Syariah

Rukun-Rukun Khutbah dan Penjelasannya

NU Online  ยท  Sabtu, 3 Maret 2018 | 04:15 WIB

Rukun-Rukun Khutbah dan Penjelasannya

Rukun Khutbah Jumat dan Penjelasannya. (Ilustrasi)

Salah satu syarat sah pelaksanaan shalat Jumat adalah didahului dua khutbah. Ritual khutbah dilakukan sebelum shalat Jumat dikerjakan. Khutbah Jumat dilakukan dua kali, di antara khutbah pertama dan kedua dipisah dengan duduk.
ย 
Khutbah Jumat memiliki lima rukun yang harus dipenuhi. Kelima rukun tersebut disyaratkan menggunakan bahasa Arab dan harus dilakukan dengan tertib (berurutan) serta berkesinambungan (muwรขlah). Berikut ini lima rukun khutbah Jumat beserta penjelasannya.
ย 


Pertama, memuji kepada Allah di kedua khutbah

Rukun khutbah pertama ini disyaratkan menggunakan kata โ€œhamdunโ€ dan lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya, misalkan โ€œalhamduโ€, โ€œahmaduโ€, โ€œnahmaduโ€. Demikian pula dalam kata โ€œAllahโ€ tertentu menggunakan lafadh jalalah, tidak cukup memakai asma Allah yang lain. Contoh pelafalan yang benar misalkan: โ€œalhamdu lillรขhโ€, โ€œnahmadu lillรขhโ€, โ€œlillahi al-hamduโ€, โ€œana hamidu Allรขhaโ€, โ€œAllรขha ahmaduโ€. Contoh pelafalan yang salah misalkan โ€œasy-syukru lillรขhiโ€ (karena tidak memakai akar kata โ€œhamdunโ€), โ€œalhamdu lir-rahmรขn (karena tidak menggunakan lafadh jalalah โ€œAllahโ€).
ย 
Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:
ย 
ูˆูŠุดุชุฑุท ูƒูˆู†ู‡ ุจู„ูุธ ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ูุธ ุญู…ุฏ ูˆู…ุง ุงุดุชู‚ ู…ู†ู‡ ูƒุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฃูˆ ุฃุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃูˆ ุงู„ู„ู‡ ุฃุญู…ุฏ ุฃูˆ ู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ ุฃูˆ ุฃู†ุง ุญุงู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูุฎุฑุฌ ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ุฑุญู…ู† ูˆุงู„ุดูƒุฑ ู„ู„ู‡ ูˆู†ุญูˆู‡ู…ุง ูู„ุง ูŠูƒููŠ

โ€œDisyaratkan adanya pujian kepada Allah menggunakan kata Allah dan lafadh hamdun atau lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya. Seperti alhamdulillah, ahmadu-Llรขha, Allรขha ahmadu, Lillรขhi al-hamdu, ana hamidun lillรขhi, tidak cukup al-hamdu lirrahmรขn, asy-syukru lillรขhi, dan sejenisnya, maka tidak mencukupi.โ€ (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 246).
ย 
Kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad di kedua khutbah
Dalam pelaksanaanya harus menggunakan kata โ€œal-shalatuโ€ dan lafadh yang satu akar kata dengannya. Sementara untuk asma Nabi Muhammad, tidak tertentu menggunakan nama โ€œMuhammadโ€, seperti โ€œal-Rasulโ€, โ€œAhmadโ€, โ€œal-Nabiโ€, โ€œal-Basyirโ€, โ€œal-Nadzirโ€ dan lain-lain. Hanya saja, penyebutannya harus menggunakan isim dhahir, tidak boleh menggunakan isim dlamir (kata ganti) menurut pendapat yang kuat, meskipun sebelumnya disebutkan marjiโ€™nya. Sementara menurut pendapat lemah cukup menggunakan isim dlamir.
ย 
Contoh membaca shalawat yang benar โ€œash-shalรขtu โ€˜alan-Nabiโ€, โ€œana mushallin โ€˜alรข Muhammadโ€, โ€œana ushalli โ€˜ala Rasulillahโ€.ย 

Contoh membaca shalawat yang salah โ€œsallama-Llรขhu โ€˜ala Muhammadโ€, โ€œRahima-Llรขhu Muhammadan (karena tidak menggunakan akar kata ash-shalรขtu), โ€œshalla-Llรขhu โ€˜alaihiโ€ (karena menggunakan isim dlamir).

