Tafsir

Tafsir Surat Yasin Ayat 12: Royalti Perintis Kebaikan dan Keburukan

Sel, 10 Januari 2023 | 17:00 WIB

Tafsir Surat Yasin Ayat 12: Royalti Perintis Kebaikan dan Keburukan

Ilustrasi: Al-Quran (Freepik -NU Online)

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemah, dan kutipan sejumlah tafsir ulama dari surat Yasin ayat 12:
 

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ


Innā naḫnu nuḫyil-mautā wa naktubu mā qaddamū wa ātsārahum, wa kulla syai'in aḫshaināhu fī imāmim mubīn. 


Artinya, "Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz)."


 

Asbabun Nuzul Surat Yasin Ayat 12

Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam At-Tafsirul Munir menjelaskan, sebab turun ayat ini lebih khususnya lagi pada kalimat وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْ adalah bermula ketika Bani Salimah yang tinggal di sudut kota Madinah mengeluh kepada Rasulullah bahwa tempat tinggal mereka jauh dari masjid, sehingga ada tantangan tersendiri untuk berjalan menuju masjid.


Keluhan tersebut langsung dijawab oleh Allah dengan menurunkan firman-Nya:


وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْ


Artinya: “Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).”


Rasulullah pun bersabda:
 

عليكم منازلكم فانما تكتب اثاركم


Artinya: “Menetaplah di rumahmu maka jejakmu akan dicatat.” (Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 2009, jilid XI, halaman 637).

 

Syekh Hamami Zadah dalam kitab Tafsir Yasin menerangkan, sekelompok kabilah Ansar mengeluh kepada Rasulullah perihal lokasi rumahnya yang jauh dari masjid, mereka mengungkapkan keinginannya untuk membangun rumah di sekitar masjid agar memudahkan ibadah.



Tidak lama kemudian turunlah ayat tersebut dan diketahui bahwa semakin banyak langkah kaki menuju masjid, semakin banyak pula pahala yang akan diraih. Bukan hanya langkah yang dihitung, malaikat pencatat amal juga akan mencatat jejak kaki sebagai ibadah.



Rasulullah juga bersabda: "Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat? (Yaitu) menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki menuju ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat." (Hamami Zadah, Tafsir Yasin, [Semarang: Toha Putra], halaman 4-5).

 


Ragam Tafsir Surat Yasin Ayat 12

Yasin merupakan salah satu surat Al-Qur'an yang sering dibaca oleh umat Islam di Indonesia. Dari 83 ayat dalam Surat Yasin, ada satu ayat yang menjelaskan tentang "royalti amal" berupa pahala yang akan terus mengalir kepada para perintis kebaikan. Sebaliknya, aliran dosa akan terus dilimpahkan kepada perintis sebuah keburukan.


Dalam ayat 12 Surat Yasin terdapat kalimat وَاٰثَارَهُمْ yang dimaknai oleh sebagian ulama sebagai suatu peninggalan yang kemudian diikuti atau diteruskan oleh followers maupun generasi berikutnya, terlepas sesuatu itu dinilai baik ataupun buruk.


Syekh Hamami Zadah menjelaskan, sebagian ulama menafsirkan "atsar" sebagai bekas kaki orang-orang yang berangkat dari rumah ke masjid. Hal ini mengacu pada asbabun nuzul sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya.


Sementara itu, untuk menjelaskan makna kata "atsar" Syekh Wahbah Az-Zuhaili mengutip hadits shahih:


مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ  


Artinya: “Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun; dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR Muslim).


Syekh Az-Zuhaili juga menambahkan hadits populer:


إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


Artinya:  “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”


Atsar atau peninggalan ada yang bersifat materi, misalnya ada seseorang mewakafkan tanah untuk masjid, selama masjid itu eksis, selama itu pula aliran pahala akan diterima pewakaf. Sebaliknya, jika seseorang membangun tempat maksiat, selama tempat itu ada dan digunakan untuk kemasiatan, selama itu pula pencetus atau perintisnya akan mendapat jatah dosa.


Atsar yang bersifat bukan materi misalnya adalah ilmu. Jika seorang guru menyebarluaskan ilmu agama melalui tulisan ataupun lisan. Selama ilmu itu masih tersimpan dalam buku atau membekas dalam benak muridnya, selama itu pula pahala akan mengalir untuk guru tersebut ditambah pahala dari murid-murid yang menyebarkan ilmunya. 


Ulama-ulama terdahulu tidak menetapkan royalti duniawi di setiap karya-karya tulisnya karena yang diharapkan adalah royalti ukhrawi. Bahkan di Nusantara banyak ditemukan kitab ulama yang tidak disebutkan nama atau sosok penulisnya.


Contoh sebaliknya, jika seseorang membuat fitnah atau hoaks kemudian viral dan terjadi permusuhan, selama fitnah atau hoaks tersebut belum hilang dari peredaran, selama itu pula si pembuat hoaks akan menerima dosanya, ditambah pula dosa dari orang-orang yang menyebarluaskannya.


Semua atsar itu akan tercatat dengan rapi dan rinci. Di akhirat kelak, para pelakunya tidak mungkin bisa mengelak ketika diminta pertanggungjawaban. Karena semuanya terpampang dengan jelas dalam buku catatan amal masing-masing. Wallahu a'lam.


 

Ustadz Muhammad Aiz Luthfi, Pengajar Ma'had Al-Mukhtariyyah Al-Karimiyyah, Subang, Jawa Barat