Pohon adalah salah satu anugerah besar yang Allah berikan kepada manusia. Kehadirannya bertugas menjaga kelangsungan hidup melalui fungsi-fungsinya: menghasilkan oksigen, meneduhkan lingkungan, menahan erosi, dan menjadi sumber kehidupan bagi makhluk lain. Karena itu, manusia diberi amanah untuk merawat dan menanam pohon sebagai bentuk syukur sekaligus tanggung jawab terhadap bumi.
Untuk itu, Khutbah Jumat ini berjudul "Khutbah Jumat: Seruan Menanam Pohon untuk Generasi Mendatang". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
Hadirin yang dimuliakan Allah
Setiap tanggal 28 November, bangsa kita memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Momentum ini mengajak kita untuk kembali menyadari pentingnya menjaga kelestarian alam melalui penanaman pohon. Di tengah perubahan iklim, bencana ekologis, dan kerusakan hutan yang terus mengancam, menanam pohon menjadi langkah sederhana namun besar makna dan manfaat sebagai upaya menjaga lingkungan dan warisan bagi generasi mendatang.
Dalam ajaran Islam, menanam pohon tidak sekadar aktivitas ekologis. Menanam pohon adalah amal kebajikan yang bernilai ibadah. Sejatinya, banyak hadits Rasulullah yang mendorong umatnya untuk menanam pohon dan menanam kebaikan.
Salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, Nabi bersabda;
لاَ يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman, lalu ada manusia, hewan ternak, atau makhluk lain yang memakan darinya, kecuali hal itu menjadi sedekah bagi penanamnya.” (HR. Muslim)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Hadits ini menunjukkan bahwa menanam pohon adalah amal yang pahalanya terus mengalir. Bahkan ketika penanamnya telah tiada, selama pohon itu masih memberi manfaat, pahala tetap tercatat baginya. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menanam pohon termasuk amal ibadah yang pahalanya berkelanjutan.
Semua makhluk yang memanfaatkan pohon tersebut, baik itu manusia yang memakan buahnya, hewan yang berteduh di bawahnya, bahkan burung yang membuat sarang di dahannya, itu semua menjadi sebab bertambahnya pahala bagi penanamnya.
Simak penjelasan Imam An-Nawawi berikut;
فِي هٰذِهِ الْأَحَادِيثِ فَضِيلَةُ الغَرْسِ، وَفَضِيلَةُ الزَّرْعِ، وَأَنَّ أَجْرَ فَاعِلِي ذٰلِكَ مُسْتَمِرٌّ مَا دَامَ الغِرَاسُ وَالزَّرْعُ، وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.
Artinya: “Hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan menanam pohon dan tanaman, serta bahwa pahala bagi pelakunya terus mengalir selama pohon dan hasilnya masih ada hingga hari kiamat.” (Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (Kairo: Darul Khair, 1996) Jilid X, hlm, 164)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Imam An-Nawawi juga menjelaskan bahwa pahala menanam pohon tetap mengalir, sekali pun pohon tersebut dimanfaatkan tanpa izin, dirusak oleh manusia, atau dimakan oleh binatang. Selama orang yang menanamnya melakukannya dengan niat yang ikhlas, maka seluruh manfaat yang muncul dari pohon itu tetap tercatat sebagai ganjaran di sisi Allah SWT. Tidak ada yang hilang dari amal kebaikan tersebut, sekecil apa pun.
Pada hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan sabda Rasulullah yang menjelaskan besarnya pahala bagi orang yang menanam pohon dan merawatnya. Nabi bersabda:
مَنْ نَصَبَ شَجَرَةً فَصَبَرَ عَلَى حِفْظِهَا وَالْقِيَامِ عَلَيْهَا حَتَّى تُثْمِرَ، فَإِنَّ لَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ يُصَابُ مِنْ ثَمَرِهَا صَدَقَةً عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Barang siapa menanam sebuah pohon lalu bersabar menjaganya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang dihasilkan dari buahnya menjadi sedekah baginya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad)
Sementara Syekh Badruddin ‘Aini, dalam kitab Umdatul Qari menjelaskan bahwa siapa pun yang menanam pohon atau tanaman akan memperoleh pahala, meskipun ia tidak meniatkannya sebagai ibadah. Bahkan jika seseorang menanam kemudian menjual pohonnya, atau menanam lalu menjual hasil panennya, ia tetap mendapatkan pahala sedekah. Alasannya sederhana: tanaman yang ia tanam memberi manfaat bagi banyak orang, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan. (Syekh Badaruddin Aini, Umdatul Qari, (Beirut: Dar Ihya at Turats al-Araby, tt), Jilid XII, hlm, 154)
Hadirin yang dimuliakan Allah
Untuk itu, menanam pohon bukan sekadar aktivitas ekologis, tetapi juga wujud ketakwaan dan amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Setiap pohon yang tumbuh, setiap daun yang membuka diri pada cahaya, dan setiap buah yang dinikmati makhluk lain menjadi jejak amal jariyah yang terus mengalir bagi penanamnya.
Menariknya, pahala itu tidak hanya diberikan kepada mereka yang menanam dengan niat ibadah. Bahkan aktivitas menanam yang dilakukan untuk tujuan duniawi, seperti berdagang atau mencari penghasilan, tetap dicatat sebagai sedekah selama tanaman tersebut memberi manfaat dan memudahkan kehidupan manusia. Dengan kata lain, setiap manfaat yang lahir dari tanaman itu kembali kepada penanamnya sebagai pahala yang tidak terputus.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Dalam Al-Qur'an, dijelaskan bahwa pada hakikatnya, pepohonan yang rindang, sayuran yang segar, dan berbagai macam buah yang lezat merupakan karunia agung yang Allah anugerahkan kepada manusia. Secara fitrah, kita menyukai kesegaran sayur-sayuran, kenikmatan buah-buahan, serta keindahan taman dan kebun yang menyejukkan mata dan menenteramkan hati. Allah berfirman:
فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ ٢٧ وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ ٢٨ وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ ٢٩ وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا ٣٠ وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا ٣١ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ ٣٢
Artinya, “Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian (27) anggur, sayur-sayuran (28), zaitun, pohon kurma (29), kebun-kebun (yang) rindang (30), buah-buahan, dan rerumputan (31) (Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu (32).”
Pada hari Menanam Pohon Indonesia ini, mari kita jadikan momentum untuk menghidupkan kembali sunnah Nabi: menanam, merawat, dan menjaga alam. Menanam satu pohon hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di sisi Allah ia dapat menjadi amal jariyah yang tak berkesudahan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menjaga bumi, bukan merusaknya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Zainuddin Lubis, Pegiat Kajian Islam.
