Bahtsul Masail

Apakah Boleh Mengumandangkan Adzan Shallu fi Rihalikum atau fi Buyutikum?

NU Online  ยท  Jumat, 27 Maret 2020 | 13:15 WIB

Apakah Boleh Mengumandangkan Adzan Shallu fi Rihalikum atau fi Buyutikum?

Imam An-Nawawi menjelaskan, penambahan atau perubahan lafal adzan tidak merusak azan sejauh ada uzur atau hajat syar'i. (Ilustrasi: hiraan.com)

Assalamu โ€˜alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebuah video beredar yang berisi kumandang adzan dari sebuah masjid di Timur Tengah dengan lafal โ€œShallu fi rihalikum.โ€ Muazin dalam video ini meminta siapapun yang mendengar adzannya untuk melakukan shalat di rumah karena darurat Covid-19. Karena itu, sebagian masjid di Indonesia juga mengumandangkan adzan serupa. Pertanyaannya, apakah ada keterangan mengenai masalah ini? Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu โ€˜alaikum wr. wb. (hamba Allah/Bekasi)

Jawaban
Assalamu โ€˜alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Pada awal 2020, masyarakat dunia, tidak ย terkecuali umat Islam, digemparkan dengan penyebaran Covid-19, sebuah virus mematikan yang dapat menular melalui kontak langsung.

Umat Islam memutuskan untuk menghentikan sementara ibadah yang dilakukan secara bersama-sama seperti ibadah shalat Jumat, shalat berjamaah, dan peringatan keagamaan lain seperti haul, tabligh akbar, isra miโ€™raj, dan lain sebagainya. Semua aktivitas ibadah terutama shalat Jumat ditunda untuk sementara waktu, terutama pada zona merah Covid-19, dan shalat berjamaah di masjid untuk dikerjakan di rumah.

Adapun soal penambahan atau perubahan lafal adzan, kita menemukan dalam hadits nabi pelbagai lafal serupa, yaitu shallu fi rihalikum, shallu fi buyutikum, atau shallu fir rihal. Lafal tambahan atau perubahan lafal ini dikumandangkan saat uzur hujan, angin kencang, atau uzur lainnya.

Sahabat Ibnu Abbas RA dan Ibnu Umar RA melafalkannya secara berbeda. Sahabat Ibnu Abbas menyisipkan lafal โ€œshallลซ fir rihฤlโ€ atau โ€œshallลซ fฤซ buyลซtikumโ€ sebagai pengganti seruan โ€œhayya โ€˜alas shalฤh.โ€ Sedangkan sahabat Ibnu Umar melafalkan โ€œshallลซ fir rihฤlโ€ setelah semua lafal adzan dikumandangkan.

Ketentuan penambahan menurut Ibnu Umar RA atau perubahan menurut Ibnu Abbas RA diangkat dalam fiqih mazhab Syafiโ€™i antara lain. Imam An-Nawawi mengulasnya dengan penjelasan yang hampir sama pada dua kitab berbeda.

ู‚ูˆู„ู‡ (ุงู„ุนุงุดุฑุฉ) ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ูŠ ููŠ ุขุฎุฑ ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุงุฐุงู† ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู„ูŠู„ุฉ ู…ุทูŠุฑุฉ ุฃูˆ ุฐุงุช ุฑูŠุญ ูˆุธู„ู…ุฉ ูŠุณุชุญุจ ุงู† ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ู…ุคุฐู† ุฅุฐุง ูุฑุบ ู…ู† ุงุฐุงู†ู‡ ุงู„ุง ุตู„ูˆุง ููŠ ุฑุญุงู„ูƒู… ู‚ุงู„ ูุงู† ู‚ุงู„ู‡ ููŠ ุงุซู†ุงุก ุงู„ุงุฐุงู† ุจุนุฏ ุงู„ุญูŠุนู„ุฉ ูู„ุง ุจุฃุณ ู‡ุฐุง ู†ุตู‡ ูˆู‡ูƒุฐุง ู†ู‚ู„ู‡ ุงู„ุจู†ุฏู†ูŠุฌูŠ ูˆู‚ุทุน ุจู‡ ูˆู‡ูƒุฐุง ุตุฑุญ ุจู‡ ุงู„ุตูŠุฏู„ุงู†ู‰ ูˆุตุงุญุจ ุงู„ุนุฏุฉ ูˆุงู„ุดุงุดู‰ ูˆุขุฎุฑูˆู† ุฐูƒุฑูˆู‡ ุจุญุฑูˆูู‡ ุงู„ุชู‰ ู†ู‚ู„ุชู‡ุง ูˆุงุญุชุฌูˆุง ู„ู‡ ุจุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุฐู‰ ุณุฃุฐูƒุฑู‡ ุงู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ูŠ ูˆุงุณุชุจุนุฏ ุงู…ุงู… ุงู„ุญุฑู…ูŠู† ู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ุงุซู†ุงุก ุงู„ุงุฐุงู† ูˆู‚ุงู„ ุชุบูŠูŠุฑ ุงู„ุงุฐุงู† ู…ู† ุบูŠุฑ ุณุจุจ ู…ุณุชุจุนุฏ ุฐูƒุฑู‡ ููŠ ูƒุชุงุจ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุฐู‰ ุงุณุชุจุนุฏู‡ ู„ูŠุณ ุจุจุนูŠุฏ ุจู„ ู‡ูˆ ุงู„ุญู‚ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ูู‚ุฏ ุซุจุช ุฐู„ูƒ ููŠ ุฃุญุงุฏูŠุซ ูƒุซูŠุฑุฉ ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุงุฐุงู† ูˆููŠ ุงุซู†ุงุฆู‡

