Tasawuf/Akhlak

Istilah Kunci dalam Tasawuf

NU Online  ·  Sabtu, 25 Oktober 2025 | 12:00 WIB

Istilah Kunci dalam Tasawuf

Ilustrasi tarian sufi. Sumber: Canva/NU Online.

Dalam dunia spiritual Islam, tasawuf bukan sekadar praktik zikir atau memakai jubah panjang. Tasawuf adalah jalan panjang penyucian jiwa, upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh kesadaran, cinta, dan keikhlasan.


Bagi banyak orang, istilah-istilah dalam tasawuf sering terdengar asing dan sulit dipahami. Padahal, di balik setiap istilah itu tersimpan makna yang dalam tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Berikut adalah beberapa istilah kunci dalam tasawuf yang penting untuk dipahami, terutama bagi siapa pun yang ingin mengenal dunia spiritual Islam lebih dekat.


1. Tazkiyatun Nafs, Penyucian Jiwa

Dalam tasawuf, perjalanan spiritual selalu dimulai dari tazkiyatun nafs, yaitu proses menyucikan diri dari sifat-sifat tercela seperti sombong, iri, dengki, cinta dunia, dan ego berlebihan. Tujuannya adalah menjadikan hati bersih sehingga cahaya Ilahi dapat masuk ke dalamnya. Tanpa pembersihan jiwa, ibadah dan zikir hanya menjadi rutinitas, bukan pengalaman rohani yang hidup. Imam asy-Syaukani dalam kitab tafsirnya yang terkenal, yakni Fathul Qadir menjelaskan makna tazkiyatun nafs sebagai berikut:


التزكية تشمل طهارة النفس من الذنوب، والإيمان، والعمل الصالح


Artinya: “Penyucian meliputi pembersihan hati dari dosa-dosa, (peningkatan) keimanan dan (memperbanyak) amal saleh,” (Muhammad bin Ali asy-Syaukani, Fathul Qadir, [Beirut, Dar al-Ma’rifah, 2000], jilid V, hlm. 497).


Dalam Al-Qur’an surat Asy-Syams ayat 9-10. Allah SWT berfirman:


قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ


Artinya, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya,” (QS. Asy-Syams: 9–10)


2. Maqam, Tahapan Spiritual

Istilah maqam berarti tahapan spiritual yang dilalui seorang salik (pejalan spiritual) dalam mendekatkan diri kepada Allah. Setiap maqam dicapai melalui usaha sadar, mujahadah (kesungguhan), dan latihan rohani.


Beberapa contoh maqam yang sering disebutkan dalam literatur tasawuf antara lain ialah: Tawbah (tobat), Zuhud (melepaskan diri dari ketergantungan dunia), Shabr (sabar), Tawakkal (berserah diri kepada Allah), dan Ridha (menerima ketentuan-Nya dengan lapang dada).

 

Saat seseorang sedang berada pada sebuah maqam, semisal maqam tawbah (tingkatan tobat), maka ia sedang berfokus pada upaya penyucian dosa-dosanya. Setiap maqam ibarat anak tangga. Semakin tinggi maqam seseorang, semakin dekat ia dengan ridha Allah.


3. Hal; Keadaan Ruhani

Berbeda dengan maqam yang dicapai melalui usaha dan latihan spiritual, "hal" merupakan anugerah ruhani yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Secara umum, para pakar tasawuf mendefinisikan hal sebagai kondisi spiritual atau keadaan batin tertentu yang dialami seseorang. Keadaan ini bisa berupa rasa khusyuk yang mendalam, cinta Ilahi, kerinduan kepada Allah, atau kesadaran ruhani yang sangat tinggi.


Bentuk jamak dari "hal" adalah "ahwal," yang dipahami sebagai berbagai kondisi mental dan spiritual yang dialami para sufi sepanjang perjalanan mereka menuju Allah. Karena sifatnya kondisional, "hal" tidak bersifat tetap, ia datang dan pergi sesuai kehendak Allah.


Para sufi menegaskan bahwa hal bukanlah tujuan akhir, melainkan karunia yang harus disyukuri dengan penuh kerendahan hati. Untuk memahami makna hal lebih dalam, mari kita simak penjelasan Imam Al-Qusyairi berikut ini:


معنى يَرِد على القلب مِن غير تعمُّد، ولا اجتلاب، ولا اكتِساب، من طرب أو حزن، أو بسْط أو قبض، أو شوق أو انزِعاج، أو هيبة أو اهتياج


Artinya, “(Hal ialah) Perasaan yang timbul dalam hati tanpa kesengajaan, tanpa ada upaya untuk menarik atau mengusshakannya, seperti rasa senang atau sedih, rasa mengembang atau menyempit, rasa rindu atau jengkel, rasa kagum atau kegembiraan," (Abu Qasim al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, [Beirut: Darul Kutub al-Islamiyyah, 2007], hlm. 57).


4. Ma'rifah

Ma’rifah adalah rahasia batin (sirr) yang diilhamkan Allah ke dalam hati seorang hamba, yang memungkinkannya untuk mengenal Allah secara langsung dan mendalam. Ini adalah pengetahuan yang diperoleh bukan melalui akal atau pancaindra, tetapi melalui penyingkapan batin (kasyf) yang terjadi setelah melalui pembersihan hati, penerangan jiwa, dan limpahan cahaya dari Allah. 

 

Ma’rifah bukan sekadar pengetahuan tentang Allah secara intelektual, namun merupakan kesadaran spiritual yang lahir dari hati yang suci. Dengannya, seseorang akan mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyut kehidupan. Mereka melihat dunia bukan sebagai penghalang, tapi sebagai cermin dari keagungan Sang Pencipta.


Secara sederhana, Imam Al-Qusyairi menggambarkan keadaan ma’rifah sebagai:


وجود تعظيم فِي القلب يمنعك عَنِ التعطيل والتشبيه


Artinya, “Terwujudnya rasa pengagungan (kepada Allah) di dalam hati yang mencegahmu dari upaya pelemahan dan penyamaan (terhadap Allah),” (Abu Qasim al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 21).


5. Fana’ dan Baqa’; Lenyapnya Ego, Hidup dalam Kehendak Allah

Dua istilah ini adalah puncak pengalaman ruhani dalam tasawuf. Fana adalah hilangnya sifat-sifat tercela (mazmumah) dalam diri seorang sufi, sementara baqa adalah tegaknya atau munculnya sifat-sifat terpuji (hamidah) yang merupakan manifestasi sifat-sifat Allah. Fana dan baqa selalu beriringan, di mana fana adalah tahap pengosongan diri dari hal-hal yang buruk, dan baqa adalah tahap pengisian diri dengan sifat-sifat baik yang bersumber dari Allah.


Dalam menjelaskan fana’ dan baqa’, Imam al-Qusyairi menegaskan bahwa keduanya harus dipahami secara bersamaan dalam kontradiksi maknanya. Beliau menjelaskan: 


أشار الْقَوْم بالفناء إِلَى سقوط الأوصاف المذمومة وأشاروا بالبقاء إِلَى قيام الأوصاف المحمودة بِهِ، وإذا كَانَ العبد لا يخلوا عَن أحد هذين القسمين فمن المعلوم أَنَّهُ إِذَا لَمْ يكن أحد القسمين كَانَ القسم الآخر لا محالة فمن فني عَن أوصافه المذمومة ظهرت عَلَيْهِ الصفات المحمودة، ومن غلبت عَلَيْهِ الخصال المذمومة استترت عَنْهُ الصفات المحمودة


Artinya, “Kaum (sufi) menjelaskan bahwa fana’ adalah runtuhnya sifat-sifat tercela dan baqa’ adalah terpatrinya sifat-sifat terpuji. Seorang hamba tentu tidak akan terlepas dari salah satu antara keduanya. Maka bisa dipahami bahwasanya jika salah satunya ada, akan meniadakan lainnya. Seseorang yang terlepas (fana) dari sifat tercela maka akan tampak padanya sifat terpuji, dan seseorang yang dalam dirinya dominan tingkah tercela maka sifat terpujinya akan tertutupi,” (Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 170).


6. Zikir; Mengingat Allah

Zikir bukan sekadar ucapan lisan seperti “subhanallah” atau “astaghfirullah”. Dalam tasawuf, zikir adalah latihan menyelaraskan hati dan lisan dalam kesadaran akan kehadiran Allah setiap saat. Dengan zikir, hati yang gelisah menjadi tenang. Jiwa yang kosong menjadi hidup. Inilah sebabnya zikir menjadi “jantung” dalam perjalanan tasawuf.


7. Mujahadah; Kesungguhan dalam Menempuh Jalan Rohani

Mujahadah adalah usaha serius untuk melawan hawa nafsu dan dorongan negatif dalam diri. Dalam tasawuf, musuh terbesar bukan orang lain, melainkan nafsu sendiri. Para sufi mengajarkan bahwa jalan menuju Allah tidak pernah mudah. Butuh ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan.


8. Mursyid; Pembimbing Rohani

Dalam banyak tarekat sufi, seorang mursyid atau guru rohani memiliki peran penting. Ia bukan sekadar guru ilmu, melainkan pembimbing jiwa yang menuntun murid melalui berbagai maqam spiritual dengan bimbingan, contoh hidup, dan doa.


Dengan memahami istilah-istilah kunci ini, kita tidak lagi melihat tasawuf sebagai dunia yang rumit. Justru kita akan menemukan bahwa tasawuf adalah jalan lembut yang membimbing hati kembali kepada Sang Pencipta. Wallahu a'lam.


Muhammad Ibnu Sahroji, atau Ustadz Ges.