Peristiwa Karbala dan Kemunculan Teologi Kesyahidan
NU Online ยท Rabu, 1 April 2026 | 17:30 WIB
Karbala bukan hanya nama sebuah padang pasir yang gersang di daratan Irak. Pada 10 Muharram 61 H (680 M), hamparan debu itu menjadi saksi bisu menetesnya darah suci cucu kesayangan Rasulullah SAW, Sayyidina Husain bin Aliย binย Abiย Thalib.ย
Pada mulanya, tragedi ini seolah hanyalah ekses berdarah dari konflik politik antara Ahlul Bait dan ambisi kekuasaan Yazid bin Muawiyah. Namun, sejarah membuktikan bahwa peristiwa ini melampaui zamannya, membelah pola pikir umat, dan menjelma menjadi fondasi bagi perdebatan teologis yang paling rumit dalam Islam.
Seiring berjalannya waktu, tragedi di padang Taff ini memicu diskursus panjang mengenai legitimasi kekuasaan, keadilan Ilahi, dan makna penderitaan orang suci. Wafatnya Husain melahirkan perlawanan politik baru dan secara fundamental membentuk teologi kesyahidan yang mengendalikan orientasi ilmu kalam berabad-abad setelahnya.
Penelusuran rekam jejak karbala dalam literatur sejarawan Muslim klasik sangat menentukan bagaimana ia dipahami secara akidah. Misalnya, peristiwa surat janji setia penduduk Kufah yang mengundang Husain, yang kemudian berujung pada pengkhianatan dan kesendirian sang cucu Nabi di kepungan pedang pasukan Umayyah.ย
Tragedi pahit ini terekam abadi dalam perjumpaan Husain dengan penyair masyhur Al-Farazdaq di tengah perjalanan menuju Kufah, yang memotret kemunafikan politik masa itu, ia denganย lirih berkata:
ูููููุจู ุงููููุงุณู ู ูุนูููุ ููุณููููููููู ู ู ูุนู ุจูููู ุฃูู ููููุฉูุ ููุงููููุถูุงุกู ููููุฒููู ู ููู ุงูุณููู ูุงุกู
Artinya: "Hati para manusia itu bersamamu, namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah, dan ketetapan takdir turun dari langit." (Tarikh al-Tabari, [Beirut: Dar al-Turath, 1387 H], Juz 5, halaman 386).
Kelahiran Teologi Kesyahidan dan Rasa Bersalah
Darah yang tertumpah di Karbala melahirkan pemaknaan baru tentang syahid. Kesyahidan Husain menjadi simbol abadi perlawanan terhadap kezaliman.ย Menurut al-Baladzuri, saat sang kesatria Karbala dikepung dan ditawari opsi untuk menyerah, Imamย Husainย menolak dengan tegas dan mengatakan:
ููุงูููููู ูุง ุฃูุนูุทูู ุจูููุฏูู ุฅูุนูุทูุงุกู ุงูุฐูููููููุ ูููุง ุฃูููุฑูู ููุฑูุงุฑู ุงููุนูุจูุฏู
Artinya: "Demi Allah, aku tidak akan memberikan tanganku (menyerah) seperti penyerahan orang yang hina, dan aku tidak akan lari seperti larinya seorang budak!" (Ansab al-Ashraf, [Beirut: Dar al-Fikr, 1996], Juz 3, halaman 396-397).
Sikap keteguhan diri ini lantas bergema ke seluruh dunia Islam dan membentuk persepsi teologis tentang pengorbanan suci. Ketika berita syahidnya Husain sampai ke Makkah, Abdullah bin Zubair segera berdiri berkhutbah menyindir kelicikan penduduk Kufah sekaligus memuliakan pilihan Husain.ย
Abdullah bin Zubair mengatakan:
ููุฑูุฃูู ุฃูููููู ููุฃูุตูุญูุงุจููู ููููููู ููู ููุซููุฑูุ ููุงุฎูุชูุงุฑููุง ุงููู ููููููุฉู ุงููููุฑููู ูุฉู ุนูููู ุงููุญูููุงุฉู ุงูุฐููู ููู ูุฉูุ ููุฑูุญูู ู ุงูููููู ุญูุณูููููุง ููููุนููู ููุงุชููููู
Artinya: "Maka ia Husain melihat bahwa dirinya dan para sahabatnya hanyalah kelompok kecil di tengah pasukan yang besar, lalu mereka memilih kematian yang mulia daripada kehidupan yang hina. Semoga Allah merahmati Husain dan melaknat pembunuhnya." (Ansab al-Ashraf, [Beirut: Dar al-Fikr, 1996], Juz 5, halaman 319).
