Sirah Nabawiyah

Syair Maulid Nabi: Ungkapan Cinta Para Ulama kepada Rasulullah Saw

NU Online  ·  Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Syair Maulid Nabi: Ungkapan Cinta Para Ulama kepada Rasulullah Saw

Syair Maulid Nabi (AI)

Malam itu, lampu-lampu masjid menyala lebih terang dari biasanya. Di halaman, sandal dan sepatu berjejal. Dari dalam masjid terdengar suara jamaah yang mula-mula lirih, lalu meninggi bersama lantunan shalawat. Kitab-kitab Maulid terbuka di atas pangkuan. Jemari mengikuti baris demi baris aksara Arab yang telah berusia ratusan tahun.

 

Lalu tiba pada satu bagian. Suara pembaca Maulid melambat. Jamaah menundukkan kepala. Beberapa orang mulai mengusap wajah. Ketika nama Muhammad disebut, ruangan yang semula dipenuhi percakapan kecil mendadak senyap. Yang terdengar hanya salawat yang bersahut-sahutan.

 


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

 

Nama itu bukan sekadar nama yang dibaca. Ia datang bersama kenangan, kerinduan, dan cinta yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Di hadapan jamaah malam itu, kelahiran Nabi Muhammad saw seperti sedang diceritakan kembali. Bukan melalui buku sejarah yang kaku, melainkan melalui bait-bait yang berdenyut. Melalui bahasa yang mengalir. Melalui syair yang membuat sebuah peristiwa yang terjadi lebih dari empat belas abad silam terasa begitu dekat.

 

Begitulah Maulid bertahan. Ia tidak hanya hidup dalam kalender Hijriah. Ia hidup dalam suara manusia yang membacanya, dalam dada orang-orang yang bersalawat, dan dalam bait-bait para ulama yang menulisnya dengan tinta cinta.

 

Besok, kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia kembali menyambut 12 Rabiul Awal 1448 H, momentum yang oleh umat Islam diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad saw. Kitab-kitab Diba’, Barzanji, Simtud Durar, dan Burdah akan kembali dibuka. Bait-bait yang telah melintasi berabad-abad akan kembali dilantunkan.

 

Menariknya, para ulama tidak memilih bahasa yang dingin untuk menceritakan kelahiran Nabi. Mereka memilih bahasa cinta. Ada yang menulis dalam prosa berirama (natsar), ada yang merangkainya menjadi syair. 


 

Ada yang menggambarkan langit dan bumi menyambut kelahiran Sang Nabi. Ada yang melukiskan para malaikat membawa kabar gembira. Ada pula yang merekam kegembiraan Abdul Muthalib ketika untuk pertama kalinya memandang cucunya.

 

Dengan cara itu, sejarah tidak berhenti sebagai masa lalu. Ia menjadi pengalaman batin. Para ulama seakan ingin mengatakan bahwa kelahiran Nabi bukan hanya peristiwa yang perlu diketahui, tetapi juga sosok yang perlu dicintai. Dan ketika cinta menemukan kata-katanya, lahirlah madah, qashidah, dan syair-syair yang hingga kini masih kita dengarkan.

 

Dari sanalah kita memasuki jejak sastra para ulama tentang Maulid Nabi. Berikut ini adalah beberapa petikan madah dan syair pilihan dari warisan para ulama salaf yang merekam keagungan kelahiran Nabi Muhammad saw.

 

1. Madah dari Maulid Diba’


 

Kitab Maulid ad-Diba’ adalah salah satu karya sastra sejarah Nabi saw yang paling populer dan dicintai oleh umat Islam di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia. Kitab agung ini dikarang oleh seorang ulama besar, ahli hadis, sekaligus sastrawan terkemuka asal Kota Madinah, yaitu Imam Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar as-Syaibani ad-Diba’i (wafat 944 H).

 

Gaya bahasa atau madah dalam Maulid ad-Diba’ dikenal sangat indah, mengalir, penuh dengan kelembutan bahasa Arab, serta memadukan antara prosa berirama (saja') dan bait-bait syair yang menggetarkan jiwa. Sang pengarang tidak hanya menceritakan sejarah kelahiran secara naratif, tetapi juga melukiskannya dengan sentuhan emosi cinta yang mendalam, menggambarkan bagaimana alam semesta menyambut kehadiran Sang Nabi.

 

Salah satu bentuk madah (prosa lirik bermajelis tinggi) yang sangat terkenal dalam Maulid Diba' tatkala menggambarkan detik-detik kelahiran Rasulullah saw adalah sebagai berikut:

 

وَلَمْ تَزَلْ أُمُّهُ تَرَى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ. إِلَى نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ. فَلَمَّا اشْتَدَّ بِهَا الطَّلْقُ. بِإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ. وَوَضَعَتِ الْحَبِيبَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. سَاجِدًا شَاكِرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِي تَمَامِهِ.

