Jika Zina Mempersempit Rezeki, Kenapa Justru Banyak yang Kaya?
Rabu, 7 Oktober 2026 | 11:30 WIB
Islam adalah agama yang sangat menjaga kemuliaan, kehormatan, dan kesucian martabat manusia. Untuk menjaga keharmonisan masyarakat serta kesucian keturunan, Islam secara tegas menutup segala celah yang dapat merusak moralitas.
Salah satu bentuk kerusakan moral terbesar yang sangat dilarang dalam agama adalah perbuatan zina. Di dalam Al-Qur'an, Allah swt tidak hanya melarang kita untuk melakukan zina, tetapi bahkan melarang keras untuk mendekatinya.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam QS. Al-Isra' ayat 32:
Baca Juga
Wali Nikah Anak Zina
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
wa lâ taqrabuz-zinâ innahû kâna fâḫisyah, wa sâ'a sabîlâ
Artinya, “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.” (QS. Al-Isra': Ayat 32)
Zina Mempersempit Rezeki
Dalam pandangan Islam, perbuatan zina bukanlah sekadar pelanggaran moral yang berdampak secara sosial, tetapi juga mendatangkan konsekuensi buruk yang sangat besar bagi kehidupan pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. Selain mendatangkan murka Allah, zina juga dapat mempersempit rezeki dan menghilangkan keberkahan hidup.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi saw:
Baca Juga
Apakah Ada Jalan Tobat atas Dosa Zina?
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، إِيَّاكُمْ وَالزِّنَا، فَإِنَّ فِيهِ سِتَّ خِصَالٍ، ثَلَاثٌ فِي الدُّنْيَا، وَثَلَاثٌ فِي الْآخِرَةِ، فَأَمَّا الَّتِي فِي الدُّنْيَا فَذَهَابُ الْبَهَاءِ، وَدَوَامُ الْفَقْرِ، وَقِصَرُ الْعُمُرِ، وَأَمَّا الَّتِي فِي الْآخِرَةِ، فَسَخَطُ اللَّهِ، وَسُوءُ الْحِسَابِ، وَالْخُلُودُ فِي النَّارِ». ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ﴿أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ﴾
Artinya, “Rasulullah saw bersabda: 'Wahai golongan kaum muslimin, takutlah kalian kepada zina, karena sesungguhnya pada zina itu terdapat enam perkara: tiga perkara di dunia dan tiga perkara di akhirat. Adapun tiga perkara di dunia adalah hilangnya kewibawaan, kekekalan kemiskinan, dan pendeknya umur. Adapun tiga perkara di akhirat adalah murka Allah, hisab yang buruk, dan kekal di dalam neraka.' Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah: '...bahwa sesungguhnya mereka dimurkai Allah dan mereka akan kekal dalam azab.' (QS. Al-Ma'idah: 80)” (HR. Baihaqi)
Menjelaskan makna di balik hadits tersebut, Imam Abdurrauf al-Munawi menguraikan bahwa kekayaan hakiki merupakan karunia dari Allah yang diberikan melalui jalan yang halal. Ketika seseorang dengan sengaja melanggar aturan Allah dan memilih zina, maka karunia tersebut akan dicabut darinya, sehingga lenyap pula rasa cukup dan kekayaan yang berkah dalam hidupnya.
Ia menjelaskan:
أَي اللَّازِم والدائم لِأَن الْغنى من فضل الله وَقد أغْنى الله عَبده بِمَا أحل لَهُ من فَضله فَمن آثر الزِّنَا ذهب عَنهُ الْفضل وَإِذا ذهب الْفضل ذهب الْغَنِيّ
Artinya, "(Maksud dari kemiskinan yang terus-menerus adalah) kemiskinan yang tetap dan abadi. Karena kekayaan itu berasal dari karunia Allah, dan Allah telah mencukupkan hamba-Nya melalui apa-apa yang dihalalkan-Nya dari karunia-Nya. Barang siapa yang lebih memilih zina, maka karunia itu akan hilang darinya. Dan jika karunia itu telah hilang, maka lenyap pula kekayaan tersebut." (At-Taysir Bi Syarhil Jami’ish Shaghir, [Riyadh, Maktabatul Imam as-Syafii: 1988], jilid II, halaman 47).
Lalu Bagaimana dengan yang Kaya?
Kendati demikian, sering kali muncul pertanyaan di tengah masyarakat, Jika zina mempersempit rezeki, mengapa faktanya ada sebagian pelaku maksiat seperti Lady Companion (LC) atau orang-orang yang gemar berbuat dosa justru tampak bergelimang harta dan kaya raya?
