IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Menata Niat Belajar dan Mengajar Menurut KH Hasyim Asy’ari

Selasa 24 September 2019 12:0 WIB
Share:
Menata Niat Belajar dan Mengajar Menurut KH Hasyim Asy’ari
Banyak perbuatan yang tampak sebagai amal akhirat, tapi menjadi amal duniawi karena kesalahan niat.
Dalam kitab Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari memaparkan bagaimana pentingnya menata niat dalam belajar dan mengajarkan ilmu. Setelah menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan ulama, beliau menegaskan bahwa keutamaan-keutamaan tersebut hanya diperoleh para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan dengan ilmunya mereka bertujuan menggapai ridha Allah, bukan karena kepentingan duniawi seperti memperkaya diri, memburu jabatan, memperbanyak pengikut, dan lain sebagainya.
 
KH Hasyim Asy’ari menegaskan:
 
جميع ما ذكر من فضل العلم وأهله إنما هو في حق العلماء العاملين بعلمهم الأبرار المتقين الذين قصدوا به وجه الله الكريم والزلفى لديه بجنات النعيم لا من قصد به أغراضا دنيوية من جاه أو مال أو مكاثرة في الأتباع والتلاميذ.
 
“Seluruh apa yang telah dijelaskan berupa keutamaan ilmu dan ahlinya hanya berlaku bagi para ulama yang mengamalkan ilmunya, mereka yang baik-baik, bertakwa serta dengan ilmunya bertujuan mencapai ridhanya Allah dan mendekat kepada-Nya di surga Na’im. Keutamaan tersebut tidak berlaku bagi orang yang berniat dengan ilmunya (dapat meraih) tujuan-tujuan duniawi berupa tahta, harta atau bersaing memperbanyak pengikut dan murid.”
 
KH Hasyim Asy’ari menyampaikan beberapa dalil, di antaranya sabda Nabi “Barangsiapa mencari ilmu karena untuk menjatuhkan para ulama, mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka Allah memasukannya ke neraka” (HR. al-Tirmidzi). 
 
Dalam hadits lain, Nabi bersabda “Barangsiapa menuntut ilmu yang semestinya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah ﷻ, namun ia tidak belajar kecuali untuk menghasilkan tujuan duniawi, maka ia tak akan pernah bisa mencium semerbak wangi surga” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Daud dan Ibnu Majah).
 
Nabi Muhammad Saw bersabda “Barangsiapa mencari ilmu karena selain Allah, atau ia menghendaki dengan ilmu untuk selain ridla Allah ﷻ, maka ambilah tempatnya dari neraka” (HR. al-Tirmidzi dan al-Nasa’i).
 
Dalam riwayat lain disebutkan “Kelak pada hari kiamat didatangkan seorang alim, ia dilemparkan ke neraka, ususnya terurai keluar, berputar-putar layaknya keledai yang mengelilingi alat penggilingan, lantas para penduduk neraka mengerumuninya dan bertanya kepada Alim itu; Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Ia menjawab; aku memerintahkan kebaikan sedang aku tidak melakukannya, dan aku melarang keburukan sedang aku melakukannya” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
 
Diriwayatkan dari Bisyri Ra. Bahwa Allah ﷻ mewahyukan kepada Nabi Daud As berupa “Janganlah engkau jadikan (penyambung lidah) di antara Aku dan engkau seorang ulama yang terfitnah, sehingga kesombongannya menjauhkanmu dari kecintaan kepada-Ku. Merekalah para pemutus jalan hamba-hamba-Ku.”
 
Sufyan al-Tsauri Ra. berkata ”Ilmu dipelajari hanya karena dengannya seseorang bisa takut kepada Allah. Ilmu mengungguli lainnya karena dengannya seseorang bisa takut kepada Allah. Bila tujuan ini cacat dan rusak niatnya para pencari ilmu, sekira ia merasa ilmu dapat menjadi perantara menuju kepentingan duniawi berupa harta atau pangkat, maka sungguh batal pahalanya, lebur amalnya dan ia merugi dengan kerugian yang jelas.”
 
