Hijrah Rasulullah ke Madinah: Ancaman dan Hikmahnya
Setelah mengetahui kepergian para Sahabat Rasulullah ﷺ ke Madinah, kaum kafir Quraisy mengalami kekalutan dan kebingungan. Mereka berasa terganggu secara ideologis dan ekonomi.
Kumpulan artikel kategori Sirah Nabawiyah
Setelah mengetahui kepergian para Sahabat Rasulullah ﷺ ke Madinah, kaum kafir Quraisy mengalami kekalutan dan kebingungan. Mereka berasa terganggu secara ideologis dan ekonomi.
Kebijakan ‘curang’ itu berisi tentang larangan menikahi kedua suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib, melakukan transaksi dengan mereka, membuka jalan nafkah untuk mereka, berdamai dengan mereka, dan membantu mereka, sampai pihak Bani Muthalib bersedia menyerahkan Rasululllah saw untuk dibunuh.
Utbah bin Rabi’ah, salah satu pimpinan kaum Qurasiy, mendatangi Rasulullah dan melakukan upaya negoisasi. Ia berkata, “Wahai keponakanku, sebagaimana kau ketahui, sesungguhnya engkau bagian dari kami.
Banyak orang yang tak tahu, Ka'bah pernah diruntuhkan fondasinya lalu dibangun kembali pada masa Nabi Muhammad, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi utusan Allah.
Kerusakan masyarakat Arab saat itu tidak menjadikan Rasulullah larut di dalamnya. Justru, kehadirannya menjadi penawar dan penyelamat bangsa Arab dari jeleknya sebuah tradisi.
Tawakal bukan berarti penyerahan mutlak nasib manusia kepada Allah semata. Namun penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi.
Nabi Muhammad memiliki sifat yang lemah lembut terhadap sesama manusia, dan bersikap dengan akhlak yang luhur sehingga segala kegiatannya senantiasa memperhatikan tingkatan sosial dan pengetahuan lawan bicaranya, beliau senantiasa menyesuaikan diri.
Setelah Rasulullah yakin dengan perlindungan pamannya, beliau memberanikan diri untuk menaiki bukit Shafa dan berseru dengan lantang untuk mengumpulkan orang-orang Makkah. “Wahai Bani Fihr! Wahai bani ‘Adi!” seru Muhammad lantang. Mendengar seruan amat penting ini, marga-marga Quraisy pun berkumpul.
Nabi Muhammad sudah Allah persiapkan untuk menjadi seorang nabi, seorang utusan Allah yang akan menyebarkan ajaran-Nya, dan seorang Nabi Akhir Zaman. Allah ingin mendidik jiwa kepemimpinan (leadership) pada sang Nabi. .tb_button {padding:1px;cursor:pointer;border-right: 1px solid #8b8b8b;border-left: 1px solid #FFF;border-bottom: 1px solid #fff;}.tb_button.hover {borer:2px outset #def; background-color: #f8f8f8 !important;}.ws_toolbar {z-index:100000} .ws_toolbar .ws_tb_btn {cursor:pointer;border:1px solid #555;padding:3px} .tb_highlight{background-color:yellow} .tb_hide {visibility:hidden} .ws_toolbar img {padding:2px;margin:0px} .tb_button {padding:1px;cursor:pointer;border-right: 1px solid #8b8b8b;border-left: 1px solid #FFF;border-bottom: 1px solid #fff;}.tb_button.hover {borer:2px outset #def; background-color: #f8f8f8 !important;}.ws_toolbar {z-index:100000} .ws_toolbar .ws_tb_btn {cursor:pointer;border:1px solid #555;padding:3px} .tb_highlight{background-color:yellow} .tb_hide {visibility:hidden} .ws_toolbar img {padding:2px;margin:0px}
Dalam kitab Fiqh al-Sirah (hal 21-22), Syekh Sa'id Ramadhan al-Buthi (w. 2013 M) menjelaskan tujuan-tujuan yang lebih pokok dalam mempelajari sejarah hidup Rasulullah saw. Beliau menyampaikan, setidaknya ada lima tujuan yang perlu kita terapkan dalam membaca Sirah Nabawiyah.
Kala itu Nabi Muhammad masih dalam asuhan Halimah as-Sa’diyah. Nabi tumbuh sehat di perkampungan Bani Sa’ad itu. Selayaknya anak kecil pada umumnya, Nabi Muhammad pun bermain, lari-lari dan melakukan aktifitas lazimnya anak seusianya.
Pembesar-pembesar Muslim maupun Romawi dan pemimpin Kristen siap menyambut kedatangan Khalifah Umar dari Madinah. Setelah melihat kedatangan Khalifah Umar, pembesar Romawi dan pemimpin-pemimpin Kristen terkejut karena sang khalifah menaiki unta tanpa pengawalan besar-besaran. Bahkan Khalifah Umar hanya ditemani oleh seorang ajudannya.