Syariah

Berwudhu dengan Air Satu Gayung, Bolehkah? (II)

NU Online  ยท  Selasa, 1 Januari 2019 | 09:00 WIB

Setelah sebelumnya dibahas tentang jumlah air yang sunnah digunakan dalam wudhu, sekarang kita membahas masalah berikutnya dalam kasus berwudhu dengan air satu gayung, yakni tata caranya.

Bila seseorang berwudhu dengan cara menuangkan air sedikit demi sedikit dari wadahnya (gayung) ke anggota wudhu tanpa memasukkan tangan ke dalam wadah air, maka cara ini adalah cara yang disepakati kebolehannya. Bahkan inilah cara berwudhu yang standar bila memakai air yang sedikit (jumlahnya kurang dari 2ย qullah). Adapun bila memakai air banyak atau air yang jumlahnya melebihi ukuran duaย qullahย (sekitar 270 liter menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaily), maka tak masalah baik berwudhu dengan cara airnya dituangkan atau berwudhu di dalam wadah airnya.
Adapun bila seseorang berwudhu dengan cara memasukkan tangannya ke dalam gayung, maka cara ini butuh perincian lebih lanjut tentang keabsahannya sebab air yang jumlahnya kurang dari duaย qullahย akan menjadi mustaโ€™mal (air sisa) ketika sudah dipakai untuk menyucikan satu anggota wudhu sehingga dalam pandangan banyak ulama, terutama Syafiโ€™iyah, ia tak bisa dipakai lagi untuk menyucikan anggota wudhu lainnya. Imam Nawawi berkata:

ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุบูŽู…ูŽุณูŽ ุงู„ู’ู…ูุชูŽูˆูŽุถู‘ูุฆู ูŠูŽุฏูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุฅูู†ูŽุงุกู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ููŽุฑูŽุงุบู ู…ูู†ู’ ุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ูุŒ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุตูุฑู’ ู…ูุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู‹ุง. ูˆูŽุฅูู†ู’ ุบูŽู…ูŽุณูŽู‡ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ููŽุฑูŽุงุบูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุจูู†ููŠู‘ูŽุฉู ุฑูŽูู’ุนู ุงู„ู’ุญูŽุฏูŽุซูุŒ ุตูŽุงุฑูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู‹ุง. ูˆูŽุฅูู†ู’ ู†ูŽูˆูŽู‰ ุงู„ูุงุบู’ุชูุฑูŽุงููŽุŒ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุตูุฑู’ุŒ

โ€œApabila seseorang mencelupkan tangannya ke dalam wadah air sebelum ia selesai dari membasuh muka maka airnya tidak menjadi mustaโ€™mal.. Apabila ia mencelupkan tangannya setelah selesai membasuh muka dengan niatan untuk menghilangkan hadas tangan maka airnya menjadi mustaโ€™mal. Apabila ia berniatย ightirรขfย maka tidak menjadi mustaโ€™mal.โ€ (an-Nawawi, Raudlat al-Thรขlibรฎn, juz I, halaman 9)

Lebih jelasnya, Syaikh Saโ€™id bin Muhammad Baโ€™alawi menjelaskan praktiknya seperti berikut:

ู€ (ูุฅุฐุง ุฃุฏุฎู„) ุงู„ุฌู†ุจ ุฌุฒุกุงู‹ ู…ู† ุจุฏู†ู‡ ุจุงู‚ูŠุงู‹ ุนู„ู‰ ุฌู†ุงุจุชู‡ ุจุนุฏ ู†ูŠุฉ ุงู„ุบุณู„ุŒ ุฃูˆ (ุงู„ู…ุชูˆุถู‰ุก) ุฌุฒุกุงู‹ ู…ุญุฏุซุงู‹ ู…ู† ูŠุฏู‡ ุงู„ูŠู…ู†ู‰ ุฃูˆ ุงู„ูŠุณุฑู‰ (ูŠุฏู‡ ููŠ ุงู„ู…ุงุก ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุจุนุฏ ุบุณู„ ูˆุฌู‡ู‡) ุซู„ุงุซุงู‹โ€ฆ (ุบูŠุฑ ู†ุงูˆ ุงู„ุงุบุชุฑุงู) ุจุฃู† ุฃุฏุฎู„ู‡ุง ุจู‚ุตุฏ ุบุณู„ู‡ุง ููŠ ุงู„ุฅู†ุงุกุŒ ุฃูˆ ู…ุน ุงู„ุฅุทู„ุงู‚ ( ... ุตุงุฑ ุงู„ู…ุงุก ู…ุณุชุนู…ู„ุงู‹) ู€ย 

โ€œApabila seseorang yang junub memasukkan sebagian badannya yang statusnya masih junub setelah ia berniat untuk mandi, atau seorang yang berwudhu memasukkan sebagian anggota tubuhnya yang masih berhadas, berupa tangan kanan atau kiri, ke dalam air yang sedikit setelah ia membasuh wajahnya sebanyak 3 kali, .... tanpa ia berniat untukย ightirรขf, semisal ia memasukkan tangannya dengan niat membasuhnya di dalam wadah atau tanpa niat apapun maka airnya menjadi mustaโ€™mal.โ€ (Saโ€™id bin Muhammad Baโ€™alawi, Syarh Muqaddimah al-Hadlramiyah, halaman 77).

