Syariah

Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?

Sabtu, 18 April 2026 | 04:00 WIB

Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?

Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh? (Freepik)

Tidur adalah bentuk istirahat paling alami yang pola dan ritmenya telah ditetapkan dalam tubuh manusia. Ia bukan sekadar jeda dari aktivitas, melainkan proses pemulihan yang bekerja senyap: mengembalikan energi, menata ulang fungsi tubuh, dan memulihkan kejernihan pikiran. Dengan kualitas dan porsi tidur yang cukup, stamina akan kembali pulih sehingga seseorang dapat menjalani aktivitas harian dengan lebih optimal dan terjaga keseimbangannya.


 

Dalam perspektif yang lebih luas, hal ini sejalan dengan isyarat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa malam dan tidur memang diciptakan sebagai waktu untuk beristirahat. Pada titik ini, tidur bukan hanya kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari keteraturan hidup yang selaras dengan fitrah manusia. 

 

Memuliakan waktu tidur berarti menghargai hak tubuh untuk pulih, agar ia tetap kuat mengemban amanah ibadah maupun pekerjaan di siang hari, tanpa dipaksa melampaui batas yang semestinya.

 

Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 23 yang berbunyi:

 

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ

 

Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23).

 

Sejatinya, Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wat Tanwir,  memberikan penjelasan yang menarik tentang hakikat tidur. Menurutnya, tidur adalah salah satu keadaan paling menakjubkan yang dialami manusia dan hewan.

 

Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan sebuah sistem pada jaringan saraf otak yang memungkinkan tubuh memulihkan kekuatan sarafnya setelah terkuras oleh aktivitas fisik dan kerja akal yang berat. Karena itu, tidur bukan sekadar waktu istirahat, tetapi sebuah mekanisme pemulihan yang sangat teratur dan presisi di dalam tubuh manusia.

 

Lebih jauh, Ia  juga menggambarkan tidur sebagai “kematian kecil”. Dalam keadaan ini, kesadaran dan persepsi manusia untuk sementara berhenti, tetapi fungsi organ-organ vital seperti jantung dan pernapasan tetap berjalan. Hanya saja, keduanya melambat secara seimbang agar tubuh memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.

 

Dari proses inilah tubuh kembali mengisi energi, sehingga ketika bangun, manusia merasa segar dan kembali berfungsi dengan normal. Simak penjelasan berikut;

 

وَحَالَةُ النَّوْمِ حَالَةٌ عَجِيبَةٌ مِنْ أَحْوَالِ الْإِنْسَانِ وَالْحَيَوَانِ إِذْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ فِي نِظَامِ أَعْصَابِ دِمَاغِهِ قَانُونًا يَسْتَرِدُّ بِهِ قُوَّةَ مَجْمُوعِهِ الْعَصَبِيِّ بَعْدَ أَنْ يَعْتَرِيَهُ فَشَلُ الْإِعْيَاءِ مِنْ إِعْمَالِ عَقْلِهِ وَجَسَدِهِ فَيَعْتَرِيَهُ شِبْهُ مَوْتٍ يُخَدِّرُ إِدْرَاكَهُ وَلَا يُعَطِّلُ حَرَكَاتِ أَعْضَائِهِ الرَّئِيسِيَّةَ وَلَكِنَّهُ يُثَبِّطُهَا حَتَّى يَبْلُغَ مِنَ الزَّمَنِ مِقْدَارًا كَافِيًا لِاسْتِرْجَاعِ قُوَّتِهِ فَيُفِيقُ مِنْ نَوْمَتِهِ وَتَعُودُ إِلَيْهِ حَيَاتُهُ كَامِلَةً، وَقَدْ تَقَدَّمَ ذَلِكَ عِنْدَ قَوْلِهِ تَعَالَى لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ فِي سُورَةِ الْبَقَرَةِ [٢٥٥] .

 

Artinya: "Keadaan tidur merupakan suatu kondisi yang sangat menakjubkan di antara kondisi-kondisi manusia dan hewan. Sebab, Allah telah menetapkan sebuah hukum (sistem) pada jaringan saraf otaknya, yang dengannya ia dapat memulihkan kembali kekuatan sistem sarafnya secara keseluruhan, setelah sebelumnya diliputi oleh kelelahan yang luar biasa akibat aktivitas akal dan fisiknya.

 

Saat tidur, manusia mengalami kondisi serupa kematian yang mematikan rasa (membius) daya persepsinya, namun tidak menghentikan fungsi organ-organ vitalnya (seperti jantung dan pernapasan). Akan tetapi, tidur tersebut memperlambat aktivitas organ-organ tersebut hingga mencapai durasi waktu yang cukup untuk memulihkan kekuatannya.

