Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Menghindarkan Diri dari Sifat Mencaci dan Menghujat

Menghindarkan Diri dari Sifat Mencaci dan Menghujat
Ilustrasi fenomena mencaci dan menghujat di media sosial. (Foto: NU Online)
Ilustrasi fenomena mencaci dan menghujat di media sosial. (Foto: NU Online)

Iman dan takwa bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tidak ada orang yang bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa kecuali dia adalah orang yang beriman. Dan tidak ada orang yang benar-benar beriman, kecuali dia bertaqwa; yakni menjaga diri dari dosa dan selalu berusah menjalankan perintah-perintah-Nya, disertai dengan akhlak yang kariimah.


Orang-orang yang bertakwa percaya kepada yang ghaib. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, percaya bahwa surga dan neraka itu benar-benar ada, mereka juga percaya bahwa Allah menciptakan malaikat dan menurunkan kitab suci kepada beberapa nabi.

 

Mereka percaya dengan hari akhir dan hisab. Dengan kepercayaan dan iman itu lalu mereka menjalani hidup di dunia sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang disampaikan oleh Rosulullah saw dari Allah swt.


Hamba Allah yang benar-benar beriman dan bertakwa itu mempunyai hati yang lembut, jiwa yang tenang dan perangai yang baik, ramah, dan penuh kasih sayang. Hal itu tercermin dalam tindakan dan ucapannya sehari-hari.

 

Orang yang benar-benar beriman, atau mereka yang memiliki kualitas iman sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, tidak mungkin menjadi pribadi-pribadi yang tercela. 


Mereka tidak mungkin menjadi orang-orang yang mengajak manusia kepada kerusakan, hasut, kedengkian, dan kebencian. Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman tidak mungkin menyebarkan fitnah atau tuduhan-tuduhan keji tanpa dasar kebenaran kepada siapapun. 


Mereka tidak mungkin mencaci dan melontarkan tuduhan keji hanya didasarkan pada su’udzon dan kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Orang-orang yang melakukan kekejian seperti ini, bukanlah orang yang beriman dan bertaqwa. Justru, mereka adalah para ahlul fitnah, atau pembuat kerusakan di muka bumi.


Rasulullah SAW mengajarkan umatnya bagaimana seharusnya menjadi seorang mukmin yang sesungguhnya. Rukun iman memang hanya ada enam sebagaimana kita ketahui, tetapi kesempurnaan iman memerlukan perangkat-perangkat lain.

 

Kepercayaan atau iman kita kepada enam hal yang diajarkan oleh Rasulullah itu bukan hanya sekedar percaya, melainkan harus ditindaklanjuti dengan menjalankan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya. 


Kemudian dilengkapi pula dengan akhlak atau tindak tanduk yang terpuji serta ucapan yang baik. Mencaci-maki, melaknat, memarahi orang menggunakan kata-kata kotor adalah perbuatan keji yang menjauhkan manusia dari iman.

 

Karena hal-hal tersebut bukan merupakan ciri-ciri manusia yang beriman. Orang yang beriman akan memancarkan keindahan jiwa dan hatinya. Membuat orang di sekelilingnya merasa aman, tenteram, dan damai. 


Rasulullah juga memberitahukan kepada umat Islam, bahwa caci maki atau laknat dari manusia kepada manusia lainnya merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan berat urusannya. Oleh karena itu jika ada orang yang mencaci-maki dan melaknat orang, namun ternyata orang yang dilaknat itu adalah orang baik, maka laknat itu akan kembali kepada diri orang yang melaknat.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon


Terkait

Tasawuf/Akhlak Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya