Musibah banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra dalam beberapa hari terakhir merupakan peristiwa besar yang menuntut perhatian serius dari seluruh umat. Karena dari musibah ini, terdapat ratusan nyawa melayang menjadi korban, kehilangan tempat berteduh, harta benda, dan sanak keluarga yang tidak lagi bisa tertawa bersama.
Musibah besar ini tidak hanya menghadirkan kerugian materi dan hilangnya harta benda, tetapi juga mengguncang struktur sosial, psikologis, dan spiritual masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kondisi seperti ini Islam menuntut hadirnya kesadaran kolektif bahwa setiap orang memiliki peran dalam meringankan beban sesama.
Empati tidak cukup diwujudkan dalam bentuk simpati emosional, tetapi harus ditopang oleh tindakan nyata, baik melalui bantuan, dukungan moral, maupun kehadiran sosial yang memberi harapan bagi para korban untuk bangkit kembali. Sebab luka yang mereka rasakan begitu dalam, dan trauma yang mereka alami begitu membekas. Kita tidak bisa membayangkan betapa beratnya beban yang harus mereka pikul. Maka air mata ini adalah air mata kita semua dan duka ini adalah duka kita bersama.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota badan mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).
Oleh karena itu, di tengah musibah yang memilukan ini, setiap manusia sudah seharusnya menempatkan diri dalam posisi saudara-saudara kita yang terdampak musibah dengan merasakan apa yang mereka rasakan, dan menginginkan untuk mereka segala kebaikan yang kita inginkan untuk diri sendiri. Tidak hanya itu, setiap orang sudah seharusnya berbuat baik kepada sesama tanpa memandang latar belakang, dan tanpa menghitung apakah mereka layak menerimanya atau tidak.
Dalam momen seperti inilah hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya teruji, yaitu ketika kita mampu menjadikan kepedihan orang lain sebagai kepedihan kita sendiri, dan mengubah rasa empati itu menjadi energi kolektif untuk bangkit, memulihkan, dan membangun kembali kehidupan yang porak-poranda karena musibah yang melanda.
Sikap ini tidak hanya sekadar respons atas bencana, melainkan panggilan iman dan manifestasi nyata dari ikatan ukhuwah yang mengikat kita semua dalam bingkai kemanusiaan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ismail Haqqi, dalam salah satu karyanya ia berkata:
فَالْوَاجِبُ أَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ... وَيَتَوَدَّدَ إِلَى النَّاسِ بِالْإِحْسَانِ إِلَى بِرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ، وَإِلَى مَنْ هُوَ أَهْلُ الْإِحْسَانِ وَإِلَى مَنْ لَيْسَ بِأَهْلٍ لَهُ، وَيَتَحَمَّلَ الْأَذَى مِنْهُمْ، وَبِهِ يَظْهَرُ جَوْهَرُ الْإِنْسَانِ
Artinya, “Maka wajib bagi seseorang untuk mencintai bagi orang lain suatu kebaikan yang ia cintai untuk dirinya sendiri, berbuat baik kepada semua orang, baik yang taat maupun yang durhaka, baik yang layak menerima kebaikan maupun yang tidak layak, serta bersabar menerima gangguan dari mereka. Dan dengan demikian, hakikat kemanusiaan seseorang akan tampak.” (Tafsir Ruhul Bayan, [Beirut: Darul Fikr, t.t], jilid II, halaman 201).
Dalam konteks musibah besar ini, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana ujian tersebut telah merenggut banyak hal dari kehidupan mereka, mulai dari kehilangan anggota keluarga tercinta, ada yang berdiri lunglai di atas puing-puing rumah yang tak lagi dapat dihuni, dan ada pula yang hanya mampu menyelamatkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Mereka bukan hanya kehilangan harta, tetapi juga kehilangan rasa aman, bahkan kehilangan masa depan yang sebelumnya mereka rancang dengan penuh harapan.