 

Artinya, "Dan ibu beliau (Sayyidah Aminah) senantiasa melihat berbagai macam tanda kemuliaan dan keutamaan beliau, hingga sempurna masa kehamilannya. Maka tatkala rasa sakit melahirkan mulai mendera beliau—atas izin Tuhan Pencipta seluruh makhluk—beliau melahirkan sang Kekasih (Nabi Muhammad saw) dalam keadaan bersujud, bersyukur, dan memuji, seolah-olah beliau adalah bulan purnama yang sempurna."

 

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana Imam ad-Diba' melukiskan keistimewaan luar biasa yang membersamai detik-detik kelahiran Nabi Muhammad saw, memperlihatkan kemuliaan beliau yang bahkan telah terpancar sejak berada dalam kandungan hingga saat beliau lahir ke muka bumi.

 

2. Madah dari Maulid Simtud Durar


Kitab Maulid Simtud Durar merupakan salah satu mahakarya sastra spiritual Islam yang sangat agung dan penuh dengan nilai tasawuf yang mendalam. Kitab ini dikarang oleh seorang wali quthub yang juga ulama besar berdarah Hadramaut, yaitu Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi (wafat 1333 H).

 

Gaya bahasa atau madah dalam Simtud Duror dikenal sangat megah, sarat makna filosofis, dan menggambarkan hubungan cinta yang erat antara hamba dengan Sang Pencipta melalui perantara Baginda Nabi saw. 


Habib Ali al-Habsyi merangkai kata demi kata bukan sekadar sebagai kisah sejarah biasa, melainkan sebagai maqam ma'rifat yang melukiskan bagaimana alam semesta bersukacita menyambut detik-detik kemunculan cahaya agung ke muka bumi.

 

Salah satu bentuk madah yang sangat indah dan sarat makna di dalam kitab ini tatkala melukiskan detik-detik menjelang kelahiran Sang Nabi adalah sebagai berikut:

 

فَحِينَ قَرُبَ أَوْانُ وَضْعِ هَذَا الْحَبِيبِ. أَعْلَنَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُونَ وَمَنْ فِيهِنَّ بِالتَّرْحِيبِ. وَأَمْطَارُ الْجُودِ الْإِلَهِيِّ عَلَى أَهْلِ الْوُجُودِ تَثُجُّ. وَأَلْسِنَةُ الْمَلَائِكَةِ بِالتَّبْشِيرِ لِلْعَالَمِينَ تَعُجُّ. وَالْقُدْرَةُ كَشَفَتْ قِنَاعَ هَذَا الْمَسْتُورِ. لِيَبْرُزَ نُورُهُ كَامِلًا فِي عَالَمِ الظُّهُورِ. نُورًا فَاقَ كُلَّ نُورٍ. وَأَنْفَذَ الْحَقُّ حُكْمَهُ. عَلَى مَنْ أَتَمَّ اللَّهُ عَلَيْهِ النِّعْمَةَ. مِنْ خَوَاصِّ الْأُمَّةِ. أَنْ يَحْضُرَ عِنْدَ وَضْعِهِ أُمَّةً. تَأْنِيسًا لِجَنَابِهَا الْمَسْعُودِ. وَمُشَارَكَةً لَهَا فِي هَذَا السِّمَاطِ الْمَمْدُودِ. فَحَضَرَتْ بِتَوْفِيقِ اللَّهِ السَّيِّدَةُ مَرْيَمُ وَالسَّيِّدَةُ آسِيَةُ. وَمَعَهُمَا مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مِنْ قَسَمَ اللَّهُ لَهُ مِنَ الشَّرَفِ بِالْقِسْمَةِ الْوَافِيَةِ. فَأَتَى الْوَقْتُ الَّذِي رَتَّبَ اللَّهُ عَلَى حُضُورِهِ وُجُودَ هَذَا الْمَوْلُودِ. فَانْفَلَقَ صُبْحُ الْكَمَالِ مِنَ النُّورِ عَنْ عَمُودٍ. وَبَرَزَ الْحَامِدُ الْمَحْمُودُ. مُذْعِنًا لِلَّهِ بِالتَّعْظِيمِ وَالسُّجُودِ

 

Artinya, "Maka tatkala telah dekat waktu kelahiran kekasih ini, langit dan bumi serta segala makhluk yang ada di dalamnya mengumumkan ucapan selamat datang. Hujan kemurahan Ilahi tercurah deras kepada segenap penghuni alam wujud.

 

Lisan para malaikat bersahut-sahutan menyampaikan kabar gembira kepada seluruh alam. Kekuasaan Allah menyingkap tabir rahasia yang tersembunyi ini, agar cahaya-Nya nampak sempurna di alam nyata, sebuah cahaya yang mengungguli segala cahaya. 