Fudlail bin ‘Iyadl mengatakan “Telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya orang-orang fasiq dari para ulama dan penghafal Al-Qur’an disiksa terlebih dahulu sebelum para penyembah berhala.” 
 
Hasan al-Bashri menambahkan “hukuman dari ilmu adalah matinya hati”, beliau ditanya apa yang dimaksud dengan kematian hati?. Beliau menjawab; “mencari dunia dengan amal akhirat.”
 
Adapun contoh niat belajar dan mengajarkan ilmu yang benar adalah apa yang dipaparkan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith mengutip dari al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Niat ini hendaknya dibaca setiap kali belajar atau mengajar. Demikian penjelasannya:
 
جاء في تثبيت الفؤاد عن الحبيب عبد الله بن علوي الحداد رضي الله عنه ونفعنا به فيما ينويه الداعي إلى الله ويقال عند الدرس قال ينوي بقلبه التعلم والتعليم والمذاكرة والتذكير والنفع والانتفاع والاستفادة والإفادة والحث على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم والدعاء إلى الهدى والدلالة على الخير ابتغاء وجهه ومرضاته وقربه وثوابه سبحانه وتعالى
 
“Dalam kitab Tatsbit al-Fuad, dari al-Habib Abdulllah bin Alwi al-Haddad tentang niatnya orang yang mengajak ke jalan Allah, dan niat ini dibaca saat dars (belajar/ mengajar), beliau berkata: 'Hendaknya meniatkan dalam hati untuk belajar dan mengajarkan, saling berdiskusi dan mengingatkan, memberi manfaat dan mengambil manfaat, mengambil faedah dan memberi faedah, mendorong untuk berpegangan dengan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya, mengajak kepada petunjuk, menunjukan kepada kebaikan, karena mencari ridha-Nya, kedekatan dengan-Nya dan pahala-Nya” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 670).
 
KH Hasyim Asy’ari begitu menekankan urgensi niat dalam belajar dan mengajarkan ilmu, karena kualitas amal sangat tergantung kepada niatnya. Banyak perbuatan yang kelihatannya amal akhirat, tapi menjadi amal duniawi karena kesalahan niat, misalnya berceramah dengan tujuan pamer, meningkatkan popularitas, dan sebagainya. Sebaliknya aktivitas yang sekilas berwajah amal duniawi, tapi menjadi amal akhirat karena niat yang baik, seperti bekerja untuk menghidupi keluarga, mengajar dengan mengenakan pakaian mewah dengan tujuan menghormati ilmu dan lain sebagainya. Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tidak keliru niat dalam belajar dan mengajarkan ilmu.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
 
Share:

Baca Juga

Senin 16 September 2019 20:0 WIB
‘Rukun Iman Terlupakan’ Menurut Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad
‘Rukun Iman Terlupakan’ Menurut Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Ilustrasi rukun iman.
Kita sejak kecil diperdengarkan dengan peribahasa dalam bahasa Arab bahwa an-nazhafah minal iman atau kebersihan sebagian dari keimanan. Kita sedini itu telah mendapatkan pelajaran penting yang sangat bermanfaat sepanjang hayat.

Pelajaran kebersihan bersifat umum, mulai dari bersih jasmani, rohani, bersih dari segala cacat secara administrasi, rumah, lingkungan, hutan, laut, gunung, sungai, dan banyak lokasi lain yang telah dianugerahkan Allah swt. Pelajaran kebersihan ini cukup penting bagi anak-anak untuk bekal hidupnya ke depan.

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad menganjurkan orang Islam untuk senantiasa menjaga kebersihan jasmani dan rohani sekaligus. Pasalnya, seseorang akan mencapai kesempurnaan ketika menjaga kebersihan jasmani dan rohani.