Syekh Mahfuzh al-Tarmasi mengatakan:
ย 
ูˆูŠุชุนูŠู† ุตูŠุบุชู‡ุง ุงูŠ ู…ุงุฏุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู…ุน ุงุณู… ุธุงู‡ุฑ ู…ู† ุฃุณู…ุงุก ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

โ€œShighatnya membaca shalawat Nabi tertentu, yaitu komponen kata yang berupa as-shalรขtu beserta isim dhahir dari beberapa asma Nabi Muhammad shallahu โ€˜alaihi wasallamaโ€. (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 248).

Ikhtilaf ulama mengenai keabsahan membaca shalawat Nabi dengan kata ganti (isim dlamir) dijelaskan Syekh Mahfuzh al-Tarmasi sebagai berikut:
ย 
ูุฎุฑุฌ ุณู„ู… ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุฑุญู… ุงู„ู„ู‡ ู…ุญู…ุฏุง ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูู„ุง ูŠูƒููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุชู…ุฏ ุฎู„ุงูุง ู„ู…ู† ูˆู‡ู… ููŠู‡ ูˆุฅู† ุชู‚ุฏู… ู„ู‡ ุฐูƒุฑ ูŠุฑุฌุน ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุถู…ูŠุฑ

(ู‚ูˆู„ู‡ ูู„ุง ูŠูƒููŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุชู…ุฏ) ุฃูŠ ูˆูุงู‚ุง ู„ุดูŠุฎ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุงู„ุฎุทูŠุจ ูˆุงู„ุฑู…ู„ูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู… (ู‚ูˆู„ู‡ ุฎู„ุงูุง ู„ู…ู† ูˆู‡ู… ููŠู‡) ุฃูŠ ูู‚ุงู„ูˆุง ุจุฅุฌุฒุงุก ุฐู„ูƒ ูˆู‡ู… ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ู…ุชุฃุฎุฑูŠ ุนู„ู…ุงุก ุงู„ูŠู…ู† ู…ู†ู‡ู… ุงู„ุดู‡ุงุจ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุงู„ู†ุงุดุฑูŠ ูˆุงู„ุญุณูŠู† ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฃู‡ุฏู„ย 


โ€œMengecualikan sallama-Llรขhu โ€˜alรข Muhammad, rahima-Llรขhu Muhammadan dan shallรขhu โ€˜alaihi, maka yang terakhir ini tidak mencukupi menurut pendapat al-muโ€™tamad (kuat), berbeda dari ulama yang menilai cukup, meskipun didahului marjiโ€™nya dlamir. Pendapat al-muโ€™tamad tersebut senada dengan pendapatnya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari, Syekh al-Khathib, Syekh al-Ramli dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat lemah yang mencukupkan penyebutan dlamir adalah pendapat sekelompok ulama Yaman, di antaranya Syekh Ahmad bin Muhammad al-Nasyiri dan Syekh Husain bin Abdurrahman al-Ahdal.โ€ (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011 M, juz IV, hal. 249).

Ketiga, berwasiat dengan ketakwaan di kedua khutbah
Rukun khutbah ketiga ini tidak memiliki ketentuan redaksi yang paten. Prinsipnya adalah setiap pesan kebaikan yang mengajak ketaatan atau menjauhi kemaksiatan. Seperti โ€œAthiโ€™ullaha, taatlah kalian kepada Allahโ€, โ€œittaqullaha, bertakwalah kalian kepada Allahโ€, โ€œinzajiru โ€˜anil makshiat, jauhilah makshiatโ€. Tidak cukup sebatas mengingatkan dari tipu daya dunia, tanpa ada pesan mengajak ketaatan atau menjauhi kemakshiatan.

Syekh Ibrahim al-Bajuri mengatakan:
ย 

ุซู… ุงู„ูˆุตูŠุฉ ุจุงู„ุชู‚ูˆู‰ ูˆู„ุง ูŠุชุนูŠู† ู„ูุธู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ

