Khutbah Jumat: Cinta Lingkungan sebagai Bagian dari Iman dan Syukur
NU Online · Jumat, 3 Oktober 2025 | 06:00 WIB
Amien Nurhakim
Penulis
Di zaman sekarang, kita menghadapi tantangan serius berupa kerusakan lingkungan. Mulai dari pencemaran udara, banjir, kebakaran hutan, hingga menipisnya sumber daya alam. Semua ini bukan hanya sekadar isu global, tetapi nyata dirasakan di sekitar kita dan membawa dampak besar bagi kehidupan sehari-hari.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Khutbah Jumat: Cinta Lingkungan sebagai Bagian dari Iman dan Syukur” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat! (Redaksi).
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Alhamdulillahi rabbil ‘alami. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, mengalirkan sungai-sungai, dan menumbuhkan pepohonan sebagai tanda kebesaran-Nya. Kepada-Nya kita memuji, kepada-Nya kita memohon pertolongan dan ampunan.
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan sendirian maupun di hadapan manusia.
Ketakwaan adalah bekal terbaik yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Salah satu bentuk ketakwaan yang sering kita lupakan adalah bagaimana kita memperlakukan alam dan lingkungan yang Allah titipkan kepada kita.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Allah ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 32, bahwa alam adalah nikmat yang diciptakan untuk manusia ambil manfaatnya:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۚ
Artinya, “Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkan sungai-sungai bagimu.”
Segala yang ditundukkan ini bukan untuk dieksploitasi tanpa batas, melainkan untuk dimanfaatkan secara bijak sebagai amanah. Al-‘Allamah Ibnu ‘Asyur dalam karyanya, at-Tahrir wat Tanwir menjelaskan makna “taskhir” sebagai penundukan agar sesuatu mudah dikelola manusia, namun tetap dalam koridor syariat dan tanggung jawab untuk tidak merusaknya.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Namun selain itu, Allah juga mengingatkan bahaya kelalaian manusia terhadap alam. Firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Kerusakan di darat dan di laut seperti banjir, tanah longsor, kabut asap, punahnya satwa, krisis air yang terjadi saat ini tidak terkecuali banyak lahir dari keserakahan, pemborosan, dan abainya kita menunaikan amanah untuk menjaga alam. Ayat ini menegur agar kita kembali kepada jalan yang benar dengan menata hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan bumi.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
cinta lingkungan adalah cabang dari iman. Rasulullah SAW bersabda:
الْإِيمَانُ أَرْبَعَةٌ وَسِتُّونَ بَابًا أَرْفَعُهَا وَأَعْلَاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ
Artinya, “Iman itu memiliki enam puluh empat pintu. Yang paling tinggi dan paling mulia adalah ucapan lā ilāha illallāh (tiada tuhan selain Allah), dan yang paling bawah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”
Menyingkirkan duri di jalan, menjaga selokan, tidak membuang sampah sembarangan itu semua adalah ibadah. Imam al-Baihaqi menegaskan dalam kitabnya Syu’abul Iman jilid 6 halaman 86, bahwa yang dimaksud “al-adza” mencakup segala yang membahayakan manusia, termasuk najis dan kotoran yang mengotori jalan dan fasilitas umum. Maka membersihkan lingkungan, mengelola sampah, dan mencegah pencemaran adalah amalan iman.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Rasulullah SAW pernah memperingatkan umatnya dengan tegas agar kita tidak mengganggu kenyamanan orang banyak. Beliau bersabda: “Hati-hatilah kalian dari dua perkara yang mendatangkan laknat.” Para sahabat bertanya, “Apakah dua perkara itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang buang hajat di jalan umum atau di tempat orang berteduh.” (HR. Muslim).
Hadits ini memberikan pelajaran berharga tentang adab sosial dalam menjaga lingkungan. Islam menanamkan kepada kita etika ekologi sosial, yaitu jangan mengotori jalan, jangan menjadikan taman, halte, atau tempat berteduh sebagai tempat buangan.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Islam tidak hanya melarang kerusakan, tetapi juga mendorong kita untuk aktif melestarikan alam. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari).
Lihatlah betapa indahnya ajaran Islam. Satu pohon yang kita tanam bukan hanya memberi manfaat untuk kita sendiri, tetapi setiap buah atau daun yang dimakan makhluk lain akan terus mengalir sebagai pahala sedekah.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Bahkan lebih jauh lagi, Islam mengajarkan optimisme ekologis hingga detik-detik terakhir kehidupan. Rasulullah SAW bersabda: “Jika terjadi kiamat, sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma kecil, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu benar-benar datang, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad).
Kemudian, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) juga telah merancang kurikulum dengan semangat cinta lingkungan, yaitu memasukkan projek penguatan karakter peduli alam dan berwawasan ekologis dalam pendidikan. Hal ini bertujuan agar sejak dini, generasi muda muslim terbiasa menjaga kebersihan, menghemat sumber daya, serta menumbuhkan sikap syukur kepada Allah melalui perawatan alam. Kurikulum ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya amanah, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama makhluk.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah ta’ala,
Kita juga perlu bertobat dari dosa-dosa ekologis berupa menebang tanpa menanam, membuang limbah ke sungai, membakar sampah sembarangan, dan mengeksploitasi alam tanpa memikirkan generasi penerus kita.
Mari kita jadikan hubbul bi’ah sebagai wujud syukur. Syukur itu bukan hanya ucapan, tetapi menjaga nikmat. Nikmat yang tidak dijaga dengan ketaatan akan berubah menjadi penyesalan. Selain itu, mari kita perbanyak doa dan ikhtiar. Doa tanpa aksi adalah angan-angan. Aksi tanpa doa adalah keangkuhan.
Muliakanlah bumi, rumah bersama yang Allah titipkan, dengan ilmu, akhlak, dan kerja nyata. Mulailah dari diri, keluarga, RT/RW, sekolah, dan komunitas. Ajak anak-anak menanam pohon, ajari mereka memilah sampah, kenalkan mereka pada ayat-ayat kauniyah di kebun, sawah, dan pantai, agar tumbuh generasi yang mencintai alam karena Allah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.
Artikel ini terbit atas kerja sama dengan Kementerian Agama RI.
Terpopuler
1
Kader NasDem Demo, Redaksi Tempo Tegaskan Pemberitaan Sesuai Kode Etik
2
Savic Ali Kritik Arah Kebijakan Pemerintah yang Sentralistik, Jauh dari Kepentingan Rakyat Kecil
3
UI Investigasi Dugaan Pelecehan Seksual yang Libatkan 16 Mahasiswa Fakultas Hukum
4
Tanya Jawab Imam Asy’ari dan Kalangan Muktazilah soal Siksa Kubur
5
Bahaya Tidur Berlebihan: 8 Dampak Buruk bagi Kesehatan Menurut Imam Munawi
6
Perundingan AS-Iran Gagal, Ketum PBNU dan Paus Leo XIV Ajak Seluruh Umat Wujudkan Perdamaian
Terkini
Lihat Semua