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan bahwa makhluk yang rohaninya bersih adalah malaikat. Ia mengilustrasikan manusia yang bersih rohaninya sebagai malaikat yang berwujud manusia.

Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad, agama Islam dibangun di atas fondasi kebersihan. Dengan kata lain, kebersihan merupakan rukun Islam yang terlupakan. Ia mengutip sabda Rasulullah saw, “Agama ini dibangun di atas kebersihan.”

Dengan demikian peribahasa bahwa “kebersihan adalah sebagian dari keimanan” harus ditingkatkan menjadi “kebersihan adalah sebagian besar dari keimanan” atau “kebersihan adalah rukun iman dan rukun Islam.”

وعليك بلزوم النظافة ظاهرا وباطنا فإن من كملت نظافته صار بروحه وسريرته ملكا روحانيا وإن كان بجسمه وصورته بشرا جسمانيا وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بني الدين على النظافة وقال عليه السلام إن الله نظيف يحب النظافة
 
Artinya, “Kau harus senantiasa bersih baik lahir maupun batin. Orang yang bersihnya sempurna akan menjadi malaikat rohaninya meski raganya adalah manusia. Rasulullah saw bersabda, ‘Agama ini dibangun di atas kebersihan.’ Rasulullah saw juga bersada, ‘Allah itu bersih. Dia menyukai kebersihan,’” (Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Risalatul Mu‘awanah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 16).

Adapun kebersihan rohani yang dapat meningkatkan derajat manusia menjadi malaikat adalah upaya bersih-bersih diri dari akhlak tercela dan menghiasinya dengan akhlak terpuji. Akhlak tercela yang harus disapu bersih adalah kesombongan, panjang angan, kedengkian, riya, ujub, hubbud dunia, kufur nikmat, su’uz zhan kepada Allah, putus asa, intoleran, dan lainnya.

Sementara bentuk hiasan diri adalah ragam akhlak terpuji, yaitu tawadhu, sabar, syukur, malu, ikhlas, murah hati, ridha, tawakal, husnuz zhan kepada Allah, optimis, toleran, dan lainnya.

وتحصل النظافة الباطنة بتزكية النفس عن رذائل الأخلاق كالكبر والرياء والحسد وحب الدنيا وأخواتها وتحليتها بمكارم الأخلاق كالتواضع والحياء والإخلاص والسخاء وأخواتها
 
Artinya, “Kebersihan batin dianggap hasil dengan membersihkan diri dari akhlak tercela yaitu sombong, riya, dengki, cinta dunia, dan seterusnya; dan dengan menghiasi diri dengan akhlak terpuji yaitu tawadhu, malu, ikhlas, murah hati, dan seterusnya,” (Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Risalatul Mu‘awanah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 16).

Dengan demikian, bersih-bersih–menurut Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad–tidak hanya bermakna menghilangkan sampah dan kotoran, tetapi juga menata dan mendekorasinya sehingga tampak elok baik secara lahir maupun batin.

Kita–kata Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad menganjurkan–dapat menemukan uraian ini secara lebih rinci dalam Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Wallahu a‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Senin 16 September 2019 17:45 WIB
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (3-Habis)
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (3-Habis)
"Seseorang disebut alim selama ia tetap belajar. Begitu merasa sudah alim, saat itulah ia bodoh." (Ilustrasi: ibtimes.co.uk)
KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim melanjutkan paparannya tentang bahaya kebodohan dan urgensi ilmu untuk kehidupan manusia.
 
Dalam pandangan Hadratussyekh, musibah terbesar yang menimpa manusia bukan kelaparan, kesulitan rezeki, sakit, dan lain sebagainya. Menurut beliau musibah paling buruk adalah kebodohan. Sebaliknya, pemberian Tuhan yang terbaik bukanlah harta yang melimpah, pangkat yang tinggi dan lainnya, namun karunia terbesar sesungguhnya adalah akal. Dengan akal manusia dapat menyerap ilmu, ia dapat membedakan antara yang haq dan batil.
 