(ู‚ูˆู„ู‡ ุซู… ุงู„ูˆุตูŠุฉ ุจุงู„ุชู‚ูˆู‰) ุธุงู‡ุฑู‡ ุฃู†ู‡ ู„ุง ุจุฏ ู…ู† ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุงู„ุทุงุนุฉ ูˆุงู„ุฒุฌุฑ ุนู† ุงู„ู…ุนุตูŠุฉ ู„ุฃู† ุงู„ุชู‚ูˆู‰ ุงู…ุชุซุงู„ ุงู„ุฃูˆุงู…ุฑ ูˆุงุฌุชู†ุงุจ ุงู„ู†ูˆุงู‡ูŠ ูˆู„ูŠุณ ูƒุฐู„ูƒ ุจู„ ูŠูƒููŠ ุฃุญุฏู‡ู…ุง ุนู„ู‰ ูƒู„ุงู… ุงุจู† ุญุฌุฑ ...ุงู„ู‰ ุงู† ู‚ุงู„... ูˆู„ุง ูŠูƒููŠ ู…ุฌุฑุฏ ุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุบุฑูˆุฑู‡ุง ุงุชูุงู‚ุง


โ€œKemudian berwasiat ketakwaan. Tidak ada ketentuan khusus dalam redaksinya menurut pendapat yangย shahih. Ucapan Syekh Ibnu Qasim ini kelihatannya mengharuskan berkumpul antara seruan taat dan himbauan menghindari makshiat, sebab takwa adalah mematuhi perintah dan menjauhi larangan, namun sebenarnya tidak demikian kesimpulannya. Akan tetapi cukup menyampaikan salah satu dari keduanya sesuai pendapatnya Syekh Ibnu Hajar. Tidak cukup sebatas menghindarkan dari dunia dan segala tipu dayanya menurut kesepakatan ulamaโ€. (Syekh Ibrahim al-bajuri, Hasyiyah al-Bajuri โ€˜ala Ibni Qasim, Kediri, Ponpes Fathul Ulum, tanpa tahun, juz.1, hal.218-219).
ย 


Keempat, membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah.

Membaca ayat suci al-Quran dalam khutbah standarnya adalah ayat al-Qur'an yang dapat memberikan pemahaman makna yang dimaksud secara sempurna. Baik berkaitan dengan janji-janji, ancaman, mauizhah, cerita dan lain sebagainya.
ย 
Seperti contoh:
ย 
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุงู’ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽูƒููˆู†ููˆุงู’ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุงุฏูู‚ููŠู†ูŽย 

โ€œWahai orag-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah orang-orang yang jujurโ€. (QS. at-Taubah: 119).

Tidak mencukupi membaca potongan ayat yang tidak dapat dipahami maksudnya secara sempurna, tanpa dirangkai dengan ayat lainnya. Seperti:
ย 
ุซูู…ู‘ูŽ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ

โ€œKemudian dia memikirkanโ€ (QS. Al-Muddatsir ayat 21).

Membaca ayat Al-Qur'an lebih utama ditempatkan pada khutbah pertama.

Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

(ู‚ูˆู„ู‡ ูˆุฑุงุจุนู‡ุง) ุฃูŠ ุฃุฑูƒุงู† ุงู„ุฎุทุจุชูŠู†ย ย (ู‚ูˆู„ู‡ ู‚ุฑุงุกุฉ ุขูŠุฉ) ุฃูŠ ุณูˆุงุก ูƒุงู†ุช ูˆุนุฏุง ุฃู… ูˆุนูŠุฏุง ุฃู… ุญูƒู…ุง ุฃู… ู‚ุตุฉ) ูˆู‚ูˆู„ู‡ ู…ูู‡ู…ุฉ) ุฃูŠ ู…ุนู†ู‰ ู…ู‚ุตูˆุฏุง ูƒุงู„ูˆุนุฏ ูˆุงู„ูˆุนูŠุฏย ย ูˆุฎุฑุฌ ุจู‡ ุซู… ู†ุธุฑ ุฃูˆ ุซู… ุนุจุณ ู„ุนุฏู… ุงู„ุฅูู‡ุงู… (ู‚ูˆู„ู‡ ูˆููŠ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃูˆู„ู‰) ุฃูŠ ูˆูƒูˆู† ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ุขูŠุฉ ููŠ ุงู„ุฎุทุจุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃูŠ ุจุนุฏ ูุฑุงุบู‡ุง ุฃูˆู„ู‰ ู…ู† ูƒูˆู†ู‡ุง ููŠ ุงู„ุฎุทุจุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ู„ุชูƒูˆู† ููŠ ู…ู‚ุงุจู„ุฉ ุงู„ุฏุนุงุก ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ููŠ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ

โ€œRukun keempat adalah membaca satu ayat yang memberi pemahaman makna yang dapat dimaksud secara sempurna, baik berupa janji-janji, ancaman, hikmah atau cerita. Mengecualikan seperti ayat โ€œtsumma nadharaโ€, atau โ€œabasaโ€ karena tidak memberikan kepahaman makna secara sempurna. Membaca ayat lebih utama dilakukan di khutbah pertama dari pada ditempatkan di khutbah kedua, agar dapat menjadi pembanding keberadaan doa untuk kaum mukminin di khutbah kedua.โ€ (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Iโ€™anatut Thalibin, juz.2, hal.66, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).

