Jangan Berlarut dalam Kesedihan: Sisi Manusiawi Rasulullah dalam Surat Asy-Syu'ara Ayat 3
NU Online ยท Senin, 5 Oktober 2026 | 15:00 WIB
Syifaul Qulub Amin
Kolumnis
Dalam hidup, kita pasti punya harapan. Ingin mendapat pekerjaan, karier yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, dan berbagai cita-cita lainnya.
Rasulullah SAW pun memiliki harapan besar, terutama agar dakwah Islam dapat diterima dan tersebar luas di tengah masyarakat Makkah. Namun, tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya Allah menetapkan jalan yang berbeda. Kegagalan pun bisa menjadi pelajaran dan membuka jalan menuju kebaikan lain yang tidak kita sangka.
Ketika harapan tidak tercapai, rasa sedih dan kecewa adalah hal yang manusiawi. Rasulullah SAW juga pernah mengalaminya ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang beliau harapkan. Hal tersebut terekam dalam Surat Asy-Syu'araโ ayat 3. Allah SWT berfirman:
ููุนูููููู ุจูุงุฎูุนู ูููููุณููู ุงููููุง ููููููููููุง ู
ูุคูู
ููููููู
Artinya, "Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 3).
Sabab Nuzul ayat ini diuraikan oleh Imam al-Baghawi dalam Tafsirul Baghawi. Suatu hari, Rasulullah SAW sedang berharap dan semangat dalam mendakwahkan agama Islam. Beliau berharap agar penduduk Makkah beriman kepada Allah SWT. Tapi, apa yang diperoleh beliau bukanlah keimanan, melainkan dusta dari mereka.ย
Mari simak penjelasan sebab turunnya ayat ini:
ููุฐููููู ุญูููู ููุฐููุจููู ุฃููููู ู
ููููุฉู ููุดูููู ุนููููููู ุฐูููููุ ููููุงูู ููุญูุฑูุตู ุนูููู ุฅููู
ูุงููููู
ูุ ููุฃูููุฒููู ุงูููููู ููุฐููู ุงููุขููุฉู
Artinya, "Ketika penduduk Makkah berdusta terhadap Rasulullah SAW, lalu beliau merasa berat (bersedih), dan (pada waktu bersamaan) beliau sangat berharap atas keimanan mereka (penduduk Makkah). Oleh karena itu, Allah SWT lalu menurunkan ayat ini." (Abu Muhammad Baghawi, Tafsirul Baghawi. [Riyadh: Dar Thaibah, 1997 M], jilid VI, hlm. 106).ย
Bersedih Boleh, Berlarut dalam Kesedihan Jangan!
Dalam ayat ini tampak jelas ada harapan Rasulullah yang tak sesuai kehendak Allah SWT. Kaum Quraisy pada saat itu yang sangat diharapkan beliau keimanannya ternyata telah tercatat dalam takdir Allah SWT sebagai hamba-Nya yang tidak beriman.
Syekh Nawawi Banten saat menafsirkan ayat ini menguraikan secara jelas bagaimana Rasulullah SAW sangat bersedih hingga oleh Allah SWT diingatkan bahwa berlarut-larut dalam kesedihan sama sekali tidak memiliki manfaat.
Mari simak selengkapnya uraian berikut:
ููุนู ููุฅุดูุงู ููู ุจู
ุนูู ุงูุฃู
ุฑ ุฃู ุฃุดูู ุนูู ููุณู ุฃู ุชูุชููุง ูุนุฏู
ุฅูู
ุงู ูุฑูุด ุจุฐูู ุงููุชุงุจ ุงููุงุตู ุจูู ุงูุญู ูุงูุจุงุทูุ ุฃู ูุง ุชุจุงูุบ ูู ุงูุญุฒู ุนูู ู
ุง ูุงุชู ู
ู ุฅุณูุงู
ููู
ู ูุฃูู ูุง ุฃูุฑู
ุงูุฑุณู ุฅู ุจุงูุบุช ููู ููุช ุจู
ูุฒูุฉ ู
ู ููุชู ููุณูุ ุซู
ูุง ููุชูุน ุจุฐูู ุฃุตูุงุ ูุงููู ุชุนุงูู ูุจู ุฑุณููู ุฃู ุบู
ู ุนูู ุฐูู ูุง ููุน ูููุ ูู
ุง ุฃู ูุฌูุฏ ุงููุชุงุจ ุนูู ูุถูุญู ูุง ููุน ููู
ูู ุงูุฅูู
ุงู ูู
ุง ุฃูู ุณุจู ุญูู
ุงููู ุจุฎูุงูู
Artinya, "Kata la'alla berfaedah al-isyfaq disertai makna perintah. Maksudnya: bersimpatilah pada dirimu (Muhammad) untuk membunuh dirimu karena faktor kaum Quraisy tidak beriman pada kitab itu (Al-Qur'an) yang menjadi pembeda antara hak dan batil.ย
"Atau (bisa diartikan): Janganlah kamu berlebihan (berlarut) dalam kesedihan atas kehilanganmu berupa keengganan masuk Islam kaummu. Sebab, wahai paling mulianya para utusan, jika kamu berlebihan dalam bersedih itu layaknya kamu membunuh dirimu sendiri. Sedangkan hal tersebut sama sekali tidak bermanfaat.