KH Hasyim Asy’ari mengutip ucapan sebagian ulama salaf:
 
خير المواهب العقل وشر المصائب الجهل
 
“Pemberian Allah yang terbaik adalah akal, seburuk-buruknya musibah adalah kebodohan.”
 
KH Hasyim Asy’ari melanjutkan penjelasannya bahwa ilmu dapat menjamin keselamatan manusia dari tipu daya setan, dapat menjaga dari serangan orang yang dengki dan menjadi petunjuk bagi akal. Keterangan ini beliau kutip dari sebagian ulama.
 
Dalam tema yang senada, Hadratussyekh mengutip sebuah syair:
 
“Sungguh alangkah bagusnya akal, orang terpuji adalah yang berakal. Sungguh sangat buruk kebodohan, orang tercela adalah orang bodoh.”
 
“Sungguh tidak layak pembicaraan seseorang dalam perdebatan, sementara kebodohan menghancurkannya ketika ia dihujani berbagai pertanyaan.”
 
“Ilmu adalah hal yang paling mulia yang digapai seorang lelaki, maka siapa saja yang tak punya ilmu maka bukanlah lelaki sejati.”
 
“Tuntutlah ilmu lalu amalkanlah wahai saudaraku. karena ilmu merupakan perhiasan bagi orang yang mengamalkannya.”
 
 
Seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ilmu adalah hal yang positif dan memiliki keutamaan yang besar. Sahabat Mu’adz Bin Jabal berkata “tuntutlah ilmu karena mempelajari ilmu adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mencurahkan jerih payah untuknya adalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), serta mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah sedekah.”
 
Sufi kesohor, Fudlail bin ‘Iyadl juga berkata “Orang alim yang mengajarkan ilmunya disebut sebagai orang besar di kerajaan-kerajaan langit.” 
 
Pakar hadits ternama, Sufyan bin ‘Uyaynah berkata, “Orang yang derajatnya paling tinggi di sisi Allah ﷻ adalah orang yang berada di antara Allah ﷻ dan makhluk-Nya (menjadi perantara). Yaitu para nabi dan ulama.”
 
Dalam keterangan yang lain, Sufyan bin ‘Uyaynah menegaskan, “Tak ada sesuatu apa pun di dunia yang lebih utama dari derajat kenabian. Dan tak ada sesuatu apa pun setelah derajat kenabian yang lebih utama dari ilmu dan fiqih.” Beliau ditanya tentang sosok yang dibicarakan dalam statemennya tersebut. Sufyan menjawab, “(Saya sedang membicarakan) para fuqaha seluruhnya.”
 
Pakar fiqih yang mengamalkan ilmunya disebut oleh Imam al-Syafi’i sebagai kekasih Allah. Imam al-Syafi’i berkata “Andai saja para pakar fiqih yang mengamalkan ilmunya bukanlah para wali (kekasih) Allah, maka Allah tidak memiliki wali.” 
 
KH Hasyim Asy’ari selanjutnya menegaskan siapakah orang berilmu. Menurut beliau, orang berilmu adalah mereka yang senantiasa belajar, ia tetap memburu ilmu di mana pun dan kepada siapa pun, bahkan kepada teman sebaya atau yang lebih muda usianya. Abdullah bin al-Mubarak berkata:
 
لا يزال الرجل عالما ما طلب العلم فإذا ظن أنه قد علم فقد جهل
 
“Seseorang senantiasa disebut alim (berilmu) selama ia mencari ilmu. Bila ia menduga telah alim, maka sungguh ia telah bodoh.”
 