Kelima, berdoa untuk kaum mukmin di khutbah terakhir
Mendoakan kaum mukminin dalam khutbah Jumat disyaratkan isi kandungannya mengarah kepada nuansa akhirat. Seperti โ€œallahumma ajirnรขย minannรขr, ya Allah semoga engkau menyelematkan kami dari nerakaโ€, โ€œallรขhumma ighfir lil muslimรฎn wal muslimรขt, ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimatโ€. Tidak mencukupi doa yang mengarah kepada urusan duniawi, seperti โ€œallรขhumma aโ€™thinรขย mรขlan katsรฎran, ya Allah semoga engkau memberi kami harta yang banyakโ€.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:


(ูˆ) ุฎุงู…ุณู‡ุง (ุฏุนุงุก) ุฃุฎุฑูˆูŠ ู„ู„ู…ุคู…ู†ูŠู† ูˆุฅู† ู„ู… ูŠุชุนุฑุถ ู„ู„ู…ุคู…ู†ุงุช ุฎู„ุงูุง ู„ู„ุฃุฐุฑุนูŠ (ูˆู„ูˆ) ุจู‚ูˆู„ู‡ (ุฑุญู…ูƒู… ุงู„ู„ู‡) ูˆูƒุฐุง ุจู†ุญูˆ ุงู„ู„ู‡ู… ุฃุฌุฑู†ุง ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ ุฅู† ู‚ุตุฏ ุชุฎุตูŠุต ุงู„ุญุงุถุฑูŠู† (ููŠ) ุฎุทุจุฉ (ุซุงู†ุฉ) ู„ุงุชุจุงุน ุงู„ุณู„ู ูˆุงู„ุฎู„ูย 


โ€œRukun kelima adalah berdoa yang bersifat ukhrawi kepada orang-orang mukmin, meski tidak menyebutkan mukminat berbeda menurut pendapat imam al-Adzhraโ€™i, meski dengan kata, semoga Allah merahmati kalian, demikian pula dengan doa, ya Allah semoga engkau menyelamatkan kita dari neraka, apabila bermaksud mengkhususkan kepada hadirin, doa tersebut dilakukan di khutbah kedua, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf.โ€ (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Muโ€™in Hamisy Iโ€™anatut Thalibin, Surabaya, al-Haramain, tanpa tahun, juz.2, hal.66).

Dalam komentarnya atas referensi di atas, Syekh Abu Bakr bin Syatha menambahkan:

(ู‚ูˆู„ู‡ ุฏุนุงุก ุฃุฎุฑูˆูŠ) ูู„ุง ูŠูƒููŠ ุงู„ุฏู†ูŠูˆูŠ ูˆู„ูˆ ู„ู… ูŠุญูุธ ุงู„ุฃุฎุฑูˆูŠ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฃุทููŠุญูŠ ุฅู† ุงู„ุฏู†ูŠูˆูŠ ูŠูƒููŠ ุญูŠุซ ู„ู… ูŠุญูุธ ุงู„ุฃุฎุฑูˆูŠ ู‚ูŠุงุณุง ุนู„ู‰ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ููŠ ุงู„ุนุฌุฒ ุนู† ุงู„ูุงุชุญุฉ ุจู„ ู…ุง ู‡ู†ุง ุฃูˆู„ู‰

โ€œUcapan Syekh Zainuddin, berdoa yang bersifat ukhrawi, maka tidak cukup urusan duniawi, meski khatib tidak hafal doa ukhrawi. Imam al-Ithfihi mengatakan, sesungguhnya doa duniawi mencukupi ketika tidak hafal doa ukhrawi karena disamakan dengan persoalan yang lalu terkait kondisi tidak mampu membaca surat al-fatihah, bahkan dalam persoalan ini lebih utamaโ€ย (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Muโ€™in Hamisy Iโ€™anatut Thalibin, Surabaya, al-Haramain, tanpa tahun, juz.2, hal.66).

โ€‹โ€‹โ€‹โ€‹โ€‹โ€‹โ€‹Demikian penjelasan mengenai rukun-rukun khutbah. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran. Wallahu aโ€™lam. (M. Mubasysyarum Bih)