"Allah SWT mengingatkan kepada Rasul-Nya bahwa kesedihan atas hal tersebut tidak ada manfaatnya. Sebagaimana wujudnya kitab (Al-Qur'an) yang begitu jelas (penjelasannya) tidak bermanfaat bagi keimanan merekaย ย (kaum Quraisy). Sebab, sudah didahului hukum Allah yang telah berbicara lain (sudah menetapkan mereka tidak akan beriman)." (Syekh Nawawi Banten, Murahul Labid li Kasyfi Ma'nal Qurโanil Majid, [Beirut: Darul Kutub al-โIlmiyah], jilid II, hlm. 142โ143).
Dari uraian penafsiran Syekh Nawawi Banten ini kita bisa melihat sisi manusiawi Rasulullah SAW. Beliau merasa gelisah, sedih, galau karena semangat dakwahnya tidak bersamaan dengan kehendak Allah SWT untuk menjadikan masuk Islam penduduk Makkah atau kaum Quraisy pada saat itu.ย
Lalu Allah SWT mengingatkan kepada Rasulullah SAW bahwa berlarut-larut dalam kesedihan disebabkan oleh hal yang di luar kendali manusia (persoalan keimanan seseorang) merupakan tindakan yang tidak mengandung manfaat sama sekali. Justru, hal tersebut sama dengan bunuh diri. Membunuh pikiran kita sendiri.
Di sini kita belajar bahwa bersedih karena harapan belum tercapai sah-sah saja. Rasulullah SAW juga bersedih saat semangat dan harapan penduduk Makkah untuk iman tidak tercapai pada saat itu.ย
Allah SWT tidak melarang untuk bersedih. Hal itu wajar sebagai manusia. Tapi, berlarut larut dalam kesedihan disebabkan ada harapan yang belum tercapai tidak baik. Tidak ada manfaatnya. Inilah pelajaran penting yang kita jadikan prinsip menjalani kehidupan sehari-hari.
Penafsiran serupa juga disampaikan oleh Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Ia menguraikan bahwa penderitaan dan sedih berlebihan tidak diperlukan. Mari simak penjelasan berikut:
ูุง ุญุงุฌุฉ ุจู ุฃููุง ุงููุจู ุฅูู ุงูุฅุณุฑุงู ูู ุงูุฃุณู ูุงูุญุฒู ุนูู ุชูุฐูุจ ุงูููู
ูุฅุนุฑุงุถูู
ุนู ุฑุณุงูุชูุ ูุนุฏู
ุฅูู
ุงููู
ุจุงููุฑุขู ูุฏุนูุฉ ุงูุฅุณูุงู
Artinya, "Wahai Nabi (Muhammad)! Kamu tidak perlu berlebihan dalam penderitaan dan kesedihan karena dusta dan berpalingnya kaum (penduduk Makkah) dari risalahmu, serta tidak imannya mereka terhadap Al-Qur'an dan dakwah Islam." (Syekh Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Beirut: Darul Fiqr, 2009 M], jilid X, hlm. 136).
Ala kulli hal, dari semua uraian yang telah dikemukakan kita bisa memetik sebuah ibrah: ketika kita sudah melaksanakan ikhtiar untuk mewujudkan impian dan harapan secara maksimal, tapi usaha kita belum bersamaan dengan kehendak-Nya, sebagai manusia sangat wajar bersedih. Rasulullah SAW pun juga bersedih tatkala harapannya tidak terwujud.
Namun demikian, yang perlu diingat bahwa tidak perlu bersedih berlebihan sehingga melahirkan sebuah keputusasaan. Kenapa tidak perlu? Karena hal itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Tidak akan mengubah keadaan. Malah, berlarut-larut dalam kesedihan sama dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam arti yang lebih luas.ย
Buang-buang waktu. Membuang energi yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal bermanfaat lainnya atau memulai kembali mewujudkan impian yang gagal di percobaan pertama.
Sebaliknya, yang paling baik adalah menjadikan kesedihan itu sebagai energi positif baru. Energi yang menjadi semangat baru dalam mewujudkan impian yang belum tercapai. Wallahu a'lam bis-shawab.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, alumnus Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan dan Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Huda, Pakong, Modung Bangkalan.
Terpopuler
1
Prof Ainun Na'im, Guru Besar Akuntansi yang Jadi Bendahara Umum PBNU
2
Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat
3
Dilantik Jadi Wantimpres, Kiai Said Siap Berikan Pertimbangan Konstruktif untuk Presiden
4
Jejak Karier Mohammad Nuh: Dari Menteri hingga Katib Aam PBNU 2026-2031
5
Hari Santri 2026, PBNU Instruksikan Apel Serentak, Layanan Sosial, Ziarah Ulama, hingga Mujahadah Palestina
6
Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Nyai Sinta Nuriyah Jadi Satu-satunya Perempuan
Terkini
Lihat Semua