Ahmad Rosyidi
Kontributor
Marah menurut ilmu kejiwaan (psikologi) merupakan gejolak emosi yang diungkapkan dengan perbuatan atau ekspresi untuk memperoleh kepuasan. Ada sebagian orang menganggap bahwa dengan marah, dirinya tampak lebih berwibawa. Tentu saja anggapan ini sangat keliru. Umumnya pemarah justru menyebabkan orang-orang di sekitarnya menjauh, takut disakiti.
Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi dalam kitabnya, Arba’in Nawawi, hadits ke-16, menyampaikan riwayat dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah aku nasihat.’ Beliau menjawab: ‘Jangan marah!’ Nabi mengulanginya beberapa kali, ‘Jangan marah’!” (HR al-Bukhari). Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad mengulang kata “jangan marah!” sebanyak tiga kali.
Sayyid ‘Alwi Abu Bakar Muhammad As-Saqaf dalam kitabnya, Al-Bayan fi Syarh al Arba’in an-Nawawi menjelaskan bahwa jika marah disandarkan kepada hak Allah subhanahu wata’ala maka itu berarti berkehendak untuk menyiksa, tetapi jika disandarkan kepada manusia maka marah adalah meluapkan emosi dan perasaan dalam hati ketika menghadapi sesuatu yang dibencinya.
Selanjutnya, ia juga memberikan dua solusi pengobatan agar terhindar dari sifat pemarah, pertama, dengan cara mencegah, yakni kita harus ingat dampak dari marah adalah kerusakan, karenanya kita harus memiliki jiwa penyabar dan selalu menahan amarah.
Kedua, dengan cara menghilangkan, yakni kita harus bisa tahu diri, selalu memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar terhindar godaan setan, kemudian dilanjut dengan mandi atau berwudhu.
Banyak hal buruk yang dapat muncul dari sikap marah. Marah bisa menimbulkan saling membenci, memutus tali silaturahim, permusuhan, dan tercerabutnya keberkahan rezeki. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala memberi apresiasi kepada orang yang selalu menahan amarah dan selalu memberi maaf sebagaimana firman-Nya QS Ali Imran ayat 134:
ـ... الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(Ahmad Rosyidi)
Terpopuler
1
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
2
Raih Lima Keutamaan Ini dengan Laksanakan Puasa Syawal
3
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
4
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
5
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
6
Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat
Terkini
Lihat Semua