Tafsir

Mengurai Luka Tanpa Menghakimi: Perspektif Al-Qur'an atas Parents Shaming

NU Online  ·  Ahad, 24 Mei 2026 | 21:00 WIB

Mengurai Luka Tanpa Menghakimi: Perspektif Al-Qur'an atas Parents Shaming

Ilustrasi anak-anak. Sumber: Canva.

Media sosial memberi kita akses ke ilmu parenting modern, tapi di saat yang sama, ia juga memberi panggung bagi ego kita untuk menghakimi masa lalu. Kini muncul tren membandingkan pola asuh zaman dulu dan sekarang secara tidak adil, bahkan mengarah pada parents shaming.


Kita pasti pernah melewati FYP yang berisi video yang menyindir orang tua zaman dulu. "Kalau anak nangis malah dibentak," atau "Gara-gara pola asuh dulu, kita jadi generasi penuh trauma." Konten seperti ini kini menjadi konsumsi harian.


Tapi melihat ini secara hitam putih juga bukan sikap yang bijak. Adab bermedia sosial memang perlu dibenahi, tapi kita juga tidak bisa menutup mata: sebagian pola asuh masa lalu benar-benar menyisakan luka yang nyata. Lalu, bagaimana Al-Qur'an memandang fenomena ini?


Mengakui Kesalahan Tanpa Menghakimi

Kita perlu jujur bahwa yang salah tetap harus disebut sebagai salah. Kekerasan fisik, bentakan, label "bodoh" atau "nakal", hingga pengabaian emosional, semua itu tidak bisa dinormalisasi dengan alasan "wajar karena zamannya." Mengakui bahwa, misalnya, orang tua kita pernah keliru bukan bentuk kedurhakaan. Itu adalah langkah awal menuju kesadaran dan pemulihan.


Meski begitu, Al-Qur'an menetapkan garis yang sangat tegas: kesalahan orang tua tidak menggugurkan kewajiban anak untuk tetap berbakti dan bertutur kata dengan mulia. Allah berfirman dalam Surat Al-Isra' ayat 23:


فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ۝٢٣


Artinya: “...maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra': 23)


Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi memberikan sebuah interpretasi menarik mengenai ayat tersebut. Simak paparan beliau berikut:


وتأمل قول الله تعالى: ﴿فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ. .﴾ [الإسراء: ٢٣] وهي لفظة بسيطة أقلّ ما يقال، وهذه لفظة قَسْرية تخرج من صاحبها قهرًا دون أن تمر على العقل والتفكير، وكثيرًا ما نقولها عند الضيق والتبرُّم من شيء، فالحق سبحانه يمنعك من هذا التعبير القَسْري، وليس الأمر الاختياري.


Artinya, “Renungkanlah firman Allah Ta’ala: ‘Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”...’ [QS. Al-Isra: 23]. Kata uff itu adalah ungkapan yang sangat sederhana; ia termasuk ucapan paling ringan yang biasa keluar dari seseorang. Bahkan, ia merupakan ungkapan yang bersifat spontan, keluar dari pelakunya seakan tanpa kuasa menahannya, tanpa terlebih dahulu melalui pertimbangan akal dan pikiran.

 

Sering kali kita mengucapkannya ketika merasa sesak, jengkel, atau kesal terhadap sesuatu. Namun Allah melarangmu dari ungkapan spontan semacam ini; bukan hanya dari ucapan atau perbuatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja.”  (Khawathir Haulal Qur’an, [Kairo: Maktabah Akbarul Yaum: tt], jilid. XIV, hal. 8460)


Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui, Allah tidak hanya melarang memukul atau membentak, tetapi memulai dari tingkatan terendah, yaitu kata "Ah", "Cih", atau "Hus". Jika tingkatan paling ringan dan spontan saja dilarang, maka tindakan kasar yang direncanakan tentu jauh lebih diharamkan.


Jika berkata "ah" saja dilarang karena menyakiti hati, bagaimana dengan membuat konten sindiran di media sosial yang bisa dibaca dan ditonton oleh ribuan orang? Membuka ruang publik untuk menertawakan atau menghujat cara mendidik orang tua terdahulu, yang mungkin dilakukan karena keterbatasan informasi, bisa jatuh pada kategori ’ah’ digital dan bertentangan dengan perintah qaulan karima (perkataan yang mulia).


Ragam Bentuk Trauma Anak Akibat Pengasuhan Masa Lalu 

Kesalahan pengasuhan bukan tanpa bekas. Pola asuh yang represif atau dingin melahirkan berbagai bentuk trauma psikologis pada anak saat mereka dewasa, di antaranya:

  1. Pola asuh otoriter membuat anak kesulitan berinteraksi secara sosial. Hal ini disebabkan oleh kesulitan anak dalam mengontrol emosi, kurangnya kemandirian, serta tantangan dalam pengambilan keputusan.
  2. Pola asuh permisif dalam psikologi memiliki berbagai dampak, seperti anak yang cenderung berteriak saat berbicara, suka berdebat dengan orang tua, sulit menerima nasihat, kurang toleran terhadap lingkungan, malas belajar dan beribadah, tidak sabar, selalu ingin dituruti, egois, dan sering berusaha mengendalikan orang tua. 


Solusi Menyembuhkan Trauma Tanpa Memutus Bakti

Menghadapi situasi kompleks ini, apa yang harus dilakukan seorang anak yang terluka? Menyerang orang tua di media sosial jelas bukan solusi. Islam menawarkan jalan keluar yang lebih bermartabat.


Jika komunikasi secara lisan terasa menyakitkan karena ego kedua belah pihak, ketahuilah bahwa bakti tidak pernah buntu. Al-Qur'an mengajarkan kita untuk selalu mendoakan kebaikan bagi orang tua dengan mengingat jasa-jasa masa lalu mereka. Pada ayat selanjutnya, Surat Al-Isra' ayat 24:


وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ


Artinya: “Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra': 24)


Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi memberikan interpretasi yang menarik mengenai ayat tersebut. Simak paparan beliau berikut:


فعليك أن تطلب لهما الرحمة الكبرى من الله تعالى: ﴿وَقُل رَّبِّ ارحمهما كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا. .﴾ [الإسراء: ٢٤] لأن رحمتك بهما لا تَفيِ بما قدّموه لك، ولا ترد لهما الجميل، وليس البادئ كالمكافئ، فهم أحسنوا إليك بداية وأنت أحسنتَ إليهما ردًّا؛ لذلك ادْعُ الله أنْ يرحمهما، وأنْ يتكفل سبحانه عنك برد الجميل، وأن يرحمهما رحمة تكافئ إحسانهما إليك


Artinya: “Maka, hendaklah engkau memohonkan rahmat yang paling besar bagi keduanya dari Allah Ta’ala: 'Dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil.' [QS. Al-Isra: 24].


Karena sesungguhnya rahmat (kasih sayang) yang engkau berikan kepada keduanya tidak akan pernah cukup untuk menandingi apa yang telah mereka berikan kepadamu, dan tidak akan mampu membalas kebaikan mereka. Seseorang yang memulai kebaikan tidaklah sama dengan orang yang sekadar membalas kebaikan.


Merekalah yang telah berbuat baik kepadamu sejak awal, sedangkan engkau berbuat baik kepada mereka hanya sebagai balasan. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia merahmati keduanya, agar Dia yang Maha Suci mewakili dirimu dalam membalas jasa mereka, dan agar Dia merahmati mereka dengan rahmat yang setimpal dengan kebaikan mereka kepadamu.” (Khawathir Haulal Qur’an, jilid. XIV, hal. 8466)


Syekh Sya’rawi menyadarkan kita bahwa sebagai anak, kita memiliki "hutang budi" yang tidak mungkin lunas. Seberapa besar pun pengabdian kita (harta, waktu, tenaga), itu tetaplah sebuah balasan (mukafi'), sedangkan orang tua adalah pemula (badi') yang memberikan kasih sayang tanpa pamrih sejak kita belum bisa apa-apa.


Ayat ini adalah pengingat emosional. Kita diminta untuk mengingat masa kecil kita. Jika hari ini kita bisa membaca, melek teknologi, dan mengerti istilah parenting modern, bukankah itu semua karena modal dasar, keringat, dan air mata yang dikeluarkan oleh orang tua "zaman dulu" yang sedang kita kritik?


Dari paparan di atas dapat disimpulkan, mengakui kesalahan parenting masa lalu adalah bentuk kejujuran, tetapi memperolok orang tua di media sosial adalah bentuk kesombongan intelektual. Bagi kita yang sedang berjuang menyembuhkan luka masa kecil, dekaplah trauma itu dengan bijak. Memutus rantai trauma tidak harus dilakukan dengan mematahkan hati orang tua yang sudah mulai senja.


Selain itu, media sosial seharusnya menjadi jembatan ilmu, bukan jurang pemisah antara anak dan orang tua. Memutus rantai trauma tidak harus dilakukan dengan melukai hati orang tua yang telah membesarkan kita. Sebab, sebaik apa pun gaya asuh kita kepada anak hari ini, ia tidak akan berkah jika dimulai dari sikap durhaka (uququl walidain) terhadap orang tua kita sendiri. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.