Syekh Waki’, guru Imam al-Syafi’i berkata:
 
لا يكون الرجل عالما حتى يسمع ممن هو أسن منه وممن هو مثله وممن هو دونه
 
“Seorang lelaki tidak bisa disebut alim sehingga ia bersedia mendengarkan (ilmu) dari orang yang lebih tua, seumuran dan yang lebih muda darinya.”
 
Di bagian akhir bab, KH Hasyim Asy’ari memaparkan kematian orang alim adalah kehilangan besar bagi umat. Saat tidak ada lagi pakar agama di muka bumi, mimbar pengajian dan podium khotbah akan diisi oleh orang-orang bodoh, mereka ditanya tentang masalah agama lalu berfatwa tanpa landasan ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.
 
Sufyan al-Tsauri berkata, “Hal-hal yang mengherankan telah mewabah. Di akhir zaman lebih mewabah lagi. Berbagai malapetaka telah menumpuk, dan malapetaka dalam perkara agama lebih menumpuk lagi. Musibah-musibah adalah hal yang besar, dan kematian para ulama lebih besar lagi. Sesungguhnya kehidupan orang alim menjadi rahmat bagi umat, kematiannya merupakan lubang kecacatan bagi mereka.”
 
Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash beliau berkata, saya telah mendengar Nabi Muhammad ﷺ bersabda “Sesungguhnya Allah ﷻ tidak mencabut ilmu begitu saja, akan tetapi Allah mencabutnya dengan kewafatan para ulama, sampai-sampai ketika tidak tersisa satu ulama pun, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lantas mereka ditanya dan berfatwa tanpa dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
 
Dari sekian uraian yang telah dipaparkan, dapat dipahami bahwa belajar dan mengajarkan ilmu adalah ibadah yang paling utama dibandingkan amal ibadah lainnya. Ulama sebagai pewaris para Nabi adalah manusia terbaik yang dapat menuntun kehidupan masyarakat.
 
Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith menegaskan:
 
فتأمل رحمك الله هذه النصوص والأدلة والآثار تعرف من ذلك أن العلم أي تعلمه وتعليمه أرفع وأفضل من سائر الأعمال التي يتقرب بها إلى الله تعالى رب اليريات فهو من أعظم العبادات والفضائل المستجادات وأن الاشتغال به من أفضل الطاعات وأولى ما أنفقت فيه نفائس الأوقات وأن العلماء أفضل الناس وأرفعهم قدرا وأحسنهم ذكرا وأشرفهم فخرا. 
 
“Berpikirlah tentang beberapa nash, dalil dan ucapan sahabat ini –semoga Allah merahmatimu-, maka engkau mengetahui bahwa belajar dan mengajarkan ilmu lebih tinggi dan utama dari pada sekian amal-amal yang dibuat mendekatkan diri di sisi Allah, sang Tuhan semesta. Maka belajar dan mengajarkan ilmu termasuk lebih agung-agungnya ibadah dan keutamaan-keutamaan yang baik. Sesungguhnya menyibukkan diri dengannya termasuk lebih utama-utamanya ketaatan dan lebih utamanya aktivitas yang di dalamnya dialokasikan waktu-waktu yang berharga. Sesungguhnya para ulama lebih utamanya manusia, paling tinggi derajatnya, paling bagus reputasinya serta paling mulia kebanggaannya.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.101).
 
Semoga kita ditakdirkan oleh Allah sebagai orang yang senantiasa belajar dan mengajarkan ilmu hingga ajal menjemput. Amin.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
 
Senin 16 September 2019 14:0 WIB
Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Tasawuf dan Sufi
Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Tasawuf dan Sufi
Ilustrasi sufi. (Pinterest)
Mungkin sekali waktu kita sedikit mengalami kesulitan untuk menjelaskan tasawuf dan sufi kepada orang lain dengan kalimat singkat dan sederhana. Mungkin juga kita menjelaskan tasawuf dan sufi dengan penjelasan panjang yang tidak definitif.

