NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Takhalli: Langkah Awal Pendidikan Karakter dan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf Islam

NU Online·
Takhalli: Langkah Awal Pendidikan Karakter dan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf Islam
Takhalli: Pendidikan Karakter dan Penyucian Jiwa (NUO)
Bagikan:

Di tengah degradasi moral dan terkikisnya nilai-nilal etika, perlu kiranya melakukan revitalisasi dan internalisasi ajaran-ajaran tasawuf ke dalam setiap aspek kehidupan. Tasawuf yang notabene merupakan metode penyucian hati dalam ajaran Islam disinyalir mampu mengatasi krisis moral dan spiritual yang diakibatkan karena pola pikir materialistik masyakarat modern saat ini. (Qari Ananda Azhari dan Syawaluddin Nasution, 2025: 751).

Dalam tasawuf, khususnya tasawwuf akhlaqi, ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam proses pembentukan karakter, takhalli, tahalli, dan pada akhirnya akan berbuah tajalli. Penulis akan mengkaji lebih dalam mengkaji mengenai takhalli sebagai tahap awal dari rangkaian proses pembentukan karakter.

Apa itu Takhalli?

Takhalli secara bahasa merupakan derivasi dari kata takhalla-yatakhalla-takhalliyan, artinya menyendiri atau mengosongkan diri. Istilah tersebut dalam terminologi kaum sufi dikenal sebagai proses penyucian dan pembersihan diri dari sifat-sifat tercela, cinta dunia dan penyakit-penyakit hati seperti riya, sombong dan lain sebagainya.

Dalam Al-Quran Allah swt menegaskan pentingnya melakukan penyucian jiwa:

 قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS As-Syams: 9-10).

Istilah takhalli atau takhliyah memiliki konotasi makna yang mirip dengan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Orientasinya adalah bagaimana supaya seseorang bersih dari sifat dan prilaku tercela, baik yang tampak seperti maksiat yang dilakukan oleh anggota tubuh, maupun yang tak kasat mata seperti maksiat yang bersumber dari hati.

Dalam proses pembentukan karakter, proses sterilisasi atau penyucian diri ini penting dilakukan dan menjadi tangga pertama sebelum mengisi dengan karakter-karakter terpuji. Ibarat sebuah gelas kotor, ia harus dibersihkan dan dihilangkan kotorannya terlebih dahulu agar air yang masuk nantinya tetap bersih dan steril.

Dalam kitab Buraiqah Mahmudiyah dikatakan:

وَ) الِاسْتِدْلَال بِنَظَرِ (الْعَقْلِ أَيْضًا يَدُلُّ عَلَى أَفْضَلِيَّةِ التَّقْوَى مِنْ غَيْرِهَا مِنْ) سَائِرِ (الطَّاعَاتِ؛ لِأَنَّ التَّحْلِيَةَ) بِالْمُهْمَلَةِ التَّزَيُّنُ (بَعْدَ التَّخْلِيَةِ) بِالْمُعْجَمَةِ التَّبَرِّي وَالتَّخَلِّي (وَالتَّزْيِينُ بَعْدَ التَّطْهِيرِ فَالْأَوَّلُ) الطَّاعَاتُ (بِدُونِ الثَّانِي) التَّخَلِّي وَالتَّطْهِيرُ عَنْ السَّيِّئَاتِ (لَا يُفِيدُ وَعَكْسُهُ يُفِيدُ)

Artinya: "Argumen secara logika juga menunjukkan keutamaan taqwa atas ketaatan yang lain. Karena tahliyah (menghiasi diri) harus dilakukan setelah takhliyah (menyucikan diri). Dan berhias itu dilakukan seelah bersuci. Yang pertama -yakni ketaatan- tanpa yang kedua –yakni membersihkan diri dari perbuatan tercela tidak akan ada artinya. Berbeda dengan sebaliknya. (Abu Sa’id Al-Khadimi al-Hanafi, Buraiqah Mahmudiyah, [Mathba’ah al-Halabi: 1348 H.], juz II, halaman 22).

Kotoran yang dimaksud adalah penyakit-penyakit hati dan karakter tercela. Dalam Syaikh Amin Kurdi menjelaskan ada beberapa macam sifat-sifat tercela yang harus dihilangkan dalam diri seseorang. Beliau berkata:

فالأوصاف الذميمة كالحسد والحقد والكبر والعجب والبخل والرياء وحب الجاه والرياسة والتفاخر والغضب والغيبة والنميمة والكذب وكثرة الكلام ونحو ذلك

Artinya: "Sifat-sifat tercela adalah seperti dengki, dendam, sombong, bangga diri, pelit, riya’ (pamer), gila pangkat dan kehormatan, berbangga-bangg, marah, ghibah, adu domba, dusta, banyak bicara dan lain-lain." (Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwirul Qulub, [Surabaya, Al-Haramain: t.th], halaman 429).

