Ramadhan

Kultum Ramadhan: Bekerja dengan Baik, Dicintai Allah

NU Online  ·  Jumat, 6 Maret 2026 | 03:18 WIB

Kultum Ramadhan: Bekerja dengan Baik, Dicintai Allah

kultum Ramadhan (freepik)

Bekerja merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt. Tidak hanya sekedar untuk mencari uang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bekerja dapat bernilai pahala di sisi Allah Swt. Sebab semua gerak manusia yang bernilai positif termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan niat beribadah kepada Allah Swt adalah bernilai pahala. 

 

Terlebih, Allah Swt sendiri memerintahkan kepada umat manusia untuk mencari rezeki yang baik agar kemudian digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt.

 

Allah Ta’ala berfirman:


فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللّٰهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

 

Artinya: “Maka, mintalah rezeki dari sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan”. (Qs. Al-Ankabut: 17)

 

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah Swt memberikan perintah kepada umat manusia untuk mencari rezeki dari sisi-Nya. Dalam artian bekerja untuk mencari rezeki dengan niat karena Allah Swt bernilai ibadah. 

 

Selain itu, pada ayat tersebut Allah Swt juga memerintahkan agar selalu beribadah kepada-Nya setelah perintah mencari rezeki mengindikasikan bahwa rezeki yang dicari hendaknya diniatkan sebagai perantara beribadah kepada Allah Swt. Baru setelahnya, Allah memerintahkan bersyukur kepada-Nya sebab hanya Allah-lah yang pantas disembah dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.

Syekh Nawawi Banten dalam Tafsirnya berkata:


فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ أي فَاطْلُبُوْا مِنَ اللهِ تَعَالَى كُلَّ الرِّزْقِ وَاعْبُدُوهُ لِكَوْنِهِ مُسْتَحَقًّا لِلْعِبَادَةِ لِذَاتِهِ، وَاشْكُرُوا لَهُ لِكَوْنِهِ سَابِقَ النِّعَمِ بِالْخَلْقِ وَمُعْطِي النِّعَمِ بِالرِّزْقِ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, فَيُرْجَى الْخَيْرُ مِنْهُ لَا مِنْ غَيْرِهِ

 

Artinya: “Maka mintalah rezeki dari sisi Allah, yakni mintalah segala rezeki kepada-Nya, sembahlah Allah, sebab hanya Allah yang layak disembah, dan bersyukurlah kepada Allah, sebab Ia adalah Dzat yang menciptakan kenikmatan bagi makhluk dan memberikan kenikmatan berupa rezeki. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan, maka hanya kepada-Nya pula kebaikan diharapkan”. (Syekh Nawawi Bantani, Marah Labid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz II, hal 213).

 

Dari penjelasan Syekh Nawawi di atas, setidaknya ada tiga perintah Allah Swt yang dapat diambil dari petikan surat Al-Ankabut ayat 17 yaitu: perintah mencari rezeki karena Allah, perintah beribadah kepada Allah dan perintah bersyukur kepada Allah. 

 

Dalam hal ini, ayat di atas memberikan penegasan bahwa mencari rezeki yang diniatkan karena Allah akan bernilai pahala di sisi-Nya, dalam bentuk apapun pekerjaannya. Sebab Allah tidak membeda-bedakan pekerjaan yang dilakukan oleh umat manusia. 

 

Bekerja sebagai petani, buruh, pedagang kecil, atau driver, selama itu halal dan diniatkan karena Allah, maka akan bernilai ibadah. Sebaliknya, jabatan tinggi, gaji besar, atau popularitas tidak akan ada artinya kalau didapat dengan cara yang haram.


Dalam ayat lain, Allah Swt juga memberikan penegasan bahwa mencari rezeki adalah bagian dari perintah kepada umat manusia dan akan bernilai pahala jika diniatkan untuk mencari ridha-Nya.

 

Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 15:


هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ


Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Qs. Al-Mulk: 15).

Syekh Abdullah bin Ahmad An-Nasafi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menjadikan muka bumi sebagai tempat di mana umat manusia dapat mensyukuri nikmat-Nya dengan mencari rezeki dan makan dari hasil rezeki yang telah diberikan oleh Allah Swt. 


Kemudian saat tiba waktunya dikembalikan kepada Allah, Ia akan menanyakan apakah manusia sempat bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan kepada mereka. An-Nasafi berkata:


{هُوَ الذى جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ ذَلُوْلاً} لِيْنَةً سُهْلَةً مُذَلَّلَةً لَا تُمْنَعُ الْمَشْيُ فِيْهَا {فَامْشُوْا فِي مَنَاكِبِهَا} جَوَابُهَا اسْتِدْلَالًا اسْتِرْزَاقًا أَوْ جِبَالِهَا أَوْ طُرُقِهَا {وَكُلُواْ مِن رّزْقِهِ} أيْ مِنْ رِزْقِ اللهِ فِيْهَا {وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ} أيْ وَإِلَيْهِ نُشُوْرُكُمْ فَهُوَ سَائِلُكُمْ عَنْ شُكْرِ مَا أَنْعَمَ بِهَ عَلَيْكُمْ


Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan, maka jelajahilah seluruhnya (untuk mencari rezeki), baik gunung-gunungnya, jalan-jalannya, dan makanlah sebagian dari rezeki Allah. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Maka Allah akan menanyakan apakah kalian bersyukur terhadap segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian”. (An-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil [Beirut, Darul Kalim At-Thayyib, 1998], juz III hal 514)

 

Kesimpulannya, bekerja bukan hanya sekedar mencari uang, namun juga bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah, menggunakan cara yang halal, dan memiliki tujuan yang benar seperti menafkahi keluarga, membantu orang lain, dan tidak melalaikan ibadah utama.

 

Khususnya dalam momen Ramadhan ini, marilah kita menjadikan semua gerak kita dalam bekerja untuk mencari nafkah sebagai ibadah kepada Allah Swt dan menjadikannya perantara untuk beribadah kepada Allah Swt.

-------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis tinggal di Indramayu