Khutbah

Khutbah Jumat: Perkuat Daya Juang Hadapi Perkembangan Zaman

NU Online  ·  Kamis, 30 Oktober 2025 | 12:00 WIB

Khutbah Jumat: Perkuat Daya Juang Hadapi Perkembangan Zaman

Ilustrasi berjuang. Sumber: Canva/NU Online.

Kehidupan yang serba mudah menuntut kita untuk tidak kehilangan semangat berjuang dalam menghadapi tantangan. Kemudahan teknologi hendaknya menjadi sarana mempercepat kebaikan, bukan penyebab lahirnya generasi yang lemah dan mudah menyerah. Mari jadikan setiap kemudahan sebagai wasilah untuk beramal lebih besar dan terus menebar manfaat untuk sesama.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Perkuat Daya Juang Hadapi Perkembangan Zaman”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ 


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Menjadi kewajiban bagi khatib dalam khutbahnya untuk senantiasa mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Oleh karenanya mari kita menguatkan ketakwaan dan juga keimanan kita kepada Allah yakni dengan terus berupaya sekuat kemampuan kita untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi yang dilarang oleh Allah SWT.


Salah satu perintah yang telah ingatkan Allah kepada kita adalah dorongan untuk terus berjuang dalam hidup dan menghindarkan diri dari kehilangan daya juang. Kesulitan dalam hidup adalah sebuah keniscayaan dan itu harus dihadapi dengan penuh kekuatan. Kita tidak boleh menyerah dan kehilangan daya juang karena di balik kesulitan yang kita hadapi pasti ada kemudahan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:


فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ۝٦ فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ۝٧ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ ۝٨


Artinya: “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!” (QS Al-Insyirah: 5-8)


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita semua merasakan bahwa kehidupan manusia modern saat ini serba mudah dan gampang. Hampir setiap kebutuhan bisa diselesaikan hanya dengan sentuhan jari di layar HP kita. Dari memesan makanan, belajar, bekerja, bahkan berinteraksi sosial menjadi mudah cepat, praktis, dan instan. Namun di balik kemudahan itu, muncul satu ancaman besar yakni hilangnya daya juang.


Kita dan generasi penerus kita yang tumbuh dalam kenyamanan, sering kali tidak lagi terbiasa dengan proses panjang dan kerja keras. Padahal, kemudahan yang tidak diimbangi dengan keteguhan dan semangat berjuang bisa melahirkan generasi yang lemah secara mental, rapuh dalam menghadapi kesulitan, dan mudah menyerah ketika diuji. 


Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat. Tetapi jika disikapi tanpa kebijaksanaan, teknologi dapat membuat manusia terlalu bergantung pada kenyamanan. Gejala ini lambat laun sudah bisa dirasakan. Misalnya dalam dunia pendidikan, para siswa saat ini sudah bergantung pada teknologi. Di saat menemukan rumus matematika misalnya, atau pertanyaan yang sulit, ada kecenderungan malas untuk berpikir dan berusaha memecahkannya dengan kemampuannya sendiri. Mereka lebih mengandalkan AI atau artificial intelligence karena dengan mudah bisa menjawabnya.


Hal ini tentu bisa berdampak pada perkembangan psikologi anak seperti mudah menggampangkan. Jika ini berlanjut, maka akan banyak anak muda yang yang ingin sukses cepat, tapi enggan melewati proses. Semua serba ingin instan, hasil tanpa usaha, kemajuan tanpa perjuangan.


Kita telah diingatkan oleh Allah:


إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Ar-Ra’d: 11).


Dalam Jami’ul Bayan fi ta’wilil Qur’an juz 16, hlm. 382, ayat ini mengingatkan bahwa kita semua berada dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan kita kecuali kita mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilaku kita sendiri dengan bersikap zalim. Sehingga ketika kita sudah berada dalam zaman yang serba gampang saat ini, tidak serta merta kita mudah menggampangkan. Semua harus diperjuangkan untuk menuju kondisi yang lebih baik.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hidup ini pada hakikatnya adalah medan ujian. Allah menciptakan manusia bukan untuk bersantai, tetapi untuk berjuang menempuh kesabaran dan menaklukkan tantangan. Allah berfirman:


لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ ۝٤


Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah,” (QS. Al-Balad: 4)


Artinya, perjuangan adalah bagian dari fitrah kehidupan. Orang yang ingin hidup tanpa kesulitan sebenarnya sedang menolak kodrat kemanusiaan itu sendiri. Dalam kehidupannya, Nabi Muhammad pun, yang merupakan orang terkasih Allah SWT, melalui jalan yang penuh perjuangan mulai dari dicaci, diusir, hingga berperang mempertahankan dakwah. Beliau menjadi teladan bahwa kesuksesan sejati tidak datang dari jalan yang mudah, tetapi dari kerja keras.


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:


لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ


Artinya: “Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya," (HR Bukhari dan Muslim).


Jika jiwa berjuang tidak diwariskan ke generasi yang hidup di serba mudah saat ini, maka sikap manja dan cepat putus asa akan mewabah dan banyak anak muda yang merasa stres hanya karena gagal sekali, minder karena dibandingkan orang lain, atau menyerah karena tidak langsung melihat hasil.


Padahal, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses pendewasaan. Setiap orang besar lahir dari rintangan besar yang berhasil mereka taklukkan. Kita dan generasi saat ini perlu membangun mental tangguh yaitu kemampuan bangkit kembali setelah jatuh. Hidup memang tidak selalu mudah, tapi siapa yang terus berjuang, dialah yang akan sampai.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemajuan teknologi seharusnya memperkuat daya juang, bukan mematikannya. Dengan teknologi, kita bisa belajar lebih cepat, berbuat lebih luas, dan berkontribusi dan memberi manfaat lebih besar untuk orang lain. Namun, jika kemudahan membuat kita malas, maka kita sedang berjalan mundur di tengah kemajuan.


Hidup serba gampang bukan berarti hidup tanpa usaha. Justru di balik kemudahan itu, Allah ingin melihat siapa yang tetap bersungguh-sungguh meski jalan tampak mudah. Sebab, yang Allah nilai bukan fasilitas yang kita miliki, tetapi usaha dan ketulusan hati dalam menjalaninya.


Mari jadikan kemudahan hidup saat ini sebagai alat untuk memperkuat amal, bukan alasan untuk melemahkan tekad. Mari tetap berjuang, karena Allah tidak menilai hasil, tetapi kesungguhan dalam proses.


Pepatah Arab mengingatkan kita:


مَنْ جَدَّ وَجَدَ


Artinya, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.”


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ


اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Ustadz H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.