Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Berkat Sabar Hadapi Istri, Pria In​​​​​​​i Jadi Sakti

Berkat Sabar Hadapi Istri, Pria In​​​​​​​i Jadi Sakti
Karena kesabaran hadapi kejudesan istri, pria ini jadi sakti.
Karena kesabaran hadapi kejudesan istri, pria ini jadi sakti.

Berkat kesabaran menghadapi perlakukan kasar istrinya, seorang pria saleh dianugerahi kelebihan mampu menundukkan harimau yang diperbantukan untuk membantu pekerjaannya. Begitu tidak lagi menanggung ujian rumah tangga dari istrinya, hal yang mengejutkan terjadi. Ia tak lagi bisa menjinakkan binatang buas itu.
 

Inilah kisah ketabahan seorang suami menghadapi perlakuan kasar istri, hingga Allah swt memberinya kelebihan khusus yang tidak dimiliki manusia pada umumnya. Simak selengkapnya.
 

Dikisahkan, di kampung terpencil terdapat sepasang suami istri yang gaya hidupnya begitu sederhana. Kendati istrinya seorang perempuan garang dan judes, si suami tetap setiap kepadanya. Bahkan tak pernah sekalipun ia membentak istrinya. Ia laki-laki yang sangat penyabar. Laki-laki itu memiliki kawan setia yang selalu bertamu ke rumahnya sekali dalam setahun.
 

Sekali waktu temannya berkunjung ke rumah. Kebetulan hanya ada istri di rumah. Suami sedang mencari kayu bakar di hutan.
 

“Siapa itu?” tanya istri kepada seorang laki-laki yang bertamu.
 

“Aku adalah teman suamimu. Apakah dia ada di rumah? tanya tamu.
 

“Tidak ada! Dia sedang pergi mencari kayu. Semoga saja dia celaka dan tidak bisa pulang lagi!” seru sang istri terus mencela suaminya.
 

Tamu tadi kaget bukan kepalang. Mengapa istri temannya  ini bisa bicara begitu kasar kepada suaminya. Bukan mendoakan keselamatan, tapi justru menyumpahi suami agar celaka. Belum lama kemudian si suami datang dari arah pegunungan dengan memikul seikat kayu. Di belakangnya ada seekor harimau yang mengikutinya dengan penuh kepatuhan. Tuan rumah itu pun​​​​​​​ dengan senang hati menyambut kedatangan teman setianya dan menjamunya sebaik mungkin.
 

“Pergilah, tugasmu sudah selesai. Semoga Allah melimpahkan berkah untukmu,” katanya pada harimau yang sedari tadi membuntutinya.
 

Selama si suami berbincang dengan tamu, istrinya terus mencaci, sementara si suami tak menghiraukannya sama sekali. Selesai membicarakan banyak hal, tamu pun pulang dengan penuh rasa heran atas kesabaran sahabatnya menghadapi perlakuan kasar pasangannya. Bayangkan, di hadapan tamu saja ia masih mencaci-maki suaminya, apalagi dalam kesehariannya.​​​​​​​
 

Ringas hikayat, pada tahun berikutnya sahabat itu kembali bertamu. Seperti kunjungan tahun lalu, ia melihat temannya baru pulang dari pegunungan dengan memikul seikat kayu. Bedanya, kali ini ia tidak mendengar suara berisik omelan istri dan harimau yang membuntutinya seperti tahun lalu. Ia justru melihat istri temannya kali ini tutur katanya sangat sopan dan turut menyediakan jamuan untuk tamu. Saat hendak berpamit pulang, tamu tadi bertanya:
 

“Saudaraku, aku punya satu pertanyaan untukmu, tolong jawab dengan jujur.”
 

“Silakan, apa yang mau kau tanyakan.”
 

“Tahun lalu aku bertamu ke rumahmu. Aku melihat istrimu suka berkata kasar dan gemar sekali mencacimu. Aku juga melihat seekor harimau yang mengikutimu sepulang mencari kayu bakar. Tapi tahun ini, aku melihat istrimu berbeda. Tutur katanya begitu sopan dan tak terdengar satu pun ucapannya yang menyinggung. Harimau itu juga tidak tampak mengikutimu,” tanyanya menyelidik.
 

“Saudaraku, istriku dulu yang kau lihat sering berkata kasar dan menyinggung, telah meninggal. Saat masih bersamanya, aku sabar menghadapinya. Tak pernah sekalipun aku membalasnya. Karena ketabahan inilah Allah menganugerahkan kepadaku kelebihan mampu menundukkan harimau. Kau lihat sendiri, bukan? Harimau itu dengan takluk mengikutiku.
 

Sekarang, saat istriku sudah dipanggil Allah, dan aku menikah lagi dengan wanita salehah, hidupku berubah menjadi lebih tenteram dan bahagia. Aku tidak lagi harus menanggung kesabaran begitu berat seperti dulu. Sebab itu, Allah tidak lagi menganugerahiku kelebihan menundukkan hewan. Aku harus mencari kayu bakar seorang diri.”
 

 

Hadits Berbuat Baik kepada Istri

Berkaitan dengan kisah ketabahan laki-laki di atas, Syekh Syamsuddin adz-Dzahabi mengutip ungkapan Ka’ab Al-Ahbar yang menegaskan, seorang suami yang mampu bersabar menghadapi sikap kasar istrinya akan diganjar sebesar pahala yang diperoleh Nabi Ayyub. Begitupun seorang istri yang mampu bersabar menghadapi sikap kasar suaminya, ia akan memperoleh ganjaran senilai pahala Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun).
 

Kemudian, Ad-Dzahabi mempertegas dengan sabda Nabi saw yang menjelaskan bahwa seorang suami harus berbuat baik kepada istrinya. 
 

أَلَا وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ أَلَا وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ
​​​​​​​

Artinya, “Ingat! Berwasiatlah tentang wanita secara baik. Sesungguhnya mereka itu bagaikan tawanan yang menjadi tanggung jawabmu. Hal itu sudah menjadi kewajiban utama bagi kalian, para lelaki. Kecuali jika mereka jelas-jelas melakukan perbuatan keji. Apabila mereka melakukan hal demikian, maka jauhilah tempat tidurnya, pukullah dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka menaatimu, janganlah mempersulitnya.
 

Ingat! Sesungguhnya kamu memiliki hak atas istri kalian, demikian juga sebaliknya. Adapun hakmu yang menjadi tanggung jawab mereka adalah jangan memasukan orang yang tidak kamu senangi ke kamarmu, dan janganlah mereka mengizinkan orang yang tidak kamu senangi berada di rumahmu. Ingatlah bahwa hak mereka yang menjadi tanggung jawabmu adalah berbuat baik kepadanya seperti memfasilitasi pakaian dan makanan untuknya.” (HR At-Tirmidzi). (Syamsuddin adz-Dzahabi, Al-Kabair, 2018: 183-184). Wallahu a’lam.
 

 

Ustadz Muhamad Abror, penulis keislaman NU Online, alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma'had Aly Saidusshiddiqiyah Jakarta





Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Hikmah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×