Proses dan Posisinya Takhalli dalam Pembentukan Rohani dan Karakter Manusia

Upaya untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tercela merupakan langkah pertama yang harus dilakukan seseorang ketika ingin membentuk karakter yang baik serta kedekatan secara spiritual dengan Allah. Jiwa yang masih dipenuhi oleh benalu dan kotoran akan sulit menerima cahaya kebaikan. Syekh al-Khadimi memberikan logika sederhana bahwa orang yang mau berhias dan berdandan hendaklah mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu.

Hati yang kotor tentu akan sulit menerima cahaya kebenaran, nasihat dan lain sebagainya. oleh karenanya membersihkan hati dengan cara mengeluarkan sifat-sifat tercela menjadi satu-satunya langkah untuk memperbaiki hati dan jiwa seseorang. Syekh Ibnu Abbad An-Nafazi berkata

وصلاح القلب إنما يكون بطهارته عن الصفات المذمومة كلها دقيقها وجليلها

Artinya: "Hati atau jiwa yang baik hanya dapat diperoleh dengan cara membersihkan hati dari semua sifat-sifat tercela, baik yang kecil atau remeh maupun yang besar." (Ibnu Abbad An-Nafazi, Syarhul Hikam, [Surabaya, Al-Haramain: 2012], juz I, halaman 30).

Dalam praktiknya, ada dua aspek penting dalam proses takhalli. Pertama, membuang sifat-sifat tercela yang sudah ada dalam diri. Kedua, menghindarkan diri dari segala bentuk maksiat. Proses ini erat kaitannya dengan tobat yang menjadi hal paling dasar dalam proses perjalanan spiritual seseorang.

Imam Al-Qusyairi berkata:

التوبة أول منزلة من منازل السالكين وأول مقام من مقامات الطالبين

Artinya: "Tobat merupakan tempat peringgahan pertama bagi salikin (orang-orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah) dan tingkatan pertama bagi thalibin (orang-orang yang sedang mencari ridha Allah)." (Al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyah, [Beirut, Darul Minhaj: 2017), halaman 295).

Setelah melakukan tobat dengan sungguh-sungguh, seseorang dituntut untuk membuktikan kesungguhan tobatnya dengan tetap berupaya melepaskan diri dari setiap kesalahan yang pernah dilakukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa sejatinya takhalli merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari tobat itu sendiri. mengingat salah satu syarat tobat adalah menyesali perbuatan dosa yang dilakukan dan bertekad tidak akan melakukannya kembali di masa mendatang.

Mengenai keterkitan antara tobat dengan takhalli, Al-Kurdi menjelaskan:

إعلم أيها المريد أنه ينبغي لك بعد التوبة أن تتخلى عن الأوصاف الذميمة لأنها نجاسات معنوية لايمكن التقرب بها إلى الحضرة القدسية الإلهية كما لا يمكن التقرب بالنجاسات الصورية إلى العبادات الإلهية

Artinya: "Ketahuilah wahai para murid (orang yang menempuh perjalann menuju Allah), seyogyanya bagimu untuk mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela, karena ia merupakan najis maknawi yang tidak kasat mata. Karenanya, mendekat kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Suci menjadi suatu yang mustahil, sebagaimana juga tidak mungkin mendekatkan diri kepada Allah dengan cara beribadah ketika masih ada najis." (Al-Kurdi, 429).

Setelah seseorang bertobat, ia harus terus melatih dan mengendalikan nafsunya agar tetap dalam koridor yang tepat. Inilah yang disebut dengan riyadhah dan mujahadah, yaitu upaya keras untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena pada dasarnya, nafsu itu condong kepada hal-hal yang bersifat penyimpangan dan untuk mengatasinya diperlukan usaha ekstra.

Dalam bait Qasidah Burdah dikatakan

والنفس كالطفل إن تهمله شب على # حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم

Artinya: "Nafsu itu bagaikan anak kecil. jika engkau biarkan ia menyusu maka ia tidak akan berhenti menyusu. Namun, jika engkau menyapihnya ia akan berhenti."

Dalam proses ini, idealnya diperlukan sosok guru spiritual yang dapat memandu jalan agar tidak terjebak ke arah yang salah. Meski di zaman sekarang menemukan guru spiritual seperti itu terbilang sulit lantaran mereka memilih jalan khumul, tetapi akan selalu ada jalan untuk mendapatkan sosok guru tersebut jika kita terus berusaha dan memohon petunjuk kepada Allah.

Ala kulli hal, takhalli merupakan proses sterilisasi untuk menghilangkan sifat-sifat tercela dalam diri seseorang. Ia merupakan tangga pertama dalam proses pembentukan karakter dan perjalanan spiritual seseorang sebelum kemudian menghiasi diri dengan prilaku dan karakter terpuji. Wallahu a'lam.


Ustadz Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.

Artikel Terkait