Nikah/Keluarga

Hukum Menikahi Saudara Ipar

NU Online  ยท  Kamis, 5 Januari 2023 | 07:00 WIB

Hukum Menikahi Saudara Ipar

Islam mengatur perkawinan dan hubungan kemertuaan dan keiparan dampak perkawinan. (Ilustrasi: NU Online/freepik).

Syariat menetapkan, tidak boleh hukumnya menikahi dua wanita bersaudara sekaligus. Al-Qurโ€™an dalam Surat An-Nisa menjelaskannya sebagai berikut:


ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฌู’ู…ูŽุนููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฃูุฎู’ุชูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ุง ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽู„ูŽููŽ


Artinya, โ€œ(Diharamkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau,โ€ (QS An-Nisaโ€™ [4]: 23).


Pengertian dua bersaudara di sini tidak hanya dua perempuan kakak dan adik, tetapi juga mencakup keponakan dan bibinya atau bibi dan keponakannya, berdasarkan hadits Rasulullah saw berikut ini:


ู„ูŽุง ุชูู†ู’ูƒูŽุญู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู…ู‘ูŽุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ุนูŽู…ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูู†ู’ุชู ุฃูŽุฎููŠู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽุงู„ูŽุชูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ุฎูŽุงู„ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูู†ู’ุชู ุฃูุฎู’ุชูู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุงู„ู’ูƒูุจู’ุฑูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูุบู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุตู‘ูุบู’ุฑูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูุจู’ุฑูŽู‰


Artinya: โ€œTidak boleh dinikahi seorang perempuan bersama dengan bibinya (dari pihak ayah), juga seorang bibi (dari pihak ayah) bersama dengan keponakannya, juga seorang perempuan bersama dengan bibinya (dari pihak ibu), juga seorang bibi (dari pihak ibu) bersama dengan keponakannya, juga seorang kakak bersama dengan adik perempuannya, juga seorang adik bersama dengan kakak perempuannya,โ€ (HR at-Tirmidzi).


Imam An-Nawawi menjelaskan, menikahi dua perempuan bersaudara dimaksud, baik karena nasab maupun karena persusuan, baik saudara seayah-seibu maupun seayah atau seibu saja. Jika terjadi keduanya dinikahi, maka batallah pernikahan keduanya. Jika dinikah secara berurutan, maka batallah pernikahan yang kedua.


Pertanyaannya, jika seorang laki-laki hendak menikahi adik iparnya, sebab kakaknya sudah diceraikan atau meninggal, apakah harus menunggu masa iddah sang kakak yang diceraikannya atau tidak?


Imam An-Nawawi menjawabnya:


ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุทูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽู‡ู ุทูŽู„ูŽุงู‚ู‹ุง ุจูŽุงุฆูู†ู‹ุงุŒ ููŽู„ูŽู‡ู ู†ููƒูŽุงุญู ุฃูุฎู’ุชูู‡ูŽุง ูููŠ ุนูุฏู‘ูŽุชูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุฌู’ุนููŠู‘ู‹ุงุŒ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุญูู„ู‘ูŽ ุฃูุฎู’ุชูู‡ูŽุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽู†ู’ู‚ูŽุถููŠูŽ ุนูุฏู‘ูŽุชูู‡ูŽุง


Artinya: โ€œSeandainya, seorang suami menceraikan istrinya dengan talak baโ€™inย (talak tiga), maka ia boleh langsung menikahi saudara iparnya meski masih dalam masa iddah istrinya. Berbeda halnya, jika istrinya dicerai dengan talak rajโ€™i, maka iparnya tidak halal dinikah sampai istrinya habis iddah,โ€ (Lihat: Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, juz VII, halaman 117).


Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan:


1. Haram hukumnya menikahi dua perempuan bersaudara secara bersamaan.


2. Maksud dua perempuan bersaudara di sini, tidak hanya dua perempuan adik-kakak, tetapi juga bibi dengan keponakannya atau keponakan dengan bibinya.


3. Jika seorang suami menceraikan istrinya, kemudian hendak menikahi adik, bibi, atau keponakan istrinya, maka ia harus menunggu masa iddah istrinya habis jika talak yang dijatuhkan adalah talak rajโ€™i.


4. Jika seorang suami menceraikan istrinya, kemudian hendak menikahi adik, bibi, atau keponakan istrinya, maka ia boleh langsung menikahinya tanpa harus menunggu masa iddah istrinya jika sang istri meninggal atau diceraikan dengan talak baโ€™in.


5. Sekadar catatan, talak rajโ€™i adalah talak yang bisa dirujuk, yaitu talak satu dan dua. Sedangkan talak baโ€™in adalah talak yang tak bisa dirujuk, yaitu talak tiga. Wallalhu โ€˜alam.


Ustadz Tatam Wijaya, alumnus Pondok Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim โ€œSyubbanul Muttaqinโ€ Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.