Mungkin juga kita menjelaskan tasawuf dan sufi dengan pengertian rumit yang justru menjauhkan tasawuf dari pengertian aslinya. Pasalnya, tasawuf memiliki pokok utama yang tidak bisa dilepaskan. Sementara banyak penjelasan lainnya hanya merupakan cabang, ekspresi, dan bentuk penerjemahan dari pokok-pokok tasawuf.

Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan pendek yang menjadi pokok-pokok dalam tasawuf. Penjelasan pendek ini cukup memadai. Ia menyebutkan hablum minallah dan hablum minan nas sebagai ajaran pokok dalam tasawuf.

Dua pilar utama tasawuf ini disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad untuk mengenalkan dunia tasawuf dan sufi kepada anak-anak. Dua ajaran pokok dalam tasawuf ini disampaikan dengan bahasa singkat dan sederhana agar mudah dimengerti kalangan anak-anak.

Meski demikian, bobot penjelasan singkat ini cukup bermanfaat juga bagi orang dewasa. Pasalnya penjelasan singkat dan sederhana ini tidak mengurangi substansi tasawuf. Penjelasan sederhana itu berbunyi sebagai berikut:

ثم اعلم أن التصوف له خصلتان الاستقامة مع الله تعالى والسكون عن الخلق٬ فمن استقام مع الله عز وجل وأحسن خلقه بالناس وعاملهم بالحلم فهو صوفي

Artinya, “Ketahuilah tasawuf memiliki dua pilar, yaitu istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluk-Nya. Dengan demikian siapa saja yang istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain, dan bergaul dengan mereka dengan santun, maka ia adalah seorang sufi,” (Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: 2005], halaman 15).

Bagi Imam Al-Ghazali, upaya menemukan inti dari tasawuf tidak sulit baginya. Pasalnya, ia memahami benar apa yang dia bicarakan berpanjang-panjang selama ini dalam karyanya terutama Ihya Ulumiddin.

Istiqamah bersama Allah baik secara lahir dan batin menuntut kebulatan hati dan kesatuan perbuatan yang sesuai garis agama Islam. Sedangkan interaksi secara baik dengan empati terhadap makhluk-Nya merupakan sisi lain tasawuf yang sulit dipisahkan dari yang pertama, yaitu istiqamah.

Tasawuf bukan semata persoalan lahiriah yaitu soal jubah, serban, biji tasbih, rida hijau yang diselempangkan di bahu, berjenggot, bertongkat, menunjukkan lafal tauhid, memotong celana hingga di atas mata kaki, mengubah ejaan menjadi lebih islami dalam media sosial, atau soal kekuatan ghaib akrobatik dengan pelbagai kecenderungan khariqul adat.

Tasawuf, bagi Imam Al-Ghazali, juga bukan fenomena hijrah lalu dipahami secara sempit sebagai tindakan meninggalkan aktivitas yang dianggap tidak islami atau uzlah menjauhi manusia dan pelbagai aktivitas yang dipersangkakan haram.

Adapun sufi dalam bahasa sederhana Imam Al-Ghazali adalah orang yang menjaga perilakunya untuk senantiasa taat kepada Allah lahir dan batin, serta bermasyarakat dengan kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.

Dengan pengertian sederhana ini, setiap orang dapat menjadi atau menyandang status sufi tanpa harus mengubah penampilan dan meninggalkan aktivitas keseharian yang telah dijalani selama ini selagi tidak melanggar syariat.

Pelajar, mahasiswa, santri, guru, dosen, pekerja pabrik, karyawan bank, buruh, pekerja swasta, ASN, desainer, fotografer, pemusik, dapat menjadi sufi tanpa harus mengubah tampilan lahiriah dan meninggalkan aktivitas kesehariannya. Dalam bahasa singkat, setiap dari kita dapat menjadi sufi dengan dua pilar tasawuf tersebut tanpa harus ikut-ikutan dalam ‘fenomena hijrah.’ Wallahu a‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon