NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tafsir Mimpi

Kenali 5 Tanda Mimpi yang Benar dan Bermakna Menurut Ibnu Sirin

NU Online·
Kenali 5 Tanda Mimpi yang Benar dan Bermakna Menurut Ibnu Sirin
Mimpi yang Benar (Freepik)
Bagikan:

Mimpi yang hadir saat tidur terbagi menjadi dua jenis. Ada mimpi yang benar dan memiliki makna, serta ada pula mimpi yang bersifat semu dan hanya menjadi bunga tidur. Untuk membedakan keduanya, Ibnu Sirin menguraikan sejumlah ciri yang dapat dijadikan panduan dalam menentukan apakah sebuah mimpi tergolong benar atau tidak.

Menurut Ibnu Sirin, dalam kitab Mu'jam Tafsiril Ahlam mimpi yang benar berasal dari Allah. Biasanya, mimpi jenis ini berisi kabar gembira atau peringatan bagi orang yang mengalaminya. Sementara itu, mimpi yang tidak benar berasal dari setan. Isinya cenderung menakutkan, menyedihkan, menipu, atau hal-hal lain yang mengganggu. Apabila seseorang mengalami mimpi jenis kedua, dianjurkan untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun.

وأن المكروه من المنامات هو الذي يضاف إلى الشيطان الذي أمر النبي ﷺ بكتمانه والتفل عن يساره ووعد فاعل ذلك أنها لا تضره

Artinya: “Mimpi yang tidak disukai adalah mimpi yang dinisbatkan kepada setan. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan untuk tidak menceritakannya, meludah ke kiri tiga kali, dan memastikan bahwa hal itu tidak akan membahayakannya.” (Ibnu Sirrin, Mu'jam Tafsiril Ahlam [Abu Dhabi: Maktabah As-Shafa, 2008], h. 7)

5 Ciri Mimpi yang Punya Arti

Ibnu Sirin kemudian menjelaskan sejumlah indikator yang dapat menjadi ciri bahwa sebuah mimpi tergolong benar dan berpotensi memiliki arti. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sumber Mimpi 

Mimpi yang benar dan memiliki arti biasanya datang dari Allah dalam bentuk kabar gembira, peringatan, atau petunjuk. Mimpi ini bisa membawa hikmah yang bermanfaat dalam kehidupan nyata. 

Sebaliknya, mimpi palsu datangnya dari setan atau bisikan jiwa yang bertujuan untuk memberikan ketakutan, kesedihan atau menimbulkan fitnah. Menurut Ibnu Sirrin, mimpi palsu sebaiknya diabaikan namun tetap memohon perlindungan kepada Allah. Rasulullah bersabda:

الرُّؤْيَا مِنَ اللهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Mimpi (baik) itu datang dari Allah dan mimpi (buruk) itu datang dari setan.” (HR Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam kitab Fathul Bari, pada hakikatnya semua mimpi diciptakan dan berasal dari Allah. Diksi ar-ru'ya (mimpi baik) dinisbatkan kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya. Sementara itu, diksi al-hulm (mimpi buruk) dinisbatkan kepada setan karena dalam prosesnya ada campur tangan setan. (Fathul Bari, [Riyadh: Darussalam, 2000], h. 461-462)

2. Kondisi Pemimpi 

Mimpi yang benar biasanya dialami oleh orang yang memiliki kondisi psikologis yang stabil dan memiliki iman yang kuat sehingga membuat mimpi menjadi lebih akurat dan bermakna. Sebaliknya, mimpi yang hanya bunga tidur biasanya muncul dalam kondisi psikologis yang tidak stabil, misalnya karena pikirannya sedang kacau atau kondisi perut sedang kenyang dan lapar. Ibnu Sirrin menjelaskan:

وكذلك ما يغشى قلبَ النَّائم الممتلئ من الطَّعام، أو الخالي منه كالذي يصيبه من ذلك في اليقظة؛ إذ لا دلالة منه، ولا فائدة فيه

Artinya: “Demikian pula halnya dengan apa yang menyelimuti hati orang yang tidur, baik ia dalam keadaan penuh oleh makanan maupun kosong darinya, sama seperti yang menimpanya ketika terjaga. Karena hal itu tidak memiliki petunjuk dan tidak ada faedah di dalamnya.” (Ibnu Sirrin, Mu'jam Tafsiril Ahlam, h. 7)

3. Suci dari Hadats 

Mimpi yang benar lebih mungkin terjadi dan dialami oleh orang yang tidur dalam keadan suci dari hadats kecil maupun hadats besar. Pasalnya, kesucian lahir dan batin seorang hamba berpeluang untuk mendapatkan petunjuk ilahi melalui mimpi. Sebaliknya, orang yang tidur dalam kondisi mempunyai hadats besar atau junub rentan terhadap gangguan setan dalam mimpi. Abu Darda berkata:

إذا نام الرجل عُرِج بروحه إلى السماء حتى يؤتى بها العرش، فإن كان طاهراً أَذْنَ لها بالسجود، وإن جُنُباً لم يؤذن لها في السُّجُود

Artinya: “Jika seseorang tidur, ruhnya diangkat hingga dibawa ke ‘Arsy. Jika ia dalam keadaan suci, ruhnya diizinkan untuk bersujud. Jika ia dalam keadaan junub, maka tidak diizinkan untuk bersujud.” (Ibnu Sirrin, Mu'jam Tafsiril Ahlam, h. 13)

4. Waktu Mimpi

Waktu mimpi yang benar biasanya terjadi di sepertiga malam atau di waktu sahur. Pasalnya, waktu tersebut lebih dekat dengan rahmat Allah, cenderung lebih aman dari gangguan setan, dan memiliki ingatan yang lebih kuat. 

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah:

أصدق الرؤيا بالأسحار

Artinya: "Mimpi yang paling benar adalah di waktu sahur." (HR Ad-Darimi).

Tidak hanya itu, waktu mimpi yang benar juga biasanya terjadi di siang hari, terutama di waktu qailullah (menjelang waktu Zuhur) dan di musim subur, tepatnya ketika buah-buah siap dipetik (musim panen). Adapun mimpi yang hanya bunga tidur biasanya terjadi saat musim dingin.

5. Jelas dan Ingat

Mimpi yang benar biasanya tergambar dengan jelas, tetap diingat meskipun sudah bangun, dan membawa pesan positif atau peringatan yang berguna untuk orang yang memimpikannya. Sementara itu, mimpi palsu biasanya menggambarkan suasana yang campur aduk, membingungkan, dan ketika bangun sudah tidak ingat lagi.

Demikian 5 ciri mimpi yang benar dan berpotensi memiliki arti sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Sirrin. Meski begitu, sebagai seorang muslim hendaknya kita meyakini bahwa penjelasan mimpi tersebut bersifat dinamis karena pada hakikatnya, roda kehidupan manusia tidak ditentukan oleh mimpi melainkan oleh kekuasaan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Wallahu a’lam.

---------------
Muhammad Aiz Luthfi, Pengajar di Pesantren Al-Mukhtariyyah Al-Karimiyyah, Subang Jawa Barat.

Artikel Terkait