 

Setelah itu, ia pun terbangun dari tidurnya dan kehidupannya kembali pulih secara sempurna. Penjelasan mengenai hal ini telah disebutkan sebelumnya saat membahas firman Allah Ta’ala: 'Tidak mengantuk dan tidak tidur' (QS. Al-Baqarah: 255)." (Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia, Darut Tunisia: 1984 M], jilid. XXI, halaman 21).

 

Dari paparan tersebut dapat kita ketahui, tidur bukan sekadar istirahat pasif, melainkan proses aktif otak untuk memperbaiki sel-sel saraf yang lelah. Syekh Ibnu ‘Asyur menyebutnya "serupa kematian" karena kesadaran hilang, namun nyawa tetap ada di dalam tubuh untuk menjalankan organ vital. Tidur adalah kebutuhan yang "dipaksakan" oleh sistem tubuh agar manusia tidak merusak dirinya sendiri karena bekerja terus-menerus.

 

Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?

 

Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi dalam kitab Al-Adab asy-Syar‘iyyah menyinggung adab dan kebiasaan tidur, termasuk tidur di waktu pagi setelah Subuh. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan ini, jika dilakukan secara berlebihan, dapat berdampak kurang baik bagi tubuh karena mengurangi aktivitas fisik yang seharusnya dilakukan pada waktu tersebut.

 

Menurutnya, tubuh pada pagi hari pada dasarnya lebih siap untuk bergerak dan beraktivitas, sehingga jika waktu ini justru dipakai untuk tidur terus-menerus, hal itu bisa membuat tubuh terasa lebih lemah, kurang segar, atau kurang bertenaga.

 

Lebih jauh, ia juga mengingatkan bahwa kondisi tubuh tertentu seperti setelah makan berat, sebelum buang air besar, atau tanpa aktivitas fisik sama sekali, dapat membuat efek tersebut lebih terasa jika disertai kebiasaan tidur di pagi hari yang berlebihan.

 

Simak penjelasan berikut ; 

 

فَنَوْمُ الصُّبْحَةِ مُضِرٌّ جِدًّا بِالْبَدَنِ؛ لِأَنَّهُ يُرْخِيهِ وَيُفْسِدُ الْعَضَلَاتِ الَّتِي يَنْبَغِي تَحْلِيلُهَا بِالرِّيَاضَةِ فَتُحْدِثُ تَكَسُّرًا وَعَنَاءً أَوْ ضَعْفًا، وَإِنْ كَانَ قَبْلَ الْبِرَازِ، وَالرِّيَاضَةِ وَإِشْغَالِ الْمَعِدَةِ بِشَيْءِ فَهُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ الْمُوَلِّدُ لِأَنْوَاعٍ مِنْ الْأَدْوَاءِ

 

Artinya: "Tidur di waktu pagi (setelah Subuh) sangatlah berbahaya bagi tubuh; karena ia dapat melemaskan fisik dan merusak otot-otot yang seharusnya diaktifkan (diurai) melalui aktivitas atau olahraga, sehingga (akibatnya) menimbulkan rasa pegal-pegal, kepayahan, atau kelemahan.

 

Terlebih lagi jika tidur itu dilakukan sebelum buang air besar, sebelum berolahraga, atau saat perut sedang terisi sesuatu (makanan); maka itulah 'penyakit kronis' (ad-da' al-'udhal) yang menjadi sumber bagi berbagai macam penyakit." (Al-Adabus Syar’iyyah  wal Minahul Mar’iyyah, jilid III, halaman 162).

 

Dengan demikian, pesan yang dapat diambil adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas, serta memanfaatkan waktu pagi untuk hal-hal yang lebih produktif dan menyehatkan tubuh.

 

Walhasil, tidur pagi setelah Subuh memang bisa terasa nyaman. Namun, jika dilakukan terlalu sering dan berlebihan, hal itu dapat membuat tubuh menjadi kurang bugar dan berpotensi memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.

 

Sebaliknya, berusaha tetap aktif setelah Subuh dapat membantu menjaga kebugaran tubuh, melancarkan metabolisme, serta membuat energi lebih stabil sepanjang hari.

 

Karena itu, ketika rasa kantuk datang di pagi hari, cobalah untuk tetap bergerak dan memulai aktivitas perlahan. Tubuh yang digunakan untuk beraktivitas biasanya akan terasa lebih segar dibandingkan jika kembali berbaring terlalu lama. Wallahu a‘lam.

 

--------
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.