Jakarta, Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes, dan Pesantren Darus-Sunnah Ciputat.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 5 Dosa yang Sering Diremehkan, tetapi Berat Pertanggungjawabannya
2
Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Dosa Menyebar Informasi Palsu
3
Sejumlah Bakal Calon Ketua Umum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Kiai Ma'ruf Amin
4
5,7 Juta Jamaah Haji Tunggu Terima Nilai Manfaat dari BPKH Senilai Rp2,06 Triliun
5
Meneguhkan Khidmah NU untuk Keadilan Ekologis
6
454 Kasus DBD di Tapanuli Tengah, 5 Warga Meninggal Dunia
Terkini
Lihat Semua