NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Pentingnya Dzikir di Tengah Kebisingan Dunia Modern: Menemukan Ketenangan Hati di Era Digital

NU Online·
Pentingnya Dzikir di Tengah Kebisingan Dunia Modern: Menemukan Ketenangan Hati di Era Digital
Dzikir di tengah kebisingan modern (NUO)
Bushiri
BushiriKolomnis
Bagikan:

Di tengah kemacetan kota, notifikasi kerja yang bertubi-tubi, dan percakapan grup WhatsApp yang tak ada habisnya, manusia modern terganggu oleh kebisingan tiap hari. Tubuhnya ada di dunia nyata, tapi pikirannya berkelana ke mana-aman: deadline, cicilan, hubungan dengan pasangan, dan masa depan. Banyak orang hari ini hidup dalam keadaan online, tapi hati mereka offline terputus dari ketenangan yang sesungguhnya.

Kita berinteraksi dengan banyak orang setiap hari, tetapi diri kita sering merasa kosong. Kita terus online, namun justru kehilangan koneksi dengan yang paling penting, yaitu hubungan dengan Allah. Di antara tuntutan produktivitas dan pencapaian, kita lupa memberi ruang untuk diam, padahal di sanalah letak dzikir, ruang sunyi tempat hati berbicara kepada Tuhannya.

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, dzikir (mengingat Allah) bukan sekadar aktivitas spiritual yang dilakukan di waktu senggang. Ia adalah kesadaran batin yang menjaga manusia tetap utuh di tengah derasnya arus dunia. Allah swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41).

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Abbas sebagaimana dikutip Ibnu Ajibah, menjelaskan bahwa setiap ibadah yang diwajibkan Allah memiliki waktu tertentu, kecuali dzikir. Allah tidak menetapkan waktu khusus untuknya. (Iqadzul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tt], jilid I, halaman 79).

Artinya, dzikir tidak mengenal jam aktif, tidak menunggu suasana hati, dan tidak memerlukan ruang khusus. Di sinilah letak keistimewaannya. Dzikir dapat hadir di antara kemacetan jalan, di sela makan siang di kantor, atau dalam kesunyian kamar menjelang tidur. Ia adalah ibadah yang selalu menyatu dengan ritme kehidupan manusia tanpa batas waktu.

Imam Al-Qusyairi bahkan menegaskan:

ومن خصائص الذكر: أنه غير موقت، بل ما من وقت من الأوقات إلا والعبد مأمور بذكر الله: إمّا فرضاً، وإمّا ندباً. والصلاة، وإن كانت أشرف العبادات، فقد لا تجوز في بعض الأوقات. والذكر بالقلب مستدام في عموم الحالات.

Artinya, “Di antara keistimewaan dzikir ialah bahwa ia tidak terikat waktu. Tiada satu pun waktu kecuali hamba diperintahkan berdzikir, baik dzikir wajib maupun dzikir sunnah. Sedangkan salat, walaupun mulia, ada waktu-waktu yang tidak diperbolehkan. Namun dzikir dengan hati dapat berlangsung terus dalam segala keadaan.” (Risalah Qusyairiyah, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 2001], halaman 258).

Dalam keseharian, dzikir tidak selalu harus dilakukan secara formal dengan tasbih di tangan atau lafal panjang yang diulang-ulang. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana seperti mengucap 'Alhamdulillah' saat tugas selesai, beristighfar setelah menahan amarah, atau membaca 'Bismillah' sebelum membuka laptop untuk bekerja. Dzikir bukan sekadar ritual, melainkan cara hati mengingat Tuhan dalam setiap tarikan napas kehidupan.

Umat Islam dapat berdzikir di mana saja: di tengah kantor yang sibuk, di kendaraan umum yang penuh sesak, atau di antara bisingnya klakson dan layar-layar digital kota besar. Kedekatan dengan Allah tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh kesadaran hati.

Dzikir juga menjadi sumber kesejukan di tengah cepatnya ritme kehidupan modern yang sering membuat manusia kehilangan arah dan ketenangan. Dalam pusaran kesibukan dan tekanan hidup, manusia kerap mencari ketenangan melalui hiburan, perjalanan, atau pencapaian materi. Namun ketenangan sejati justru bersumber dari kedekatan dengan Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Ra’d ayat 28:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

Artinya, “Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa mengingat Allah, merenungi ciptaan-Nya, serta menyadari kesempurnaan dan kebesaran-Nya akan menenangkan jiwa yang gelisah dan meredakan keresahan hati manusia. Dalam konteks kehidupan modern, khususnya di tengah hiruk-pikuk kaum urban yang disibukkan oleh pekerjaan, kemacetan, tuntutan sosial, dan tekanan hidup yang tiada henti, dzikir menjadi oase spiritual yang menyejukkan batin. Ia mengatakan:

ألا بتذكر الله، وتأمل آياته، ومعرفة كمال قدرته عن بصيرة، تطمئن قلوب المؤمنين، ويذهب القلق والاضطراب عنهم، بما وقر في تلك القلوب من نور الإيمان

Artinya, “Dengan mengingat Allah, merenungkan ayat-ayat-Nya, dan menyadari kesempurnaan kekuasaan-Nya dengan mata hati yang jernih, hati orang-orang beriman menjadi tenang; hilanglah kegelisahan dan keresahan, karena iman telah berakar di dalam hati mereka.” (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1991], jilid XIII, halaman 165).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Emilia Mustary dalam artikelnya yang berjudul “Terapi Relaksasi Dzikir untuk Mengurangi Depresi” yang dimuat dalam Indonesian Journal of Islamic Counseling (Prodi BKI IAIN Parepare, Vol. 3, No. 1, 2021, hlm. 9). Ia menjelaskan bahwa terapi relaksasi dzikir dapat memberikan manfaat bagi individu dalam mengatasi berbagai permasalahan psikologis. Bacaan dzikir tertentu mampu membantu memulihkan kesadaran seseorang yang mengalami depresi serta meningkatkan kekuatan mental dan ketenangan batin.​​​​

Dzikir bukan hanya ritual formal atau aktivitas spiritual yang dilakukan secara terpisah dari kehidupan sehari-hari. Justru ia adalah nafas hati yang selalu hadir, menyatu dengan ritme kehidupan manusia, dan menyejukkan jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia modern. Dengan dzikir, manusia tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menemukan ketenangan batin, penguatan mental, dan keseimbangan hidup. Wallahu A’lam

Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil

Kolomnis: Bushiri

Artikel Terkait

Pentingnya Dzikir di Tengah Kebisingan Dunia Modern: Menemukan Ketenangan Hati di Era Digital | NU Online