Memahami Hadits Larangan Menghina Pemimpin Secara Proporsional
NU Online ยท Selasa, 9 Juni 2026 | 17:00 WIB
Sunnatullah
Kolumnis
Salah satu utas di Thread menjadi viral dan mendapatkan banyak tanggapan setelah mengunggahย pernyataan bahwa โmencela pemerintah hukumnya haramโ. Tidak cukup sampai di situ, dalam kolom komentarnya ia juga menambahkan โSilakan datang ke kajian Sunnah, dengar baik-baik penjelasan ustadznya bahwa haram mencela pemimpin, dilengkapi dengan dalil-dalil yang mengharamkan mencela pemimpin.โ
Setelah penulis telusuri, dalil yang dipakai oleh kelompok yang menyampaikan pernyataan di atas adalah salah satu riwayat yang berasal dari sahabat Abi Bakrah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
ู
ููู ุฃูููุฑูู
ู ุณูููุทูุงูู ุงูููู ููู ุงูุฏููููููุง ุฃูููุฑูู
ููู ุงูููู ููููู
ู ุงููููููุงู
ูุฉู ููู
ููู ุฃูููุงูู ุณูููุทูุงูู ุงูููู ููู ุงูุฏููููููุง ุฃูููุงูููู ุงูููู ููููู
ู ุงููููููุงู
ูุฉู
Baca Juga
Memilih Pemimpin Non Muslim, Bolehkah?
Artinya, โSiapa saja yang memuliakan penguasa Allah di dunia, maka Allah akan memuliakannya di hari kiamat. Dan siapa saja yang menghinakan penguasa Allah di dunia, maka Allah akan menghinakannya juga di hari kiamat.โ (HR. Ahmad).
Sekilas, pernyataan di atas dengan berdalih pada hadits tersebut terlihat benar. Dan perlu diingat, bahwa sebenarnya dalam Islam, siapa pun tidak boleh mencela orang lain, baik itu pemimpin, pejabat, rakyat biasa, hingga non-muslim sekali pun. Islam tidak pernah membenarkan bentuk pencelaan terhadap sesama.
Namun demikian, apakah pemahaman tentang larangan mencela pemimpin memang sesederhana ini, khususnya di Indonesia sebagai negara demokrasi? Nah, ini penting untuk kita bahas bersama. Sebab, istilah menghinakan dalam teks-teks Arab tidak bisa dimaknai secara tekstual saja.
Mencela Pemimpin dalam Kajian Hadits
Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui bahwa makna โmenghinakan pemimpinโ dalam hadits di atas tidak bisa dipahami secara tekstual semata, apalagi di Indonesia yang menganut sistem demokrasi, di mana penyampaian aspirasi, kritik yang membangun, hingga pengawasan rakyat terhadap jalannya pemerintahan adalah hak yang sah dan dijamin oleh konstitusi.
Hal ini penting untuk diperhatikan, karena pemahaman yang keliru dapat menjerumuskan kita pada sikap menutup ruang perbaikan dan membiarkan penguasa bertindak sewenang-wenang, padahal Islam juga mengajarkan prinsip amar maโruf nahi munkar sebagai bentuk tanggung jawab kolektif demi tetap terwujudnya keadilan.
Maksud dari hadits โmenghinakan pemimpinโ pada riwayat di atas sebagaimana disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir โIrfan ad-Dimasyqi, adalah dengan menyakiti pemimpin menggunakan perkataan, atau mendurhakainya dengan keluar dari ketaatan kepadanya dan melakukan pemberontakan. Berikut ini adalah kutipan penjelasannya:
ู
ููู ุฃูููุงูู ุณูููุทูุงูู ุงููููุ ุฃููู ุฃูุฐูููู ุญูุงููู
ูุง ุจูุฃููู ุฃูุฐูุงูู ุจูููุณูุงูููู ุฃููู ุนูุตูุงูู ุจูุงููุฎูุฑูููุฌู ุนููู ุทูุงุนูุชููู ููุงูุชููู
ูุฑููุฏู ุนููููููู
Artinya, โSiapa saja yang menghinakan penguasa Allah, yaitu dengan merendahkan seorang pemimpin dengan cara menyakitinya melalui lisannya, atau mendurhakai pemimpin tersebut dengan keluar dari ketaatan kepadanya dan memberontak terhadapnya.โ (Raudlatul Muttaqin Syarh Riyadhis Shalihin, [Beirut: Darul Fikr, t.t], jilid II, halaman 211).