 

Allah Yang Maha Benar menetapkan ketentuan-Nya bagi siapa saja yang telah disempurnakan nikmat atas mereka dari kalangan pilihan umat, untuk hadir mendampingi saat kelahiran beliau, guna memberikan ketenteraman bagi ibunda beliau yang mulia serta ikut serta dalam hidangan agung yang terbentang ini. 

 

Maka dengan taufik Allah, hadir pula Sayyidah Maryam dan Sayyidah Asiah, bersama bidadari-bidadari surga yang telah Allah berikan bagian kemuliaan yang sempurna. Hingga tibalah saat yang telah diatur oleh Allah bagi wujudnya sang Maulid (bayi yang dilahirkan) ini. Maka terbelahlah fajar kesempurnaan dari cahaya yang memancar, dan tampillah sang Nabi yang senantiasa memuji dan terpuji, seraya tunduk patuh kepada Allah dengan penuh pengagungan dan sujud."

 

Habib Ali al-Habsyi menggambarkan bagaimana seluruh elemen langit, malaikat, bahkan wanita-wanita mulia pilihan Allah seperti Sayyidah Maryam dan Sayyidah Asiah turut dihadirkan untuk menyaksikan dan memuliakan detik-detik lahirnya Sang Nabi akhir zaman.

 

3. Madah dari Maulid Barzanji

 


Kitab Iqd al-Jawahir atau yang lebih populer dengan sebutan Maulid Barzanji merupakan salah satu kitab puji-pujian sejarah Nabi yang paling masyhur, legendaris, dan paling sering dibaca di berbagai penjuru dunia Islam, termasuk di pesantren-pesantren Nusantara. Kitab ini dikarang oleh seorang ulama besar ahli fikih dan sastra asal Kurdi, yaitu Syekh Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji (wafat 1177 H).

 

Gaya bahasa atau madah dalam kitab Barzanji dikenal sangat sistematis, bertutur secara kronologis, indah secara sastra, serta memadukan antara prosa berirama dan penggalan-penggalan nazham (puisi) yang sangat indah. Kitab ini tidak hanya merekam silsilah dan perjalanan hidup Nabi, tetapi juga merangkai setiap babak sejarah beliau dengan sangat indah.

 

Salah satu bentuk madah yang sangat menyentuh dan populer di dalam kitab Barzanji tatkala melukiskan kondisi fisik dan peristiwa seusai kelahiran Baginda Nabi saw adalah sebagai berikut:

 

وَبَرَزَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ الْعُلِيَّةِ. مُومِيًا بِذَلِكَ الرَّفْعِ إِلَى سُؤْدَدِهِ وَعُلَاهُ. وَمُشِيرًا إِلَى رَفْعَةِ قَدْرِهِ عَلَى سَائِرِ الْبَرِيَّةِ. بِأَنَّهُ الْحَبِيبُ الَّذِي حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَايَاهُ. وَدَعَتْ أُمُّهُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ يَطُوفُ بِهَاتِيكَ الْبُنِيَّةِ. فَأَقْبَلَ مُسْرِعًا وَنَظَرَ إِلَيْهِ وَبَلَغَ مِنَ السُّرُورِ مُنَاهُ. وَأَدْخَلَهُ الْكَعْبَةَ الْغَرَّاءَ وَقَامَ يَدْعُو بِخُلُوصِ النِّيَّةِ. وَيَشْكُرُ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى مَا مَنَّ بِهَ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ. وَوُلِدَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظِيفًا مَخْتُونًا مَقْطُوعَ السُّرِّ بِيَدِ الْقُدْرَةِ الْإِلَهِيَّةِ. طَيِّبًا دَهِينًا مَكْحُولَةً بِكَحْلِ الْعِنَايَةِ عَيْنَاهُ. وَقِيلَ خَتَنَهُ جَدُّهُ بَعْدَ سَبْعِ لَيَالٍ سَوِيَّةٍ. وَأَوْلَمَ وَأَطْعَمَ وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ

 

Artinya, "Dan beliau sallallahu 'alaihi wa sallam lahir ke dunia dengan meletakkan kedua tangan beliau di atas bumi, serta mengangkat kepala beliau ke langit yang tinggi. Isyarat dari pengangkatan kepala tersebut adalah kemuliaan dan ketinggian derajat beliau, serta petunjuk atas luhurnya kedudukan beliau di atas seluruh makhluk, bahwasanya beliau adalah seorang kekasih yang tabiat dan perangainya sangat terpuji. Ibunda beliau lantas memanggil Abdul Muthalib yang sedang thawaf di Baitullah (Ka'bah). 


