Imam Thawus bin Kaisan, tokoh besar ahli fiqih generasi tabiin, menegaskan ibadah terbaik adalah ibadah yang paling ringan.
Ahmad Muntaha AM
Kolumnis
Sering kali kita jumpai, asumsi orang bahwa amal atau ibadah terbaik adalah amal yang paling berat. Semakin berat semakin baik. Sebaliknya, semakin ringan semakin diremehkan. Dari asumsi seperti ini kadang muncul sikap meremehkan amal ibadah yang sekilas tampak ringan dan remeh. Padahal amal seperti itu justru berpotensi menjadi amal terbaik.
Ada al-Haula binti Tuwait raโperempuan suku Qurais yang masih satu garis keluarga dengan Sayyidah Khadijah ra namun baru masuk Islam setelah hijrah ke Madinahโ, salah satu dari deretan sahabat yang sangat terkenal sebagai ahli ibadah di kota Nabi saw.
Suatu ketika Al-Haula mengunjungi Sayyidah Aisyah ra. Lalu saat Nabi saw datang, Al-Haula segera berdiri dan bergegas pergi. Melihat hal itu, Nabi saw pun bertanya kepada Sayyidah Aisyah ra, โSiapa itu?โ
โItu adalah orang yang paling giat ibadahnya di kota Madinah,โ jawab Aisyah ra penuh respek terhadap al-Haula ra, sebagaimana diriwayat oleh al-Hasan bin Sufyan.
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, Sayyidah Aisyah menyebutkan orang itu adalah al-Haula binti Tuwait yang setiap malam di tidak pernah tidurโkarena shalat semalam suntukโsebagaimana kabar dari para sahabat lainnya. Namun mendengar jawaban seperti itu justru Nabi saw tidak respek dan bahkan mengingkarinya. Tampak pula muram ketidaksetujuan di wajah beliau.
Nabi saw pun meresponnya secara verbal: โTidak tidur? Lakukanlah amal ibadah semampu kalian. Demi Allah, Allah tidak akan pernah bosan (memberi pahala) sampai kalian sendiri yang bosan (beribadah),โ (An-Nawawi, al-Minhรขj Syarh Shahih Muslim, [Beirut: Dรขrul Ihyรข-it Turรขts alโโArabi: 1392 H], juz VI, halaman 73; dan Ibnu Hajar al-โAsqalani, Fathul Bรขri, [Beirut, Dรขrul Maโrifah: 1379 H], juz I, halaman 101).
Dalam konteks seperti inilah di kemudian hari Imam Thawus bin Kaisan, tokoh besar ahli fiqih generasi tabiin, menegaskan ibadah terbaik adalah ibadah yang paling ringan. Ia berujar:
ุฃูููุถููู ุงููุนูุจูุงุฏูุฉู ุฃูุฎููููููุง
Artinya, โIbadah terbaik adalah ibadah yang paling ringan.โ
Maksudnya, ibadah yang paling ringan dan paling disukai oleh hati lebih berpotensi besar dapat dilakukan secara istiqamah dan berkelanjutan. Bahkan dapat menjadi kebiasaan dan karakter yang mendarah daging padanya. Demikian dijelaskan oleh Abu Yusuf Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya, At-Tamhid. (Ibnu Abdil Bar al-Qurthubi, At-Tamhรฎd limรข fil Muwatthaโ minal Maโรขni wal Asรขnรฎd, [Muโassasah Qurthubah], juz I, halaman 196).
Karena itu, semestinya orang tidak meremehkan amal sekecil atau seringan apapun baik amal ritual maupun amal sosial. Sebab, justru amal yang paling ringan adalah amal terbaik yang lebih mudah dilakukan secara istiqamah sehingga akan membawa hight impact atau dampak besar dalam perbaikan diri bagi pelakunya. Wallรขhu aโlam.
Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 3 Jenis Ucapan yang disukai Allah
2
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
3
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
4
Khutbah Jumat: 8 Hal yang Dijauhi Rasulullah Mulai dari Kecemasan hingga Dililit Utang
5
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
6
Khutbah Jumat: Evaluasi Keuangan Setelah Hari Raya
Terkini
Lihat Semua