Penting untuk diketahui bahwa kekayaan tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa maksiat mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, limpahan harta dan kesenangan duniawi yang diberikan kepada orang yang terus-menerus berbuat maksiat merupakan bentuk ujian terberat dari Allah, yang dikenal dengan istilah istidraj.
Dalam hadits, Rasulullah saw bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللّٰهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
Artinya, “Jika kamu melihat Allah memberikan kemewahan dunia kepada hamba-Nya yang suka bermaksiat, maka itulah yang disebut istidraj.” (HR. Ahmad)
Lebih lanjut, Imam Mula Ali al-Qari memperjelas hakikat dari istidraj ini. Ia menyatakan bahwa nikmat yang diberikan secara bertubi-tubi kepada pelaku maksiat bukanlah tanda cinta atau rida dari Allah, melainkan cara Allah menarik mereka secara perlahan ke dalam jurang kebinasaan. Karena terus diberikan kesenangan, mereka menjadi semakin sombong, semakin jauh dari tobat, dan merasa aman dengan kemaksiatannya, padahal hakikatnya mereka sedang dihinakan dan dijauhkan dari rahmat-Nya.
Simak penjelasannya berikut:
وَمَعْنَى اسْتِدْرَاجِ اللَّهِ اسْتِدْرَاجُهُمْ قَلِيلًا قَلِيلًا إِلَى مَا يُهْلِكُهُمْ، وَيُضَاعِفُ عُقْبَاهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ مَا يُرَادُ بِهِمْ، وَذَلِكَ أَنَّ تَوَاتُرَ اللَّهِ نِعَمَهُ عَلَيْهِمْ مَعَ انْهِمَاكِهِمْ فِي الْغَيِّ، فَكُلَّمَا جَدَّدَ عَلَيْهِمْ نِعَمَهُ ازْدَادُوا بَطَرًا وَجَدَّدُوا مَعْصِيَةً، فَيَتَدَرَّجُونَ فِي الْمَعَاصِي بِسَبَبِ تَرَادُفِ النِّعَمِ، ظَانِّينَ أَنَّ مُتَوَاتِرَةَ النِّعَمِ أَثَرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَتَقْرِيبٌ، وَإِنَّمَا هِيَ خِذْلَانٌ مِنْهُ وَتَبْعِيدٌ
Artinya, “Makna istidraj dari Allah adalah menarik mereka secara perlahan-lahan menuju kebinasaan mereka, serta melipatgandakan siksaan akhir mereka tanpa mereka sadari apa yang sebenarnya sedang dikehendaki terhadap diri mereka. Hal itu terjadi karena Allah terus menerus melimpahkan nikmat kepada mereka padahal mereka tenggelam dalam kesesatan.
Setiap kali Allah memperbaharui nikmat bagi mereka, mereka justru semakin sombong dan memperbaharui kemaksiatan. Maka mereka semakin terjerumus dalam kemaksiatan akibat nikmat yang datang bertubi-tubi itu, dengan menyangka bahwa nikmat yang terus-menerus tersebut adalah bentuk kecintaan dan kedekatan dari Allah, padahal hakikatnya itu adalah bentuk kehinaan dan penjauhan dari-Nya." (Mirqatul Mafatih, [Beirut, Darul Fikr: 2002], jilid VIII, halaman 3257)
Dari penjelasan ini, kita dapat memetik sebuah pelajaran berharga bahwa tolok ukur kemuliaan dan keridaan Allah di dunia ini sama sekali tidak diukur dari seberapa banyak harta, kemewahan, atau gelimang kenikmatan yang dimiliki seseorang. Rezeki yang hakiki bukanlah sekadar nominal di rekening atau fasilitas duniawi yang tampak megah di mata manusia, melainkan keberkahan, ketenangan batin, serta keselamatan di dunia dan akhirat.
Kekayaan yang tampak pada sebagian pelaku maksiat bukanlah tanda bahwa perbuatan dosa mendatangkan keberuntungan. Sebaliknya, hal itu adalah bentuk istidraj, yakni jebakan sunyi di mana Allah membiarkan mereka terlena dalam kesenangan semu, hingga perlahan-lahan menyeret mereka ke dalam kebinasaan dunia akhirat tanpa mereka sadari.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan hal ini sebagai pengingat bagi diri sendiri. Jangan pernah merasa iri atau goyah iman ketika melihat kemewahan dunia yang diperoleh dengan cara melanggar aturan Allah. Pilihlah selalu jalan yang halal, bersih, dan diridainya, sekecil apapun hasilnya, sebab ketenangan hidup di dunia dan keselamatan di hadapan Allah kelak adalah anugerah terbesar yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan harta dunia seluas apa pun. Waallahu a’lam.
Ustadz Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.