Cara Meraih Keutamaan Malam Hari Raya dalam Hadits Nabi
NU Online ยท Jumat, 28 Maret 2025 | 13:00 WIB
Tuti Lutfiah Hidayah
Kolumnis
Pada bulan Ramadhan, sepuluh hari terakhir merupakan periode terbaik, karena di dalamnya terdapat malam paling mulia, Lailatul Qadar. Rasulullah SAW memberikan teladan kepada umatnya dalam menghidupkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan.ย
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sayyidah Aisyah RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan sarungnya, menjauhi sementara hubungan suami istri, membangunkan keluarganya pada malam hari, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah kepada Allah, bahkan hingga meninggalkan tidur malam.
ุนู ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถู ุงููู ุนููุง ูุงูุช: ูุงู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฅุฐุง ุฏุฎู ุงูุนุดุฑ ุดุฏ ู
ุฆุฒุฑูุ ูุฃุญูุง ููููุ ูุฃููุธ ุฃููู
Baca Juga
Tata Cara Shalat Idul Fitri
Artinya, โDari Aisyah RA, ia berkata: โRasulullah SAW, ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganyaโ.โ (HR Bukhari-Muslim).
Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW juga menganjurkan, sebagaimana disebut dalam sebuah hadits, untuk menghidupkan malam pertama bulan Syawal, yaitu malam Hari Raya Idulfitri atau malam takbiran. Janji ganjaran pahala bagi yang melaksanakannya disampaikan melalui riwayat Ibnu Majah dari Abu Umamah RA:
ุนู ุฃุจู ุฃู
ุงู
ุฉุ ุนู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุงู: ู
ู ูุงู
ูููุชู ุงูุนูุฏูู ู
ุญุชุณุจุง ููู ูู
ูู
ุช ููุจู ููู
ุชู
ูุช ุงููููุจ
Artinya: โDari Abu Umamah dari Nabi SAW, beliau bersabda, โBarang siapa menghidupkan (dengan ibadah) malam dua hari raya karena mengharap ridha Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari semua hati mati.โ
Hati yang mati adalah hati orang-orang jahil (bodoh) dan ahli maksiat, sebab kecintaan mereka terhadap dunia. Adapun mereka yang menghidupkan malam hari raya termasuk golongan yang tidak terikat oleh cinta dunia. Hati mereka akan tetap hidup, sehingga terhindar dari suโul khatimah di akhir hayat.
Sebagaimana disebutkan dalam oleh As-Shanโani dan Al-Munawi, bahwa menghidupkan malam hari raya menjadi tanda kebangkitan hati yang bebas dari cinta dunia (At-Tanwir Syarhul Jamiโ ash-Shaghir [Riyadh: Maktabah Darus Salam, 2011 M], jilid X, hlm. 53, dan At-Taysir Syarhul Jamiโ As-Shaghir [Riyadh: Maktabah Al-Imam As-Syafiโi, 1988 M], jilid II, hlm. 434).
Menurut Imam Nawawi, menghidupkan malam hari raya dapat dilakukan dengan salat, berzikir, tadarus Al-Qurโan, membaca lafaz takbir, atau bentuk ketaatan lain kepada Allah SWT. Para ulama pun berbeda pendapat mengenai durasi ibadah yang diperlukan agar memperoleh keutamaan malam tersebut:
Pertama, yang dianggap shahih oleh Imam Nawawi, bahwa keutamaannya hanya dapat diraih dengan menghidupkan sebagian besar malamnya. Kedua,ย cukup dengan beribadah sesaat saja. Ketiga, sebagaimana dinukilย Al-Qadhi Husain dari Ibnu Abbas, bahwa keutamaan itu bisa diperoleh hanya dengan melaksanakan salat Isya berjamaah serta memiliki tekad kuat (โazzam) untuk mendirikan salat Subuh secara berjamaahย (Abu Zakaria An-Nawawi, Al-Majmuโ Syarh Muhazzab, [Darul Fikr], jilid V, hlm. 4).
Sebaiknya kita berusaha menghidupkan malam hari raya dengan cara pertama. Jika tidak mampu, maka lakukanlah dengan cara kedua. Namun, bila itu pun tidak memungkinkan, setidaknya perkuat niat untuk menunaikan salat Isya dan Subuh pertama di bulan Syawal secara berjamaah.
Di penghujung Ramadhan ini, marilah kita tingkatkan semangat ibadah guna meraih kemuliaan Lailatul Qadar, serta menghidupkan malam hari raya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allahย atas nikmat yang telah diberikan selama bulan Ramadhan.
Bulan yang penuh berkah ini telah menjadi sarana bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan, membersihkan jiwa, dan memperbanyak amal kebaikan. Dengan mengisi malam takbiran dengan ibadah, kita menutup Ramadhan dengan baik dan memulai Syawal dengan semangat baru dalam ketaatan kepada-Nya.
Selain itu, malam hari raya juga merupakan momen kebahagiaan bagi umat Islam di seluruh dunia. Bertakbir bersama, melantunkan pujian kepada Allah, serta merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa adalah bentuk kebersamaan yang hanya terjadi sekali dalam setahun.
Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, agar hati kita senantiasa hidup dalam cahaya keimanan dan meraih keberkahan di dunia serta akhirat. Wallahu aโlam.
Ustadzah Tuti Lutfiah Hidayah, Alumni Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, Ciputat. ย
Terpopuler
1
Suyudi Ario Seto Segera Dilantik Presiden Prabowo sebagai Kapolri Hari Ini
2
Khutbah Jumat: Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal
3
Wajah Baru Kepengurusan PBNU 2026-2031: Masuk Dua Tokoh Disabilitas di Kepengurusan
4
Dilantik Jadi Wantimpres, Kiai Said Siap Berikan Pertimbangan Konstruktif untuk Presiden
5
Khutbah Jumat: Memperkuat Akidah di Tengah Munculnya Keraguan tentang Tuhan
6
Khutbah Jumat: Bercanda dan Batasannya dalam Islam
Terkini
Lihat Semua