Artinya, โ€œ(Kesepuluh) Imam As-Syafiโ€™i RA mengatakan di akhir bab adzan, jika malam hujan atau berangin dan gelap, muazin dianjurkan menambahkan lafal โ€œAlฤ shallu fi rihฤlikumโ€ setelah menyelesaikan lafal adzannya. Tetapi jika ia menyisipkannya setelah lafal hayโ€˜alah (hayya alas shalah dan hayya alal falah). Demikian nash As-Syafiโ€™i. Nash ini dikutip dan diputuskan oleh Al-Bandaniji. Demikian juga As-Shaydalani, penulis Kitab Al-Uddah, As-Syasyi, dan ulama lain mengutipnya huruf per huruf persis seperti yang saya kutip. Mereka berhujah dengan hadits yang insya Allah akan saya sebutkan di depan. Imam Al-Haramain menganggap pendapat โ€œdisisipkan di tengah adzanโ€ terlalu jauh. Menurutnya, perubahan atas lafal adzan tanpa sebab itu terlalu jauh sebagaimana disebutkannya pada bab shalat jamaah. Padahal pendapat tersebut tidak jauh, bahkan benar dan sunnah sebagaimana didasarkan atas banyak hadits pada riwayat Bukhari dan Muslim perihal penambahan lafal di tengah adzan berlangsung dan setelah adzan selesai,โ€ (Imam An-Nawawi, Al-Majmuโ€™, Syarhul Muhazzab, [Beirut, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz III, halaman 119).

Pada Kitab Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi menjelaskan dengan uraian serupa. Di sini ia mengatakan bahwa penambahan atau perubahan lafal adzan tidak merusak adzan, tentu sejauh ada uzur atau hajat yang dibenarkan dalam syariat.

ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ุชู‡ุฐูŠุจ ู„ูˆ ุฒุงุฏ ููŠ ุงู„ุฃุฐุงู† ุฐูƒุฑุง ุฃูˆ ุฒุงุฏ ููŠ ุนุฏุฏู‡ ู„ู… ูŠูุณุฏ ุฃุฐุงู†ู‡โ€ฆ ู‚ุงู„ ุตุงุญุจ ุงู„ุนุฏุฉ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู„ูŠู„ุฉ ู…ุทูŠุฑุฉ ุฃูˆ ุฐุงุช ุฑูŠุญ ูˆุธู„ู…ุฉ ูŠุณุชุญุจ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ุฅุฐุง ูุฑุบ ู…ู† ุฃุฐุงู†ู‡ ุฃู„ุง ุตู„ูˆุง ููŠ ุฑุญุงู„ูƒู… ูุฅู† ู‚ุงู„ู‡ ููŠ ุฃุซู†ุงุก ุงู„ุฃุฐุงู† ุจุนุฏ ุงู„ุญูŠุนู„ุฉ ูู„ุง ุจุฃุณ ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ุตูŠุฏู„ุงู†ูŠ ูˆุงู„ุจู†ุฏู†ูŠุฌูŠ ูˆุงู„ุดุงุดูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ูˆุงุณุชุจุนุฏ ุฅู…ุงู… ุงู„ุญุฑู…ูŠู† ู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ุฃุซู†ุงุก ุงู„ุฃุฐุงู† ูˆู„ูŠุณ ู‡ูˆ ุจุจุนูŠุฏ ุจู„ ู‡ูˆ ุงู„ุญู‚ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ูู‚ุฏ ู†ุต ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ููŠ ุขุฎุฑ ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุฃุฐุงู† ููŠ ุงู„ุฃู… ูˆู‚ุฏ ุซุจุช ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู† ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง

