M. Mubasysyarum Bih
Kolumnis
ย
ย
Pertama, memuji kepada Allah di kedua khutbah
ย
ย
โDisyaratkan adanya pujian kepada Allah menggunakan kata Allah dan lafadh hamdun atau lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya. Seperti alhamdulillah, ahmadu-Llรขha, Allรขha ahmadu, Lillรขhi al-hamdu, ana hamidun lillรขhi, tidak cukup al-hamdu lirrahmรขn, asy-syukru lillรขhi, dan sejenisnya, maka tidak mencukupi.โ (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim Hamisy Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 246).
ย
ย
Contoh membaca shalawat yang salah โsallama-Llรขhu โala Muhammadโ, โRahima-Llรขhu Muhammadan (karena tidak menggunakan akar kata ash-shalรขtu), โshalla-Llรขhu โalaihiโ (karena menggunakan isim dlamir).
Syekh Mahfuzh al-Tarmasi mengatakan:
ย
โShighatnya membaca shalawat Nabi tertentu, yaitu komponen kata yang berupa as-shalรขtu beserta isim dhahir dari beberapa asma Nabi Muhammad shallahu โalaihi wasallamaโ. (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011, juz.4, hal. 248).
Ikhtilaf ulama mengenai keabsahan membaca shalawat Nabi dengan kata ganti (isim dlamir) dijelaskan Syekh Mahfuzh al-Tarmasi sebagai berikut:
ย
(ูููู ููุง ูููู ุนูู ุงูู ุนุชู ุฏ) ุฃู ููุงูุง ูุดูุฎ ุงูุฅุณูุงู ูุงูุฎุทูุจ ูุงูุฑู ูู ูุบูุฑูู (ูููู ุฎูุงูุง ูู ู ููู ููู) ุฃู ููุงููุง ุจุฅุฌุฒุงุก ุฐูู ููู ุฌู ุงุนุฉ ู ู ู ุชุฃุฎุฑู ุนูู ุงุก ุงููู ู ู ููู ุงูุดูุงุจ ุฃุญู ุฏ ุจู ู ุญู ุฏ ุงููุงุดุฑู ูุงูุญุณูู ุจู ุนุจุฏ ุงูุฑุญู ู ุงูุฃูุฏูย
โMengecualikan sallama-Llรขhu โalรข Muhammad, rahima-Llรขhu Muhammadan dan shallรขhu โalaihi, maka yang terakhir ini tidak mencukupi menurut pendapat al-muโtamad (kuat), berbeda dari ulama yang menilai cukup, meskipun didahului marjiโnya dlamir. Pendapat al-muโtamad tersebut senada dengan pendapatnya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari, Syekh al-Khathib, Syekh al-Ramli dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat lemah yang mencukupkan penyebutan dlamir adalah pendapat sekelompok ulama Yaman, di antaranya Syekh Ahmad bin Muhammad al-Nasyiri dan Syekh Husain bin Abdurrahman al-Ahdal.โ (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyiyah al-Turmusi, Jedah, Dar al-Minhaj, 2011 M, juz IV, hal. 249).
Ketiga, berwasiat dengan ketakwaan di kedua khutbah
Syekh Ibrahim al-Bajuri mengatakan:
ย
ุซู ุงููุตูุฉ ุจุงูุชููู ููุง ูุชุนูู ููุธูุง ุนูู ุงูุตุญูุญ
(ูููู ุซู ุงููุตูุฉ ุจุงูุชููู) ุธุงูุฑู ุฃูู ูุง ุจุฏ ู ู ุงูุฌู ุน ุจูู ุงูุญุซ ุนูู ุงูุทุงุนุฉ ูุงูุฒุฌุฑ ุนู ุงูู ุนุตูุฉ ูุฃู ุงูุชููู ุงู ุชุซุงู ุงูุฃูุงู ุฑ ูุงุฌุชูุงุจ ุงูููุงูู ูููุณ ูุฐูู ุจู ูููู ุฃุญุฏูู ุง ุนูู ููุงู ุงุจู ุญุฌุฑ ...ุงูู ุงู ูุงู... ููุง ูููู ู ุฌุฑุฏ ุงูุชุญุฐูุฑ ู ู ุงูุฏููุง ูุบุฑูุฑูุง ุงุชูุงูุง
โKemudian berwasiat ketakwaan. Tidak ada ketentuan khusus dalam redaksinya menurut pendapat yangย shahih. Ucapan Syekh Ibnu Qasim ini kelihatannya mengharuskan berkumpul antara seruan taat dan himbauan menghindari makshiat, sebab takwa adalah mematuhi perintah dan menjauhi larangan, namun sebenarnya tidak demikian kesimpulannya. Akan tetapi cukup menyampaikan salah satu dari keduanya sesuai pendapatnya Syekh Ibnu Hajar. Tidak cukup sebatas menghindarkan dari dunia dan segala tipu dayanya menurut kesepakatan ulamaโ. (Syekh Ibrahim al-bajuri, Hasyiyah al-Bajuri โala Ibni Qasim, Kediri, Ponpes Fathul Ulum, tanpa tahun, juz.1, hal.218-219).
ย
Keempat, membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah.
ย
ย
โWahai orag-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah orang-orang yang jujurโ. (QS. at-Taubah: 119).
Tidak mencukupi membaca potongan ayat yang tidak dapat dipahami maksudnya secara sempurna, tanpa dirangkai dengan ayat lainnya. Seperti:
ย
โKemudian dia memikirkanโ (QS. Al-Muddatsir ayat 21).
Membaca ayat Al-Qur'an lebih utama ditempatkan pada khutbah pertama.
Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:
(ูููู ูุฑุงุจุนูุง) ุฃู ุฃุฑูุงู ุงูุฎุทุจุชููย ย (ูููู ูุฑุงุกุฉ ุขูุฉ) ุฃู ุณูุงุก ูุงูุช ูุนุฏุง ุฃู ูุนูุฏุง ุฃู ุญูู ุง ุฃู ูุตุฉ) ููููู ู ููู ุฉ) ุฃู ู ุนูู ู ูุตูุฏุง ูุงููุนุฏ ูุงููุนูุฏย ย ูุฎุฑุฌ ุจู ุซู ูุธุฑ ุฃู ุซู ุนุจุณ ูุนุฏู ุงูุฅููุงู (ูููู ููู ุงูุฃููู ุฃููู) ุฃู ูููู ูุฑุงุกุฉ ุงูุขูุฉ ูู ุงูุฎุทุจุฉ ุงูุฃููู ุฃู ุจุนุฏ ูุฑุงุบูุง ุฃููู ู ู ููููุง ูู ุงูุฎุทุจุฉ ุงูุซุงููุฉ ูุชููู ูู ู ูุงุจูุฉ ุงูุฏุนุงุก ููู ุคู ููู ูู ุงูุซุงููุฉ
โRukun keempat adalah membaca satu ayat yang memberi pemahaman makna yang dapat dimaksud secara sempurna, baik berupa janji-janji, ancaman, hikmah atau cerita. Mengecualikan seperti ayat โtsumma nadharaโ, atau โabasaโ karena tidak memberikan kepahaman makna secara sempurna. Membaca ayat lebih utama dilakukan di khutbah pertama dari pada ditempatkan di khutbah kedua, agar dapat menjadi pembanding keberadaan doa untuk kaum mukminin di khutbah kedua.โ (Syekh Abu Bakr bin Syatha, Iโanatut Thalibin, juz.2, hal.66, cetakan al-Haramain-Surabaya, tanpa tahun).
Kelima, berdoa untuk kaum mukmin di khutbah terakhir
Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:
(ู) ุฎุงู
ุณูุง (ุฏุนุงุก) ุฃุฎุฑูู ููู
ุคู
ููู ูุฅู ูู
ูุชุนุฑุถ ููู
ุคู
ูุงุช ุฎูุงูุง ููุฃุฐุฑุนู (ููู) ุจูููู (ุฑุญู
ูู
ุงููู) ููุฐุง ุจูุญู ุงูููู
ุฃุฌุฑูุง ู
ู ุงููุงุฑ ุฅู ูุตุฏ ุชุฎุตูุต ุงูุญุงุถุฑูู (ูู) ุฎุทุจุฉ (ุซุงูุฉ) ูุงุชุจุงุน ุงูุณูู ูุงูุฎููย
โRukun kelima adalah berdoa yang bersifat ukhrawi kepada orang-orang mukmin, meski tidak menyebutkan mukminat berbeda menurut pendapat imam al-Adzhraโi, meski dengan kata, semoga Allah merahmati kalian, demikian pula dengan doa, ya Allah semoga engkau menyelamatkan kita dari neraka, apabila bermaksud mengkhususkan kepada hadirin, doa tersebut dilakukan di khutbah kedua, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf.โ (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Muโin Hamisy Iโanatut Thalibin, Surabaya, al-Haramain, tanpa tahun, juz.2, hal.66).
Dalam komentarnya atas referensi di atas, Syekh Abu Bakr bin Syatha menambahkan:
(ูููู ุฏุนุงุก ุฃุฎุฑูู) ููุง ูููู ุงูุฏูููู ููู ูู ูุญูุธ ุงูุฃุฎุฑูู ููุงู ุงูุฃุทููุญู ุฅู ุงูุฏูููู ูููู ุญูุซ ูู ูุญูุธ ุงูุฃุฎุฑูู ููุงุณุง ุนูู ู ุง ุชูุฏู ูู ุงูุนุฌุฒ ุนู ุงููุงุชุญุฉ ุจู ู ุง ููุง ุฃููู
โUcapan Syekh Zainuddin, berdoa yang bersifat ukhrawi, maka tidak cukup urusan duniawi, meski khatib tidak hafal doa ukhrawi. Imam al-Ithfihi mengatakan, sesungguhnya doa duniawi mencukupi ketika tidak hafal doa ukhrawi karena disamakan dengan persoalan yang lalu terkait kondisi tidak mampu membaca surat al-fatihah, bahkan dalam persoalan ini lebih utamaโย (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Muโin Hamisy Iโanatut Thalibin, Surabaya, al-Haramain, tanpa tahun, juz.2, hal.66).
โโโโโโโDemikian penjelasan mengenai rukun-rukun khutbah. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran. Wallahu aโlam. (M. Mubasysyarum Bih)
Terpopuler
1
Ini Rangkaian Kegiatan HUT Ke-81 RI, dari Zikir Kebangsaan hingga Pesta Rakyat
2
Pemerintah Siapkan 8.100 Kuota bagi Masyarakat untuk Saksikan Langsung Upacara HUT Ke-81 RI di Istana
3
Hukum Menjamak Shalat karena Menonton Film The Oddysey
4
Menag Klaim Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi Sepanjang Sejarah Indonesia
5
Prabowo Batal Hadiri Zikir Kebangsaan di Monas, Menag: Ada Tugas Kenegaraan
6
Ratusan Ribu Warga Padati Monas dalam Zikir dan Doa Kebangsaan, Mayoritas Datang dari Luar Jakarta
Terkini
Lihat Semua