Apakah Konten Kreator Wajib Zakat dari Penghasilannya?
NU Online ยท Jumat, 2 Januari 2026 | 14:16 WIB
Bushiri
Kolumnis
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2025 mencatat tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66 %. Angka ini menjangkau lebih dari 229 juta penduduk. Capaian tersebut meningkat dari 79,50 % pada tahun 2024. Pengguna internet didominasi oleh Generasi Z dan Milenial. Kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan juga semakin menyempit.
Perkembangan internet telah mengubah peran media sosial secara signifikan. Media sosial kini tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana silaturahmi atau berbagi cerita, tetapi juga berkembang menjadi sumber penghasilan. Hal ini terlihat dari maraknya aktivitas para konten kreator, seperti YouTuber, TikToker, dan kreator di berbagai platform digital lainnya.
Penghasilan yang diperoleh para konten kreator pun tidak sedikit. Dalam banyak kasus, jumlahnya bisa mencapai puluhan juta hingga miliaran rupiah. Bahkan, hanya dari satu konten saja, seorang kreator dapat meraup pendapatan puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, khususnya terkait kewajiban zakat. Bagaimana kedudukan zakat atas penghasilan konten kreator? Pertanyaan ini semakin menguat seiring besarnya pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas tersebut.
Zakat Konten Kreator dalam Tinjauan Fiqih
Dalam perspektif fiqih kontemporer, penghasilan konten kreator dikategorikan sebagai al-mal al-mustafad, yaitu harta yang diperoleh dari hasil usaha atau pekerjaan. Para ulama dari empat mazhab, yaitu Syafiโi, Maliki, Hanafi, dan Hanbali, sepakat bahwa harta penghasilan tidak wajib dizakati kecuali telah mencapai nishab dan sempurna satu haul.
Penjalasan tersebut sebagaimana disampaikan Syekh Wahbah Zuhaili:
ููุงููู ูููุฑููุฑู ููู ุงููู ูุฐูุงููุจู ุงููุฃูุฑูุจูุนูุฉู ุฃูููููู ููุง ุฒูููุงุฉู ููู ุงููู ูุงูู ุงููู ูุณูุชูููุงุฏู ุญูุชููููฐ ููุจูููุบู ููุตูุงุจูุง ููููุชูู ูู ุญูููููุง
Artinya, โKetetapan dalam empat mazhab menyatakan bahwa tidak ada kewajiban zakat atas harta penghasilan sampai harta tersebut mencapai nishab dan genap satu haul.โ (Wahbah Zuhaili, Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, [Damaskus, Darul Fikr: t.t.], jilid III, halaman 1949)
Batas nishab penghasilan konten kreator disamakan dengan nishab emas, yaitu senilai 85 gram emas. Jika harga emas saat ini sebesar Rp2.566.000 per gram, maka nilai nishabnya adalah Rp218.110.000. Konten kreator yang memiliki penghasilan sebesar atau melebihi angka tersebut wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %, yaitu Rp5.452.750.
Hal ini mengingat bahwa uang dalam konteks kekinian dapat menggantikan posisi emas sebagai alat transaksi. Sehingga memiliki ketentuan kewajiban zakat yang sama sebagaimana halnya emas. Syekh Abdurrahman al-Jaziri menjelaskan:
ุฌูู ููููุฑู ุงููููููููุงุกู ููุฑููููู ููุฌููุจู ุงูุฒููููุงุฉู ููู ุงููุฃูููุฑูุงูู ุงููู ูุงูููููุฉูุ ููุฃููููููุง ุญููููุชู ู ูุญูููู ุงูุฐููููุจู ููุงููููุถููุฉู ููู ุงูุชููุนูุงู ูููุ ููููู ููููู ุตูุฑูููููุง ุจูุงููููุถููุฉู ุจูุฏูููู ุนูุณูุฑูุ ููููููุณู ู ููู ุงููู ูุนูููููู ุฃููู ููููููู ููุฏูู ุงููููุงุณู ุซูุฑูููุฉู ู ููู ุงููุฃูููุฑูุงูู ุงููู ูุงูููููุฉูโฆ ููููุง ููุฎูุฑูุฌูููู ู ูููููุง ุฒูููุงุฉู
Artinya, โMayoritas fuqaha berpendapat wajibnya zakat atas uang kertas, karena uang tersebut telah menggantikan emas dan perak dalam transaksi, dan dapat ditukarkan dengan perak tanpa kesulitan, sehingga tidak masuk akal jika manusia memiliki kekayaan berupa uang kertas tetapi tidak terkena kewajiban zakat.โ (Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqhu โAla Madzahibil Arbaโah, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 2003], jilid I, halaman 549)
Jika penghasilan telah mencapai satu nishab maka zakatnya dapat dikeluarkan pada saat menerima penghasilan sekalipun belum mencapai hawalan al haul (satu tahun kepemilikan). Jika belum mencapai nishab maka dikumpulkan selama satu tahun, lalu dikeluarkan setelah penghasilannya sudah mencapai nishab.
