Turats Keislaman: Keistimewaan dan Tradisi Keilmuannya
NU Online · Rabu, 25 Februari 2026 | 03:36 WIB
Zainun Hisyam
Kolumnis
Setiap peradaban memiliki tradisi turats masing-masing, dan setiap turats memiliki keunikannya tersendiri. Demikian pula peradaban Islam. Sisi keunikan ini merupakan salah satu hal paling awal yang harus dipahami bagi seorang pengkaji yang hendak meneliti turats.
Kegagalan memahami keunikan turats akan berakibat pada kekeliruan metodologis dalam upaya pembaruannya (tajdid at-turats). Taha Abdurrahman dalam kitab Tajdid al-Manhaj fi Taqwim at-Turats, [Casablanca: Markaz ats-Tsaqofi al-'Arabi, 2016 M, halaman 10] mengkritik tokoh-tokoh tajdid yang secara serampangan mengadaptasi metodologi filsafat Barat.
Menurut pembacaan Taha, interaksi filsafat Barat modern dengan turats-nya bertumpu pada pemisahan antara akal dengan metafisika (al-ghaib), serta antara pengetahuan dan tindakan. Paradigma ini menunjukkan kesenjangan yang nyata dengan wacana turats keislaman yang berakar dari ketersambungan akal pada hal ghaib dan penyatuan ilmu dan amal.
5 Keistimewaan Turats Keislaman
Khalid Fahmi dan Ahmad Mahmud dalam Madkhal ila at-Turats al-'Arabi al-Islami"[Giza: Markaz Turats, 2014 M, halaman 28-36] menjabarkan setidaknya lima keistimewaan turats keislaman dan Arab yang tidak dimiliki oleh turats peradaban lainnya.
Pertama, keterikatan dengan Al-Qur'an. Seluruh proyek-proyek intelektual dalam turats keislaman selalu ditulis sebagai perantara untuk memahami dan menjabarkan maksud dari Al-Qur'an. Adam Gacek dalam kitab Taqalid al-Makhthuth al-'Arabi menulis:
إِنَّ الْحَضَارَةَ الْعَرَبِيَّةَ الْإِسْلَامِيَّةَ حَضَارَةُ الْكِتَابِ فِيهَا ذُو قَدَاسَةٍ خَاصَّةٍ، اكْتَسَبَتْهَا مِنَ الدِّينِ الْإِسْلَامِيِّ ذَاتِهِ، وَتَحْدِيدًا مِنْ كِتَابِ هَذَا الدِّينِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، الَّذِي لَا يُنَافِسُهُ أَيُّ كِتَابٍ آخَرَ لَدَى الْعَرَبِ وَالْمُسْلِمِينَ
Artinya, “Sesungguhnya peradaban Arab-Islam adalah peradaban kitab, di mana kitab memiliki kesakralan yang khusus. Kesakralan itu diperolehnya dari agama Islam itu sendiri, dan secara lebih spesifik dari kitab agama ini, yaitu al-Qur’an al-Karim, yang tidak ditandingi oleh kitab mana pun di kalangan orang Arab dan kaum Muslimin.” (Adam Gacek,Taqalid al-Makhthuth al-'Arabi, [Kairo: Ma'had al-Makhthuthat, 2008 M, halaman 15].
Dengan demikian, keseluruhan sistem nilai, etika, dan estetika yang dimuat di dalam turats-turats keislaman tidak pernah lepas dari Al-Qur'an sebagai sumber paling sakral dalam peradaban ini.
Kedua, keluasan sistem pengetahuan (epistemologi) yang utuh. Pengembangan keilmuan dalam turats-turats keislaman tidak berhenti pada satu bidang ilmu, tetapi meluas ke keseluruhan disiplin ilmu pengetahuan. Fahmi dan Mahmud menyebutkan tiga kategori besar yang memuat pengembangan ilmu-ilmu tersebut: ilmu normatif (ulumul ghayat), ilmu metodologis (ulumul ālat), dan ilmu filsafat dan sains (ulumul hikmah).
Ilmu normatif atau ulumul ghayat adalah ilmu yang dipelajari karena dirinya sendiri. Dalam Islam, kategori ilmu ini mencakup ilmu tauhid, ilmu fikih, dan ilmu tasawuf yang melandasi iman, Islam, dan ihsan yang tak bisa lepas dari kehidupan kaum Muslimin.
Lantas untuk bisa merumuskan ilmu-ilmu normatif, para ulama mengembangkan ilmu-ilmu metodologis atau ulumul ālat seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fikih ataupun ilmu bahasa. Maka dalam turats keislaman, pelbagai macam bidang ilmu yang berkembang saling berkelindan dan tak terpisahkan satu sama lain.
Misalnya, ayat "tegakkanlah salat" (وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ) akan menghasilkan rumusan pengetahuan di berbagai ilmu-ilmu metodologis. Ulama tafsir akan mengatakan ayat ini adalah perintah kewajiban mendirikan salat. Ulama ushul fikih menjelaskan makna 'wajib', yaitu sesuatu yang berpahala jika dilaksanakan dan berdosa jika ditinggalkan.
Ulama nahwu memaparkan bahwa kata وَاَقِيْمُوا adalah bentuk kata perintah (fi'il amr). Ulama balaghah menambahkan bahwa kata perintah di ayat tersebut tidak disertai dengan keterangan lain yang menjadikan unsur kewajiban melaksanakannya berubah jadi sekadar sunnah.
