NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Kenapa Hidup Terasa Kurang? Mungkin Cara Kita Bersyukur Salah

NU Online·
Kenapa Hidup Terasa Kurang? Mungkin Cara Kita Bersyukur Salah
Ilustrasi kata "thank you." Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Islam memiliki berbagai konsep peribadatan yang berpusat pada ranah jiwa. Salah satunya adalah ibadah yang disebut syukur. Dalam beberapa ayat Al-Qur'an disebutkan bahwa apabila seseorang mampu bersyukur, Allah akan menambah nikmat kepadanya. Sebaliknya, jika ia kufur, maka Allah menyiapkan balasan yang pedih.

Di samping itu, definisi dan penyematan makna syukur cukup beragam. Satu literatur dengan literatur lainnya kadang memiliki perbedaan, begitu pula pandangan tiap orang. Keragaman inilah yang kadang menimbulkan kebingungan di kalangan Muslim. Karena itu, tulisan ini mencoba menyajikan pendefinisian dan pemahaman syukur yang lebih aplikatif dan mudah diamalkan, insya Allah.

Dewasa ini, syukur sering dipahami sebagai respons setelah memperoleh sesuatu yang bersifat material. Polanya: “baru mendapat nikmat, baru bersyukur.” Kebanyakan masyarakat memahami syukur dengan cara yang demikian.

Padahal, toleransi seseorang dalam memandang rezeki sangat berbeda. Ada yang merasa cukup dengan sedikit, ada pula yang merasa kurang meskipun banyak. Mungkin seseorang di desa dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan upah minimum (UMR), tetapi orang yang tinggal di kota belum tentu demikian.

Konsekuensinya, jika syukur selalu dikaitkan dengan capaian materi, seseorang justru akan semakin sulit untuk bersyukur. Ia membutuhkan “takaran tertentu” untuk merasa cukup. Ketika dianggap kurang, syukur menjadi berat. Padahal Nabi telah mengingatkan umatnya agar mampu mensyukuri hal-hal kecil.

قَالَ النَّبِيُّ عَلَى الْمِنْبَرِ: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Artinya, “Nabi bersabda di atas mimbar: 'Barang siapa tidak bersyukur atas yang sedikit, ia tidak akan bersyukur atas yang banyak',” (HR. Imam Ahmad).

Hadits ini menegaskan kepada setiap Muslim untuk mensyukuri seluruh aspek kecil dalam hidupnya. Sementara itu, sikap syukur yang hanya hadir ketika menerima materi dan bahkan menunggu jumlah tertentu akan sulit tumbuh. Karena itu, sangat penting untuk melepaskan pemahaman syukur dari sekadar urusan materi.

Kemudian, terdapat sebuah definisi yang sangat baik tentang syukur. Jika selama ini syukur sering dipahami sebagai tindakan pasif, definisi berikut justru menggambarkan syukur sebagai tindakan aktif, bahkan hiperaktif. Ruwaim berkata:

قَالَ رُوَيْمٌ: الشُّكْرُ اسْتِفْرَاغُ الطَّاقَةِ

Artinya: “Ruwaim berkata: Syukur adalah aktivitas pendayagunaan seluruh kemampuan,” (Al-Qusyairi, al-Risalah Al-Qusyairiyah, [Kairo, Darul Ma'arif, t.t.], Juz 1, hlm. 313)

Pengertian yang singkat ini cukup untuk mengubah paradigma tentang syukur. Bahwa syukur bukan reaksi, melainkan aksi. Ia bukan sekadar respons material, tetapi manifestasi tindakan nyata. Menunaikan shalat, puasa, haji, zakat, dan sedekah adalah bagian dari syukur.

Mengintegrasikan pemahaman syukur dengan pendayagunaan diri akan mendorong seseorang melakukan aktivitas produktif dan melakukan mitigasi risiko dalam hidup. Dengan memahami syukur sebagai tindakan aktif, ketergantungan terhadap materi perlahan terlepas. Apalagi, mengaitkan syukur dengan materi tidak akan pernah ada habisnya.

Nikmat dan anugerah yang Allah berikan merupakan sumber daya untuk berkembang, bukan diratapi dengan nestapa. Dengan demikian, sebesar atau sekecil apa pun rezeki yang diterima tidak menjadi ukuran syukur seseorang. Justru ukuran syukur terletak pada seberapa besar aksi dan kontribusi yang dilakukan.

Tahapan Membiasakan Syukur

Tentu, memahami syukur sebagai tindakan tidak dapat diperoleh secara instan. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa mengalihkan pemahaman syukur dari pasif menjadi aktif membutuhkan tiga unsur utama:

  1. Ilmu: memahami nikmat beserta Dzat yang memberikannya.
  2. Hal: menghadirkan kesadaran dan kegembiraan atas nikmat tersebut.
  3. Amal: mewujudkan syukur melalui tindakan hati dan anggota tubuh.

3 Tahapan di atas penulis kutip dari kitab Ihya’ Ulumuddin ([Beirut, Darul Ma’rifah: 1982], Juz 4, hlm. 81)

Dengan menghayati tiga tahapan ini, persepsi syukur yang awalnya berupa respons pasif akan berubah menjadi tindakan aktif yang mendayagunakan potensi. Dalam segala kondisi, bahkan saat berada di titik rendah, seseorang tetap bisa bersyukur.

Sebagai contoh, seseorang yang sedang menjalani proses penyembuhan dapat bersyukur dengan memaksimalkan ikhtiar penyembuhan dirinya. Seseorang yang terkena musibah hingga depresi dapat menunjukkan syukurnya dengan berusaha bangkit dari keterpurukan. Itulah bentuk syukur yang sejati.

Mengaplikasikan syukur dalam kehidupan sehari-hari menjadi jauh lebih mudah jika ia dipahami sebagai tindakan aktif, bukan sekadar respons material. Dengan demikian, seseorang tidak lagi terikat pada takaran rezeki tertentu. Dalam kondisi apa pun, selama ia terus beraksi, ikhtiar, dan memaksimalkan kemampuan, ia tetap dapat bersyukur. Wallahu a'lam.

Ustadz Shofi Mustajibullah, Mahasiswa Pascasarjana UNISMA dan Pengajar Pesantren Ainul Yaqin.

Artikel Terkait

Kenapa Hidup Terasa Kurang? Mungkin Cara Kita Bersyukur Salah | NU Online