Semua ini menjadi penanda betapa dalam luka yang ditinggalkan bencana, dan betapa berat derita yang harus mereka tanggung. Maka di sinilah peran kita sebagai sesama manusia diuji, apakah kita akan membiarkan mereka menanggung duka ini seorang diri, ataukah kita hadir sebagai tangan yang menguatkan, bahu yang menopang, dan harapan yang menuntun mereka untuk bangkit perlahan dari reruntuhan kesedihan tersebut.
Peringatan untuk Kita
Tidak hanya itu, dari musibah besar ini kita bisa belajar bahwa jika banjir Sumatra ini adalah ujian bagi saudara-saudara kita di sana, maka ia adalah peringatan bagi kita yang masih bernapas lega. Peringatan bahwa kita harus lebih peduli terhadap lingkungan, menjaga alam, dan mencegah kerusakan yang dapat menyebabkan bencana, sekaligus tidak boleh terlena dengan kenikmatan dunia.
Sebab bagaimanapun juga, bencana dan kerusakan alam yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk banjir yang melanda Sumatra, tidak bisa lepas dari ulah dan keserakahan manusia itu sendiri. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pembabatan hutan secara ilegal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta polusi yang mencemari lingkungan adalah sebagian dari tindakan-tindakan yang merusak keseimbangan ekosistem.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum, [30]: 41).
Dalam ayat yang lain Allah juga sudah dengan tegas melarang manusia untuk melakukan eksploitasi terhadap alam dengan secara berlebihan. Dalam Al-Qur’an ditegaskan:
وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf, [7]: 56).
Merujuk penjelasan Imam al-Qurthubi, ayat ini menegaskan bahwa larangan berbuat kerusakan di bumi berlaku secara umum dan mencakup semua bentuk tindakan yang dapat merusak, baik yang kecil maupun besar, dan yang tampak ringan ataupun membawa dampak luas. Dengan kata lain, ia menjelaskan bahwa setelah Allah menata bumi dengan keseimbangan dan kelestariannya, manusia tidak boleh melakukan apa pun yang mengganggu tatanan tersebut,
أَنَّهُ سُبْحَانَهُ نَهَى عَنْ كُلِّ فَسَادٍ قَلَّ أَوْ كَثُرَ بَعْدَ صَلَاحٍ... فَهُوَ عَلَى الْعُمُومِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْأَقْوَالِ. وَقَالَ الضَّحَّاكُ: مَعْنَاهُ لَا تَعُورُوا الْمَاءَ الْمَعِين، وَلَا تَقْطَعُوا الشَّجَرَ الْمُثْمِرَ ضِرَارًا
Artinya, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci melarang segala bentuk kerusakan, baik kecil maupun besar, setelah adanya perbaikan. Larangan ini berlaku secara umum menurut pendapat yang paling benar. Dan ad-Dhahhak berkata: maksudnya adalah jangan merusak sumber air yang jernih, dan jangan menebang pohon yang berbuah secara sengaja untuk membuat kerusakan.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Riyadh: Dar Alamil Kutub, 2003 M], jilid VII, halaman 226).
Dari beberapa uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa musibah banjir di Sumatra tidak hanya sekadar bencana alam, melainkan juga cermin bagi diri kita yang memantulkan potret ketidakpedulian kita terhadap lingkungan, keserakahan kita dalam mengeksploitasi alam, dan kurangnya kesadaran kita akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Oleh karena itu, mari kita jadikan musibah ini sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri, serta memperbaiki hubungan kita dengan alam, agar kejadian-kejadian serupa tidak menimpa kita kembali. Musibah besar yang menimpa Sumatra sudah menjadi cermin besar yang memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya alam ketika manusia tidak lagi memperlakukannya dengan amanah.
Maka tugas kita saat ini tidak hanya merenungkan nasib yang menimpa mereka, tetapi juga bergerak untuk memperbaiki apa yang masih bisa diselamatkan. Mulai dari cara kita memperlakukan sungai, tanah, hutan, hingga bagaimana kita mengubah pola hidup agar lebih ramah terhadap lingkungan dan keseimbangan alam. Wallahu a’lam.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
