Tasawuf/Akhlak

Pura-pura Tidur di Kursi Prioritas KRL, Masalah Etika di Ruang Publik

NU Online  ·  Kamis, 16 April 2026 | 12:00 WIB

Pura-pura Tidur di Kursi Prioritas KRL, Masalah Etika di Ruang Publik

Pura-pura tidur di kursi prioritas KRL (NUO)

Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan moda transportasi umum yang menjadi alternatif masyarakat Indonesia dalam menjalankan aktivitas mobilitas, seperti pergi-pulang kerja, bersilaturahmi ke kerabat, atau sekadar pergi berbelanja ke suatu tempat.
 

​​​​​KRL termasuk transportasi umum yang mulai dilirik oleh masyarakat karena di samping biayanya yang terjangkau, juga bisa terhindar dari macet dan fasilitas yang ditawarkan pun bisa dikatakan cukup aman dan nyaman, termasuk bagi mereka para lansia, ibu hamil, disabilitas, atau para orang tua yang sedang bersama anaknya yang masih kecil dengan disediakannya kursi prioritas.
 

Kursi prioritas KRL memang disediakan untuk tetap menjaga kenyamanan dan inklusivitas bagi para lansia, ibu hamil, disabilitas, atau para orang tua yang sedang bersama anaknya yang masih kecil. Jadi, mereka tidak perlu khawatir akan ketersediaan kursi. Tidak perlu khawatir berdiri.
 

Namun demikian, pada kenyataannya kursi prioritas masih disalahgunakan oleh segelintir masyarakat. Tetap saja ada yang duduk di kursi prioritas padahal ia sejatinya tidak termasuk golongan yang berhak. Entah dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan atau memang menjadi cerminan dari terdegradasinya moral dan empati.
 

Bahkan, ironisnya, terkadang ada yang berpura-pura tidur alih-alih mempersilahkan duduk kepada mereka yang baru naik tapi lebih berhak. Tindakan seperti ini, tidak hanya soal siapa yang lebih berhak, tapi juga merupakan salah satu cerminan moralitas dan empati diri yang terdegradasi.
 

Fenomena pengguna nakal seperti di muka masih banyak dan menjadi problem bagi penyedia KRL untuk dicarikan solusi; meminimalisir atau bahkan membasminya sama sekali. Dilansir dari kompas.com, ada pengakuan dari petugas KRL di stasiun Manggarai, salah satu stasiun paling sibuk di Indonesia, yang cukup miris.
 

Sebut saja M. Ia mengaku bahwa ada tantangan sendiri menjadi petugas KRL. Masih ada masyarakat yang duduk di kursi prioritas yang sejatinya tidak berhak. Padahal, terkait hal ini sudah sering disosialisasikan. Bahkan, pada setiap waktu tertentu juga ada pemberitahuan dari pengeras suara, tapi hasil nihil. Masih ada saja yang tidak patuh, tidak semua penumpang patuh aturan. 
 

Sikap tersebut sangat berlawanan dengan semangat Islam yang menuntut para pemeluknya untuk bermoral dan berempati, apalagi yang berkaitan dengan hak para lansia, ibu hamil, disabilitas, atau para orang tua yang sedang bersama anaknya yang masih kecil. Dalam konteks ini, Allah swt berfirman:
 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
 

Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Ma’idah: 2).
 

Berempati dalam konteks ini merupakan bagian dari ketakwaan. Dengan mempersilahkan duduk orang-orang yang berhak, kita sejatinya sedang mengamalkan nilai-nilai moral baik yang didengungkan Tuhan yang memerintah kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Sedangkan berpura-pura tidur di kursi prioritas padahal tidak berhak duduk di situ merupakan tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan nilai tersebut.
 

Selain itu, Rasulullah saw pernah mengumpamakan setiap orang Mukmin dengan Mukmin lainnya laksana satu jasad dalam kasih sayang, saling mencintai, dan saling berempati. Rasulullah saw bersabda:
 

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
 

Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang, saling mencintai, dan saling berempati di antara mereka bagaikan satu tubuh: bila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).
 

Jika kita kebetulan melihat orang yang lebih berhak duduk, tentu harus mempersilahkan duduk. Jangankan dalam kasus kursi prioritas yang memang harus diberikan kepada mereka yang berhak, saat di kursi non-prioritas jika ada yang lebih membutuhkan sebaiknya kita berikan; mempersilahkan duduk yang lain. Inilah salah satu nilai mulia yang tersirat dari sabda Rasulullah saw di muka.
 

Saat memaknai hadits di atas, Al-Hafizh Al-Munawi mengatakan bahwa perlunya bagi setiap Mukmin memiliki empati yang tinggi, sebagaimana layak jasad. Ada satu bagian anggota jasad yang sakit, maka bagian lainnya juga ikut merasakannya. 
 

أن الرجل إذا تألم بعض جسده سرى ذلك الألم إلى جميع جسده فكذا المؤمنون ليكونوا كنفس واحدة إذا أصاب أحدهم مصيبة يغتم جميعهم ويقصدوا إزالتها
 

Artinya: "Sungguh seseorang ketika sebagian jasadnya merasakan sakit, nescaya rasa sakit itu dirasakan oleh sekujur jasadnya. Begitu juga Mukminin, sepantasnya bersikap layaknya satu jiwa. Ketika salah satu dari mereka terkena musibah, maka (seharusnya) mereka semua ikut berduka dan bermaksud bersama-sama menghilangkannya." (Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra: 1356 H], jilid V, halaman 514).
 

Saat ada ibu hamil atau penyandang disabilitas baru naik KRL, misalnya, dan kita yang sehat terlebih dahulu duduk di kursi, baik prioritas atau non-prioritas, maka sudah keniscayaan untuk mempersilahkan yang lebih berhak untuk duduk.
 

Lebih jauh lagi, jika kita merujuk pada pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (UU Perkeretaapian), walaupun negara tidak melarang secara tegas penyalahgunaan kursi prioritas oleh segelintir masyarakat yang sejatinya tidak berhak, tapi tindakan tersebut, misalnya berpura-pura tidur di kursi prioritas KRL, merupakan bagian dari egoisme yang harus dijauhi; tidak dilakukan. 
 

Sebagai langkah preventif dalam penyalahgunaan Tempat Duduk Prioritas (TDP), pihak penyedia, harus tetap tidak bosan melakukan sosialisasi dan langkah-langkah yang dapat menyadarkan para pengguna KRL tentang pentingnya berempati saat naik KRL, khususnya terkait informasi kursi prioritas.
 

Tindakan berpura-pura tidur adalah sikap egoisme yang wajib dihilangkan dari diri kita, karena dilihat dari sudut pandang manapun hal tersebut berlawanan dengan nilai-nilai luhur yang yang tersirat dalam Al-Quran dan sabda Rasulullah saw sebagaimana telah dikemukakan.
 

Walhasil, mari kita sebagai pengguna KRL sadar diri dengan bersikap dewasa. Sikap yang mencerminkan pribadi yang bermoral dan memiliki sifat empati yang tinggi.
 

Persilahkanlah duduk kepada orang-orang yang lebih berhak atau lebih membutuhkan. Siapa tahu sebab kebaikan yang sepertinya sepele tersebut menjadi lantaran kita mendapatkan ampunan atau ridha Tuhan yang Maha Kuasa.
 

Sebuah kebaikan atau ketakwaan tidak melulu soal berdzikir atau bermunajat di atas sajadah, tapi semestinya juga diwujudkan dengan sikap empati dan menjaga etika baik bersama sesama. Wallahu a'lam.
 


Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.