Perang Hunain: 10 Pelajaran dan Hikmah darinya
Perang Hunain memberikan pelajaran, jumlah pasukan Muslim yang banyak tidak ada artinya jika mereka tidak bersabar dan bertakwa.
Kumpulan artikel kategori Sirah Nabawiyah
Perang Hunain memberikan pelajaran, jumlah pasukan Muslim yang banyak tidak ada artinya jika mereka tidak bersabar dan bertakwa.
Kedengkian Bani Israil menjadi pangkal dari berbagai penyakit dan kutukan. Allah cabut kemuliaan mereka. Mereka menjadi bangsa terlunta-lunta, hidup di bawah penindasan bangsa lain.
Dakwah dengan cara demikian pada fase awal penyebaran Islam terbukti efektif dan membuahkan hasil. Banyak orang-orang yang menyatakan masuk Islam. Dalam sejarah, kemudian mereka disebut sebagai as-sabiquna al-awwalun (orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam).
Ahlul Kitab yang paling sengit memusuhi Nabi adalah kaum Yahudi. Mereka keturunan Ibrahim, dari jalur Ya’qub, alias Israil. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai Bani Israil.
Rasulullah ﷺ juga mengistimewakan para mualaf, yaitu orang-orang Makkah yang baru masuk Islam, dengan memberi mereka bagian dari harta rampasan perang lebih banyak dan ditambah pula berbagai macam pemberian lainnya.
Begitu pun Rasulullah dan para sahabat saat itu. Menyebarkan agama Islam dan berjihad merupakan bentuk taklif yang paling tinggi levelnya. Mengingat nasib agama Islam ada di tangan mereka saat itu. Jika mereka tetap mempertahankan dan menyebarluaskan Islam, maka Islam semakin besar.
Sikap lemah lembut dan ramahnya Rasulullah, sekalipun pada musuh, memberikan dampak yang sangat besar terhadap berkembangnya ajaran Islam.
Dalam perang Khandaq datang pertolongan yang Allah janjikan kepada nabi-Nya, berupa badai pasir yang meluluhlantakkan tenda-tenda dan menakut-nakuti tunggangan musuh.
Dalam memutuskan masalah yang menyangkut keselamatan jiwa masyarakatnya, para sahabat Nabi tetap mengutamakan adab. Mereka semua adalah sahabat Nabi yang terpilih dan ulama panutan umat yang setiap pendapatnya tidak didasarkan atas kepentingan pribadi.
Sekte Mu’tazilah mendapatkan dukungan dan pengikut sangat besar di masa dinasti Abbasiyyah. Awal kejayaan sekte di Mu’tazilah dimulai sejak masa kepemimpinan Khalifah Harun ar-Rasyid.
Imam Abu Hanifah juga mengambil sanad hadits kepada Abu Ishaq as-Sabi’i, Muharib bin Ditsar, Hammad bin Abu Salamah, al-Haitsam bin Hubaib, Qais bin Muslim, Muhammad bin al-Munkadir, Hisyam bin ‘Urwah, Simak bin Harb dan Nafi’ Maula Ibnu ‘Umar.
Garis proyek memasukkan sebuah rumah kecil yang lebih layak disebut gubuk Yahudi ke dalam sudut area masjid. Gubuk kecil milik Yahudi ini menghalangi kesempurnaan bangunan masjid.