Jika maksud dari โMenghina pemimpinโ dalam hadits di atas adalah keluar dari ketaatan kepadanya dan memberontak terhadapnya, maka para ulama sepakat bahwa hal itu memang tidak diperbolehkan. Larangan ini memiliki landasan yang kuat dari beberapa riwayat, dan disepakati oleh para ulama, salah satunya sebagaimana dicatat oleh Imam Abu Ishaq asy-Syairazi (wafat 476 H), dalam karyanya mengatakan:
ููุง ููุฌููุฒู ุงููุฎูุฑููุฌู ุนููู ุงููุฅูู
ูุงู
ู ููู
ูุง ุฑูููู ุงุจููู ุนูู
ูุฑู ุฃูููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููุงูู: ู
ููู ููุฒูุนู ููุฏููู ู
ููู ุทูุงุนูุฉู ุฅูู
ูุงู
ููู ููุฅูููููู ููุฃูุชูู ููููู
ู ุงููููููุงู
ูุฉู ููููุง ุญูุฌููุฉู ููููุ ููู
ููู ู
ูุงุชู ูููููู ู
ูููุงุฑููู ููููุฌูู
ูุงุนูุฉู ููุฅูููููู ููู
ููุชู ู
ููุชูุฉู ุฌูุงูููููููุฉู
Artinya, โTidak boleh keluar dari ketaatan pada pemimpin (memberontak), berdasarkan riwayat Ibnu Umar bahwa Nabi bersabda: โSiapa saja yang melepaskan tangannya dari taat kepada pemimpinnya, maka ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah (alasan pembenaran). Dan siapa yang meninggal dalam keadaan memisahkan diri dari jamaah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyahโ.โ (Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imam asy-Syafiโi, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2016 M], jilid III, halaman 249).
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa hadits yang menjelaskan tentang larangan โmenghinakan pemimpinโ sejatinya berbicara tentang larangan pemberontakan dan pembangkangan terhadap otoritas pemimpin yang sah. Namun, sayangnya, hadits ini kerap dipahami secara tekstual sehingga menjadi bantal yang empuk bagi penguasa zalim yang bertindak sewenang-wenang.
Padahal, sebagaimana penjelasan Syekh Abdul Qadir โIrfan ad-Dimasyqi di atas, yang dimaksudย denganย ihanah (menghina atau mencela) pemimpin yang terlarang adalah tindakan melepaskan diri dari ketaatan kepadanya dan melakukan pemberontakan.
Oleh sebab itu, kritik keras yang dilontarkan oleh beberapa tokoh, ulama, masyarakat maupun aktivis terhadap pemimpin dan pejabat yang bertindak sewenang-wenang sama sekali tidak dapat dimasukkan dalam kategori hadits tersebut, sebab kritik dengan segala macamnya, selama tidak mengajak pada pembangkangan massal dan tidak menimbulkan fitnah, justru suatu keharusan.
Bahkan, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa berkata kasar kepada pemimpin yang tidak mengindahkan amanahnya dan bertindak sewenang-wenang, seperti menyebutnya โwahai orang yang zalimโ atau โwahai orang yang tidak takut kepada Allahโ, hukumnya tidaklah dilarang secara mutlak, tetapi diperinci menjadi dua, yaitu:
Pertama, tidak diperbolehkan, jika ucapan tersebut dapat berpotensi memicu kekacauan atau fitnah yang dampak buruknya bisa membahayakan orang lain. Kedua, diperbolehkan jika risikonya tidak merugikan orang lain, bahkan hukumnya bisa menjadi sunnah. Simak penjelasannya berikut ini:
ูุฃู
ุง ุงูุชุฎุดูู ูู ุงูููู ููููู ูุง ุธุงูู
ูุง ู
ู ูุง ูุฎุงู ุงููู ูู
ุง ูุฌุฑู ู
ุฌุฑุงู ูุฐูู ุฅู ูุงู ูุญุฑู ูุชูุฉ ูุชุนุฏู ุดุฑูุง ุฅูู ุบูุฑู ูู
ูุฌุฒ ูุฅู ูุงู ูุง ูุฎุงู ุฅูุง ุนูู ููุณู ููู ุฌุงุฆุฒ ุจู ู
ูุฏูุจ ุฅููู
Artinya, โBerkata kasar (kepada pemimpin) seperti ucapan: โWahai orang zalim!โ Wahai yang tidak takut pada Allah!โ dan ungkapan yang semisalnya, jika berpotensi memicu fitnah dengan dampak buruk yang meluas kepada orang lain, maka hukumnya tidak boleh.ย Namun, jika tidak dikhawatirkan, kecuali hanya pada dirinya sendiri, maka hal itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan.โย (Ihya Ulumiddin, [Beirut: Darul Maโrifah, t.t], jilid II, halaman 343).
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits yang menjelaskan tentang pemuliaan dan penghinaan terhadap pemimpin tidak dapat dipahami secara tekstual saja, terlebih dalam konteks Indonesia sebagai negara demokrasi yang menjadikan kritik dan pengawasan publik sebagai bagian dari sistem yang legal dan sah. Wallahu aโlam bisshawab.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.
Terpopuler
1
10 Pendapat Al-Albani yang Bertentangan dengan Imam Mazhab dan Mayoritas Ulama Ahlussunnah
2
Kesaksian Ketua PCNU Jombang tentang Sosok Gus Kikin, Harap Rangkul Berbagai Kalangan di PBNU
3
Seismik Anak Krakatau Menurun, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Lebih Kuat Masih Terbuka
4
NU Online Institute Buka Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 untuk Mahasantri Ma'had Aly
5
Lima Gunung Api Berstatus Siaga, Aktivitas Anak Krakatau hingga Semeru Masih Terpantau
6
Khutbah Jumat: Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita, Belajar dari Surah At-Takatsur
Terkini
Lihat Semua