Kemudian, pelaksanaan salat tersebut tidak bisa sempurna tanpa adanya ilmu-ilmu filsafat alam atau yang dalam wacana Islam klasik disebut sebagai ulumul hikmah. Mengapa demikian? Karena agar salat dilaksanakan sesuai dengan waktunya, dibutuhkan ilmu astronomi (falak) yang dikembangkan oleh para filsuf kala itu.
Selain itu, peribadatan seorang hamba juga tak sempurna tanpa kesehatan badan, maka dibutuhkan pengembangan ilmu kesehatan yang paling populer diprakarsai oleh Ibnu Sina (370 - 428 H/980 - 1037 M). Artinya, dalam turats keislaman, munculnya ilmu-ilmu metodologis maupun filsafat-saintifik tidak pernah lepas dari motivasi agama yang sakral, berbeda dengan perkembangan filsafat dan sains sekuler di Barat.
Ketiga, asas keberlanjutan dalil. Maksudnya, ilmu-ilmu yang ditulis dalam kitab-kitab turats keislaman selalu disertai dengan bukti dan argumen untuk mendukungnya. Seorang santri yang mempelajari ilmu kalam, misalnya, akan menemukan bagaimana para ulama merumuskan runtutan argumen rasional (dalil aqli) untuk menyokong setiap klaim keimanan dalam tauhid Islam. Demikian pula, seseorang yang belajar ushul fikih akan menemui rumusan metodologis dalam menetapkan suatu hukum.
Seseorang yang mendalami ilmu nahwu atau balaghah akan disodorkan bukti-bukti (syawahid) ucapan kaum-kaum Arab sebagai dasar pernyataan teori kebahasaan.
Tradisi keilmuan ini merupakan bukti bahwa turats keislaman adalah wacana intelektual yang selalu didukung oleh pencarian bukti dan tidak tunduk pada hegemoni ideologis apa pun.
Keempat, keberlanjutan ruang dan waktu. Turats keislaman berisi gaya bahasa (uslub), terminologi (musthalahat), dan pemahaman yang berkelanjutan selama belasan abad. Tak hanya itu, pengaruh turats keislaman juga merambah ke wilayah-wilayah budaya yang berbeda.
Setelah beberapa tahun mempelajari nahwu-sharaf, seorang santri di pelosok Jawa mampu membaca dan memahami kitab-kitab Imam al-Ghazali (450 - 505 H/1058 - 1111 M), ulama asal Persia yang menulis dalam bahasa Arab hampir seribu tahun yang lalu. Bandingkan dengan karya-karya Shakespeare (1564 - 1616 M), misalnya, yang baru saja ditulis sekitar 4 abad yang lalu, memiliki gaya bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan bahasa Inggris saat ini.
Kelima, metodologi yang kokoh dan terjaga. Siapapun yang pernah mempelajari ilmu-ilmu klasik keislaman akan menyadari betapa kokohnya metodologi yang disusun oleh para ulama dalam mengawal perkembangan ilmu-ilmu tersebut.
Dengan berbagai penelitian yang mendalam serta proses verifikasi (tahqiq) atas pelbagai pendapat yang beragam, para ulama menggariskan metodologi yang ketat untuk menghasilkan suatu kesimpulan keilmuan. Dalam tafsir misalnya, seseorang harus menguasai berbagai macam instrumen keilmuan bahasa Arab, memahami asbabun nuzul, naskh dan mansukh, serta metodologi para mufassir lain (manahijul mufassirin) sebelum benar-benar melakukan interpretasi ayat Al-Qur'an.
Hal yang serupa juga berlaku dalam ilmu-ilmu keislaman yang lain, seperti kritik sanad dalam hadits, metode tahqiq dalam fikih, ataupun aturan-aturan nahwu yang kompleks. Keketatan metodologis ini tergambar dalam syair yang digubah oleh Ibnu Hajar al-Haitami (909 - 974 H/1504 - 1567 M):
لَيْسَ كُلُّ خِلَافٍ جَاءَ مُعْتَبَرًا * إلَّا خِلَافًا لَهُ حَظٌّ مِنْ النَّظَرِ
Artinya, "Tidak setiap perbedaan pendapat bisa diterima, kecuali perbedaan pendapat yang mempunyai dasar pijakan"
Keistimewaan ini merupakan hal berharga dalam turats keislaman, apalagi di masa post-truth saat ini ketika kebenaran dinilai dari popularitas suatu pendapat, alih-alih dari dasar pijakan yang jelas.
-------
Ustadz Zainun Hisyam, Pengajar Pondok Pesantren Attaujieh al-Islamy, Banyumas dan Alumni SOAS London.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 2 Nikmat Allah yang Sering dilupakan
2
Khutbah Jumat: Memahami 4 Tingkatkan Rezeki
3
Khutbah Jumat: Jika Bisa Dibuat Mudah, Kenapa Dipersulit?
4
Insentif Guru dan Tendik Non-ASN Madrasah 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Jadwalnya
5
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
6
Khutbah Jumat: Saatnya Mewujudkan Ruang Publik yang Ramah untuk Anak Kecil dan Bayi
Terkini
Lihat Semua