Dalam hal ini, Ibnu Naqib dalam โUmdatus Salik menjelaskan:
ููููููู ู ูุงูู ููุฌูุจูุชู ุฒูููุงุชููู ุจูุญููููู ููููุตูุงุจู ุฌูุงุฒู ุชูููุฏููู ู ุงูุฒููููุงุฉู ุนูููู ุงููุญููููู ุจูุนูุฏู ู ููููู ุงููููุตูุงุจู ููุญููููู ููุงุญูุฏู
Artinya, โSetiap harta yang wajib dizakati karena terpenuhinya haul dan nishab, boleh dizakati lebih awal sebelum haul, setelah memiliki nishab, untuk satu haulโ. (Ibnu Naqib, โUmdatus Salik, [Qatar, as-Syuโun ad-Diniyah: 1982], jilid I, halaman 108).
Zakat bagi konten kreator memiliki aturan tersendiri. Hal ini merujuk pada Keputusan Ijtimaโ Ulama Komisi Fatwa Nomor 04/Ijtimaโ Ulama/VIII/2024 tentang zakat bagi YouTuber, selebgram, dan pelaku ekonomi kreatif digital lainnya. Intinya, konten atau usaha yang dijalankan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam.
Penghasilan dari aktivitas sebagai konten kreator sangat bergantung pada jenis konten yang dibuat. Jika konten tersebut melanggar syariat, seperti mengandung pornografi atau eksploitasi seksual, perbuatan asusila, ghibah, adu domba (namimah), fitnah, perjudian, atau penistaan agama, maka penghasilan yang diperoleh dinyatakan haram.
Bagi pelaku yang terlanjur memperoleh penghasilan dari konten semacam itu, diwajibkan untuk bertobat. Harta tersebut tidak dikenakan zakat, tetapi sebaiknya disalurkan untuk kepentingan sosial sebagai bentuk membersihkan harta dan tanggung jawab moral.
Hal ini sebagaimana ketentuan dalam ensiklopedia al-Mausuโah al-Fiqiyah al-Quwaitiyah:
ุงููู ูุงู ุงููุญูุฑูุงู ู ููุงููู ูุฃูุฎููุฐู ุบูุตูุจูุง ุฃููู ุณูุฑูููุฉู ุฃููู ุฑูุดูููุฉู ุฃููู ุฑูุจูุง ุฃููู ููุญููู ุฐููููู ููููุณู ู ูู ููููููุง ููู ููู ูููู ุจูููุฏูููุ ูููุงู ุชูุฌูุจู ุนููููููู ุฒูููุงุชูููุ ูุฃููููู ุงูุฒููููุงุฉู ุชูู ููููููุ ููุบูููุฑู ุงููู ูุงูููู ูุงู ููููููู ู ููููู ุชูู ููููููุ ูููุฃููููู ุงูุฒููููุงุฉู ุชูุทููููุฑู ุงููู ูุฒูููููู ููุชูุทููููุฑู ุงููู ูุงู ุงููู ูุฒููููู
Artinya, โHarta haram seperti yang diambil dengan paksa, dicuri, disuap, riba, atau sejenisnya tidak bisa dimiliki oleh orang yang mempunyainya, sehingga tidak wajib dizakati; karena zakat adalah pemberian hak milik, dan orang yang bukan pemilik tidak dapat memberikan hak milik. Selain itu, zakat membersihkan pemberi zakat dan harta yang dizakatiโ. (Kementerian Wakaf Kuwait,ย al-Mausuโah al-Fiqiyah al-Quwaitiyah, [Kuait, Darus Salasil:1404], jilid XXIII, halaman 248)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa zakat penghasilan bagi konten kreator memiliki dasar yang jelas dalam fikih Islam. Penghasilan digital dipandang sebagai harta penghasilan yang wajib dizakati apabila telah mencapai nishab senilai emas 85 gram dan yang dikeluarkan adalah 2.5% dari penghasilan.
Kewajiban zakat tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan. Jenis konten yang dihasilkan juga menjadi syarat utama. Konten yang bertentangan dengan syariat menjadikan penghasilan tersebut tidak sah sebagai objek zakat. Demikian semoga bermanfaat. Waallahu aโlam
-------
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan
ย
Terpopuler
1
10 Pendapat Al-Albani yang Bertentangan dengan Imam Mazhab dan Mayoritas Ulama Ahlussunnah
2
Kesaksian Ketua PCNU Jombang tentang Sosok Gus Kikin, Harap Rangkul Berbagai Kalangan di PBNU
3
Seismik Anak Krakatau Menurun, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Lebih Kuat Masih Terbuka
4
NU Online Institute Buka Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 untuk Mahasantri Ma'had Aly
5
Lima Gunung Api Berstatus Siaga, Aktivitas Anak Krakatau hingga Semeru Masih Terpantau
6
Khutbah Jumat: Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita, Belajar dari Surah At-Takatsur
Terkini
Lihat Semua