Artinya, โ€œDalam Kitab At-Tahdzib dikatakan, seandainya muazin menambahkan zikir pada lafal adzan atau menambah bilangan lafal adzan, maka tindakan itu tidak merusak adzanโ€ฆPenulis Kitab Al-Uddah mengatakan, bila malam hujan, berangin kencang, atau gelap kelam, muazin dianjurkan menambahkan lafal โ€œAlฤ shallu fi rihฤlikumโ€ setelah adzannya selesai. Tetapi jika ia menyisipkannya setelah lafal hayโ€˜alah (hayya alas shalah dan hayya alal falah), maka hal itu tidak masalah sebagaimana pendapat As-Shaydalani, Al-Bandaniji, As-Syasyi, dan ulama lain. Imam Al-Haramain menganggap pendapat terakhir terlalu jauh. Padahal pendapat tersebut tidak jauh, bahkan benar dan sunnah sebagaimana nash Imam Syafiโ€™i di akhir bab adzan Kitab Al-Umm. Pendapat ini didasarkan pada hadits Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas RAโ€ (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umadatul Muftin,[Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 231-232).

Adapun berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim yang mengisahkan perintah Ibnu Abbas RA untuk menyisipkan โ€œshallลซ fฤซ buyลซtikumโ€ sebagai pengganti seruan โ€œhayya โ€˜alas shalฤh.โ€

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ูู‡ู ูููŠ ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูŽุทููŠุฑู ุฅูุฐูŽุง ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ูู„ู’ ุญูŽูŠู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู‚ูู„ู’ ุตูŽู„ู‘ููˆุง ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุงุณู’ุชูŽู†ู’ูƒูŽุฑููˆุง ุฐูŽุงูƒูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽุนู’ุฌูŽุจููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฐูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ููŽุนูŽู„ูŽ ุฐูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู‘ููŠ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ูุนูŽุฉูŽ ุนูŽุฒู’ู…ูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูŽุฑูู‡ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุญู’ุฑูุฌูŽูƒูู…ู’ ููŽุชูŽู…ู’ุดููˆุง ูููŠ ุงู„ุทู‘ููŠู†ู ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูŽุญู’ุถู

Artinya, โ€œDari Ibnu Abbas RA, ia berkata kepada muazinnya pada hari hujan, โ€˜Bila kau sudah membaca โ€˜Asyhadu an lฤ ilฤha illallฤhu, asyhadu anna muhammadan rasลซlullฤh,โ€™ jangan kau teruskan dengan seruan โ€˜hayya โ€˜alas shalฤh,โ€™ tetapi serulah โ€˜shallลซ fi buyลซtikum.โ€™โ€™ Orang-orang seolah mengingkari perintah Ibnu Abbas RA. Ia lalu mengatakan, โ€˜Apakah kalian heran dengan masalah ini? Padahal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Sungguh Jumat itu wajib. tetapi aku tidak suka menyulitkanmu sehingga kamu berjalan di tanah dan licin.โ€™โ€ (HR Muslim).

Adapun berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim yang mengisahkan kumandang adzan Ibnu Umar RA untuk menyudahi seruan adzannya dengan โ€œshallลซ fฤซ rihฤlikumโ€ karena pernah menyaksikan Rasulullah SAW dalam suatu ketika meminta muazinnya berbuat serupa.

ู†ูŽุงููุนูŒ ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุงุฏูŽู‰ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูููŠ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุฐูŽุงุชู ุจูŽุฑู’ุฏู ูˆูŽุฑููŠุญู ูˆูŽู…ูŽุทูŽุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุขุฎูุฑู ู†ูุฏูŽุงุฆูู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ูููŠ ุฑูุญูŽุงู„ููƒูู…ู’ ุฃูŽู„ูŽุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูุญูŽุงู„ู ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ูŽ ุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŒ ุจูŽุงุฑูุฏูŽุฉูŒ ุฃูŽูˆู’ ุฐูŽุงุชู ู…ูŽุทูŽุฑู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽููŽุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุฃูŽู„ูŽุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ูููŠ ุฑูุญูŽุงู„ููƒูู…ู’

Artinya, โ€œDari Nafiโ€˜, dari Ibnu Umar bahwa ia mengumandangkan adzan pada malam yang dingin, berangin, dan hujan. Di akhir adzan ia menyeru, โ€˜alฤ shallลซ fฤซ rihฤlikum. Alฤ shallลซ fir rihฤl.โ€™ Lalu ia bercerita bahwa Rasulullah pernah memerintahkan seorang muazin ketika malam berlalu dengan dingin atau hujan dalam perjalanan untuk menyeru โ€˜alฤ shallลซ fฤซ rihฤlikum,โ€™โ€ (HR Muslim).

Demikian keterangan yang kita dapatkan perihal penambahan atau perubahanย lafal adzan dalam situasi tertentu, termasuk darurat penyebaran wabah Covid-19 pada awal 2020 ini.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu โ€™alaikum wr. wb.
ย 

(Alhafiz Kurniawan)