Tragedi ini menjalar menjadi trauma komunal dan rasa bersalah seluruh umat Islam. Imam Ibn al-Athir mencatat, kepedihan luar biasa yang menimpa keluarga Nabi di Madinah. Ratapan putri Aqil bin Abi Thalib diiringi para wanita Bani Hasyim menjadi bukti gugatan teologis yang paling menyayat hati. Ia menyuarakan tanggung jawab umat:
ู
ูุงุฐูุง ุชููููููููู ุฅููู ููุงูู ุงููููุจูููู ููููู
ู ... ู
ูุงุฐูุง ููุนูููุชูู
ู ููุฃูููุชูู
ู ุขุฎูุฑู ุงููุฃูู
ูู
ู
ุจูุนูุชูุฑูุชูู ููุจูุฃูููููู ุจูุนูุฏู ู
ูููุชูููุฏูู ... ู
ูููููู
ู ุฃูุณูุงุฑูู ููููุชูููู ุถูุฑููุฌููุง ุจูุฏูู
ู
Artinya: "Apa yang akan kalian jawab jika Nabi bertanya kepada kalian...ย
Apa yang telah kalian perbuat, sedangkan kalian adalah umat terakhir?
Terhadap keturunanku dan keluargaku setelah kepergianku...ย
Sebagian mereka ditawan dan sebagian lain terbunuh berlumuran darah." (Al-Kamil fi al-Tarikh, [Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1997], Juz 3, halaman 191).
Rasa bersalah inilah yang kelak melahirkan gerakan penebusan dosa di Kufah yang diistilahkan sebagai gerakan Tawwabun.ย Etan Kohlberg, dalam pengantar buku Shi'ism: The Formation of the Classical Islamic World, menjelaskan bahwa tragedi Karbala adalah katalis utama yang mengubah Syiah dari gerakan loyalitas politik menjadi sebuah sekte keagamaan dengan identitas yang utuh. Kematian Husain menyuntikkan paradigma penderitaan dan kesyahidan yang sakral, memisahkannya secara teologis dari arus utama politik Islam masa itu (lihat: Etan Kohlberg, Shi'ism, [Oxon: Routledge, 2016], vol. 33 halaman xv-xvi).
Sementara itu, asy-Syarif al-Murtadha (w. 436 H) berkomentar, bahwa sikap Husain bukanlah sebuah pemberontakan yang gegabah, melainkan keharusan mutlak bagi seorang Imam untuk menegakkan kebenaran tatkala syarat-syaratnya terpenuhi. Ia mengatakan:
ููุฃูู ููุง ุงููุญูุณููููู ุนููููููู ุงูุณููููุงู ู ููุฅูููููู ุฃูุธูููุฑู ุงููุฎูููุงูู ููู ููุง ููุฌูุฏู ุจูุนูุถู ุงููุฃูุนูููุงูู ุนูููููููุ ููุทูู ูุนู ููู ู ูุนูุงููููุฉู ู ููู ุฎูุฐูููููุ ููููุนูุฏู ุนูููููุ ุซูู ูู ุญูุงูููู ุขููุชู ู ูุนู ุงุฌูุชูููุงุฏููู ููุงุฌูุชูููุงุฏู ู ููู ุงุฌูุชูููุฏู ููู ููุตูุฑูุชููู ุฅูููู ู ูุง ุขููุชู ุฅููููููู
Artinya: "Adapun Husain 'alaihissalam, beliau secara terbuka menampakkan perlawanan tatkala menemukan adanya para pendukung yang berjanji membelanya, dan ia menaruh harapan pada pertolongan orang-orang yang pada akhirnya justru mengkhianati dan meninggalkannya. Kemudian keadaannya, bersamaan dengan kesungguhan ijtihadnya dan kesungguhan para pejuang yang teguh membelanya, berujung pada apa yang telah terjadi, yakni kesyahidan agung." (Al-Syafi fi al-Imamah, [Teheran: Muassasah al-Sadiq, 2006], Juz 3, halaman 253).
Dengan demikian, kematian Husain tidak dipandang sebagai kekalahan dalam perang, melainkan sebagai pengorbanan suci yang sempurna. Peristiwa ini dianggap sebagai bukti kebenaran hujjah Tuhan sekaligus memperkuat dan menyempurnakan ajaran Imamah.
Sebaliknya, Ahlussunnah wal Jama'ah menghormati kesyahidan Husain setinggi-tingginya sebagai sayyid al-syuhada yang gugur demi menentang penguasa fasik. Sunni mengambil substansi historis ini sebagai teladan abadi tentang keberanian menegakkan amar makruf nahi mungkar di hadapan suatu penguasa tirani. Karbala adalah momen pengingat bahwa kebenaran menuntut suatu pengorbanan.ย Wallahu aโlam bisshawab.
-----------
Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
6
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
Terkini
Lihat Semua