Jadi, permasalahan utamanya terletak pada niatย ightirรขf. Bila seseorang memasukkan tangannya ke dalam gayung atau wadah air lainnya dengan niatย ightirรขf, maka airnya tidak menjadi musta'mal sehingga tak masalah untuk dipakai melanjutkan wudhu. Akan tetapi bila tanpa niatย ightirรขfย ini, maka airnya berstatus sebagai air mustaโ€™mal sehingga tak bisa dipakai melanjutkan wudhu dan harus diganti dengan air lainnya. Niatย ightirรขfย ini tempatnya ketika awal mula tangan menyentuh air dalam wadah. Syaikh asy-Syarwani berkata:

ูˆูŽุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ู…ูŽุญููŠุตูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุชู‘ูŽููŽุงูˆูุชู ู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ุจูุฏู‘ูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู†ููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ูุงุบู’ุชูุฑูŽุงูู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ู…ูู…ูŽุงุณู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ูŠูŽุฏู ู„ูู„ู’ู…ูŽุงุกู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ูŽูˆู’ ุฎูŽู„ูŽุง ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูู…ูŽุงุณู‘ูŽุฉู ุตูŽุงุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ุจูู…ูุฌูŽุฑู‘ูŽุฏู ุงู„ู’ู…ูู…ูŽุงุณู‘ูŽุฉู ู…ูุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู‹ุง

โ€œPendapat yang tak bisa diabaikan dan tidak boleh ditukar dengan yang lain adalah bahwasanya niat ightirรขf tidak boleh tidak harus dilakukan ketika awal mula tangan menyentuh air sehingga apabila di waktu awal persentuhan tersebut tidak ada niat, maka airnya menjadi mustaโ€™mal hanya dengan menyentuhnya saja.โ€ (Syarwani,ย Hawรขsyi asy-Syarwรขni, juz I, halaman 81).

Uraian di atas adalah pendapat yang dianggap kuat dalam mazhab Syafiโ€™i yang difatwakan sebagai pendapat resmi mazhab. Semuanya bertumpu pada ada tidaknya niat ightirรขf. Lalu apa niat ightirรขf itu? Secara bahasa, ightirรขf berarti mengambil air. Niat ightirรขf dalam istilah fiqih adalah niatan dalam hati untuk mengambil air keluar dari wadahnya untuk dipakai menyucikan anggota wudhu di luar wadah. Niat ini sebagai penegasian bahwa tangan menyentuh air tidak dalam rangka menghilangkan hadas tangan di dalam wadah, melainkan sebagai media untuk mengambil air saja.ย 

Imam asy-Syarwani menjelaskan:

ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏู ุจูู‡ูŽุง ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธู ุจูู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุงู„ูุงุบู’ุชูุฑูŽุงููŽุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุฑูŽุงุฏู ุงุณู’ุชูุดู’ุนูŽุงุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงุบู’ุชูุฑูŽุงููŽู‡ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ู’ูŠูŽุฏู ูˆูŽูููŠ ุฎูŽุงุฏูู…ู ุงู„ุฒู‘ูŽุฑู’ูƒูŽุดููŠู‘ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุชูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุถูŽุนูŽ ูŠูŽุฏูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ุฅูู†ูŽุงุกู ุจูู‚ูŽุตู’ุฏู ู†ูŽู‚ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ุบูŽุณู’ู„ู ุจูู‡ู ุฎูŽุงุฑูุฌูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ูŽุงุกู ู„ูŽุง ุจูู‚ูŽุตู’ุฏู ุบูŽุณู’ู„ูู‡ูŽุง ุฏูŽุงุฎูู„ูŽู‡ู ุงู†ู’ุชูŽู‡ูŽู‰. ูˆูŽุธูŽุงู‡ูุฑูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽูˆูŽุงู…ู‘ ุฅู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุตูุฏููˆู†ูŽ ุจูุฅูุฎู’ุฑูŽุงุฌู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฅูู†ูŽุงุกู ุบูŽุณู’ู„ูŽ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู‡ูู…ู’ ุฎูŽุงุฑูุฌูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุตูุฏููˆู†ูŽ ุบูŽุณู’ู„ูŽู‡ูŽุง ุฏูŽุงุฎูู„ูŽู‡ู ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู‡ููˆูŽ ุญูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉู ู†ููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ูุงุบู’ุชูุฑูŽุงูู

โ€œYang dimaksud niat ightirรขf bukankah mengucap saya niat mengambil air (ightirรขf), tetapi merasakan dalam hati bahwa tindakannya mengambil air bertujuan untuk membasuh tangan. Dan dalam kitab Khadim karya Imam Az-Zarkasyi disebutkan bahwa hakikatย ightirรขfย adalah dengan cara meletakkan tangan di dalam wadah air dengan niatan memindah air dan membasuh tangan di luar wadah, bukan dengan maksud membasuh tangan di dalamnya. Yang jelas, bahwa sebagian besar orang bahkan yang awam sekalipun tak lain mereka berniat mengeluarkan air dari wadahnya untuk membasuh tangannya di luar wadah dan tidak bermaksud untuk membasuh tangan di dalamnya. Inilah dia hakikat dari niatย ightirรขfย itu.โ€ (Syarwani,ย Hawรขsyi asy-Syarwรขni, juz I, halaman 80-81).

Dengan demikian menjadi jelas bahwa persoalan ini sebenarnya tidaklah rumit. Intinya, bila seseorang berniat mengambil air keluar dari wadahnya untuk berwudhu di luar wadah, maka airnya tidak menjadi mustaโ€™mal sehingga wudhunya sah. Akan tetapi, bila ia berniat membasuh tangannya (dalam rangka berwudhu) di dalam wadah, maka airnya menjadi mustaโ€™mal dan wudhunya menjadi tidak sah bila terus menggunakan air tersebut.ย 

Lalu apakah ketentuan untuk berniat ightirรขf ini merupakan kesepakatan ulama yang tak bisa ditawar lagi? Kita akan bahas pada bagian selanjutnya.ย 

Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Pengurus Lembaga Bahtsul Masaโ€™il PWNU Jawa Timur


Bersambungโ€ฆ