Maka ia pun datang dengan bergegas, memandang kepada sang bayi, dan puncak kebahagiaannya pun terpenuhi. Ia lantas membawanya masuk ke dalam Ka'bah yang mulia, berdiri berdoa dengan ikhlas, serta bersyukur kepada Allah Ta'ala atas anugerah dan pemberian yang telah dilimpahkan kepadanya. 


Dan Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam dilahirkan dalam keadaan suci bersih, sudah disunat, dan tali pusarnya telah terpotong oleh tangan kekuasaan Ilahi, dalam keadaan harum, berminyak wangi, serta kedua mata beliau telah celak secara alamiah berkat celak penjagaan Allah. 


 

Ada pula yang berpendapat bahwa kakek beliau lah yang menyunatinya setelah genap tujuh hari. Kakek beliau kemudian mengadakan walimah, memberi makan orang-orang, menamainya dengan nama 'Muhammad', dan memuliakan tempat tinggalnya."

 

Syaikh Ja'far al-Barzanji merekam mukjizat-mukjizat lahiriah yang menyertai kelahiran Nabi saw, sekaligus menggambarkan kebahagiaan mendalam sang kakek, Abdul Muthalib, menyambut cucu tercinta yang kelak menjadi rahmat bagi semesta alam.


4. Syair Burdah


Qashidah Burdah adalah salah satu karya sastra pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang paling agung, legendaris, dan paling banyak dihafal serta dikaji di seluruh dunia Islam hingga hari ini. Syair monumental ini digubah oleh seorang ulama besar dan sastrawan asal Mesir, yaitu Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Bushiri (wafat 695 H).

 

Berbeda dengan kitab-kitab maulid sebelumnya yang banyak menggunakan kalam prosa, Burdah murni ditulis dalam bentuk bait-bait syair (qasidah) dengan sastra yang sangat memukau, serta sarat akan nilai sejarah, tasawuf, dan mukjizat kenabian.

 

Di dalam bab khusus yang membahas tentang kelahiran Sang Nabi saw, Imam al-Bushiri melukiskan bagaimana malam kelahiran Rasulullah saw diiringi oleh berbagai tanda-tanda besar dan goncangan spiritual di alam semesta, termasuk runtuhnya simbol-simbol kekafiran. 

 

Di antara bait-bait syair yang paling masyhur dan indah dalam bagian ini adalah:

 

أَبَانَ مَوْلِدُهُ عَنْ طِيبِ عُنْصُرِهِ ۞ يَا طِيبِ مُفْتَتَحٍ مِنْهُ وَمُخْتَتَمِ

 

Artinya; “Kelahiran sang Nabi menampakkan kesucian diri. Alangkah indah permulaannya, juga indah penghabisannya”

 

يَوْمُ تَفَرَّسَ فِيهِ الْفُرْسُ أَنَّهُمُو ۞ قَدْ أُنْذِرُوا بِحُلُولِ الْبُؤْسِ وَالنِّقَمِ

 

Artinya; “Hari kelahiran Rasulullah saat ada firasat bangsa Persia, bahwa ada peringatan kepada mereka datangnya bencana dan siksa”

 

وَبَاتَ إِيْوَانُ كِسْرَى وَهْوَ مُنْصَدِعٌ ۞ كَشَمْلِ أَصْحَابِ كِسْرَى غَيْرِ مُلْتَئِمِ

 

Artinya; “Saat menjelang malam tiba istana kisra hancur terbelah. Sebagaimana kumpulan sahabat kisra tiada menyatu terpecah belah”

 

وَالنَّارُ خَامِدَةُ الْأَنْفَاسِ مِنْ أَسَفٍ ۞ عَلَيْهِ وَالنَّهْرُ سَاهِي الْعَيْنِ مِنْ سَدَمِ

 

Artinya; “Api sesembahan padam karena duka yang mencekam. Sungai Eufrat tak mengalir, muram karena susah yang amat dalam”

 

Imam al-Bushiri tidak hanya memuji keelokan pribadi Rasulullah saw, tetapi juga merekam bagaimana alam semesta tunduk dan merespons kedatangan Sang Penutup Para Nabi, di mana megahnya kekaisaran Persia seketika gemetar menyambut fajar kenabian.

 

Demikianlah beberapa petikan madah dan syair pilihan dari berbagai kitab maulid monumental serta mahakarya sastra klasik, seperti Maulid ad-Diba’, Maulid Simtud Durar, Maulid Barzanji, hingga Qashidah Burdah. 

 

Gubahan-gubahan indah yang ditulis oleh para ulama salaf tersebut bukan sekadar karya seni kata biasa, melainkan wujud nyata dari luapan cinta, rindu, dan penghormatan yang tulus kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.

 

------------
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan