Kajian Hadits: Pentingnya Berterima Kasih kepada Sesama Manusia
Jumat, 16 Januari 2026 | 08:46 WIB
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup sendiri. Kebutuhan kita, mulai dari makanan, pendidikan, hingga kesehatan, terpenuhi berkat kerja sama, layanan, dan interaksi sosial dengan orang lain. Dari tukang sayur yang menyediakan bahan makanan, guru yang mendidik, hingga tenaga kesehatan yang merawat, semuanya menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia memegang peran penting dalam kelangsungan hidup kita.
Setiap kebaikan yang kita terima dari orang lain sebaiknya disyukuri dan diapresiasi dengan tulus. Rasa terima kasih bukan sekadar kata-kata, tetapi fondasi penting dalam etika sosial. Dengan berterima kasih, kita menjaga kepercayaan, memperkuat hubungan, dan mencegah munculnya sikap mengingkari kebaikan yang telah diberikan.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita merenungi hadits Nabi Muhammad yang menekankan betapa besar nilai berterima kasih kepada sesama manusia. Hadits ini mengingatkan kita bahwa mensyukuri kebaikan orang lain adalah bagian dari akhlak mulia yang membentuk masyarakat harmonis dan saling menghargai.
Nabi Muhammad bersabda;
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ
Artinya, “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak berterimakasih kepada Allah” (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)
Ibnu Ruslan dalam kitab Syarah Sunan Abi Dawud memberikan beberapa penafsiran menarik terkait hadits tentang pentingnya bersyukur kepada sesama manusia.
Pendapat pertama menyatakan bahwa Allah tidak menerima syukur seorang hamba atas nikmat-Nya jika hamba tersebut tidak menghargai kebaikan yang ia terima dari orang lain, bahkan sampai mengingkarinya. Hal ini menunjukkan bahwa syukur kepada Allah dan syukur kepada manusia saling terkait erat, tidak bisa dipisahkan.
Pendapat kedua menekankan bahwa seseorang yang terbiasa mengingkari kebaikan manusia dan enggan mengucapkan terima kasih cenderung akan menumbuhkan sikap serupa terhadap nikmat Allah. Kebiasaan ini membentuk karakter yang kufur nikmat, yang kemudian tercermin dalam hubungan spiritualnya dengan Tuhan.
Pendapat ketiga menjelaskan bahwa orang yang tidak bersyukur kepada manusia seolah menempatkan dirinya setara dengan orang yang tidak bersyukur kepada Allah, meskipun secara lisan ia mengaku bersyukur kepada-Nya. Pengakuan semacam ini kehilangan nilai sejatinya karena tidak disertai sikap nyata dalam menghargai kebaikan orang lain. (Ibnu Ruslan, Syarah Sunan Abi Dawud, (Mesir: Darul Falah, 2016), jilid XVIII, hal. 490)
Lebih jauh lagi, merujuk penjelasan Syekh Mudzhiruddin az-Zaidani, hadits ini menuntun kita untuk memahami hak-hak manusia. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pemberi nikmat tidak tunggal. Pemberi nikmat mencakup dua pihak. Pertama, manusia yang secara langsung memberikan manfaat kepada kita. Kedua, Allah Taala sebagai sumber hakiki dari setiap nikmat.
Allah menetapkan sampainya rezeki kepada hamba melalui sebab dan perantara. Ada hamba yang memperoleh rezeki melalui pekerjaan. Ada yang melalui perdagangan. Ada yang melalui pertanian. Ada pula yang melalui sedekah, zakat, atau permintaan kepada sesama. Seluruhnya merupakan jalur yang Allah tetapkan untuk mengalirkan rezeki.
Secara lahir, manusialah yang memberikan manfaat secara langsung dipandang sebagai pemberi. Namun secara hakikat, Allah adalah pemberi nikmat yang sebenarnya. Ketika pemberi nikmat terdiri dari dua pihak, lalu seseorang tidak berterima kasih kepada pemberi secara lahir, maka Allah membenci sikap tersebut. Sikap ini menunjukkan pengabaian terhadap kewajiban bersyukur kepada manusia. Oleh karena itu, Allah tidak menerima ungkapan syukur kepada-Nya.
Syekh Mudzhiruddin az-Zaidani menjelaskan hal tersebut dalam al-Mafatih Fi Syarhil Mashabih:
فالمعطي في الظاهر هو الذي أعطاك شيئًا، وفي الحقيقة هو الله، فإذا كان المعطي لعطائك اثنين، فلو تركت شكر مَن أعطاك في الظاهر كره الله عدم أداء شكر ذلك الرجل منك، فلا يقبل الله شكرك إياه
Artinya, “Secara lahir, yang memberi kepadamu adalah orang yang memberikan sesuatu itu. Namun secara hakikat, yang memberi adalah Allah. Jika pemberi nikmat ada dua, lalu Kamu meninggalkan rasa syukur kepada orang yang memberi secara lahir, maka Allah membenci sikapmu yang tidak menunaikan syukur kepada orang tersebut. Karena itu, Allah tidak menerima rasa syukurmu kepada-Nya” (Mulla Ali Qari, al-Mafatih fi Syarhil Mashabih, [Kuat, Darun Nawadir: 2012], jilid III, halaman 521)
Selanjutnya, Mulla Ali al-Qari menjelaskan bahwa hadits ini memerintahkan kita untuk berterima kasih kepada sesama manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat dari Allah. Apabila perintah ini tidak dilaksanakan, maka seseorang belum menunaikan syukur atas nikmat Allah secara benar.
Ia juga menerangkan bahwa manusia merasa senang ketika kebaikannya dihargai dan akan tersakiti ketika kebaikannya diabaikan. Karena itu, tidak berterima kasih kepada manusia dinilai lebih buruk dibandingkan tidak bersyukur kepada Allah. Karena bagi Allah, sikap bersyukur dan mengingkari nikmat-Nya tidak menimbulkan dampak apa pun terhadap-Nya.
Lebih jauh, Mulla Ali al-Qari menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan tentang bentuk syukur yang sering kali belum sempurna. Seseorang bisa saja merasa bersyukur hanya kepada musabbib, yaitu Allah sebagai pemberi segala nikmat, tetapi mengabaikan syukur kepada sababb, yaitu manusia yang menjadi perantara nikmat tersebut. Dengan kata lain, mensyukuri Allah harus seiring dengan menghargai peran orang lain dalam kehidupan kita.
Ia menjelaskan bahwa syukur yang utuh tidak hanya diungkapkan dalam hati atau lisan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap nyata dalam menghargai kebaikan orang lain. Mengabaikan hal ini berarti belum menyempurnakan bentuk rasa syukur kepada Allah, karena setiap nikmat yang diterima manusia umumnya melibatkan peran sesama.
وَفِي الْحَدِيثِ: وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ يَعْنِي شُكْرًا كَامِلًا فَإِنَّهُ شَكَرَ الْمُسَبَّبِ وَلَمْ يَشْكُرِ السَّبَبَ
Artinya, “Dalam hadis disebutkan, ‘Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.’ Maksudnya adalah tidak bersyukur secara sempurna. Sebab ia bersyukur kepada Pemberi hakiki, tetapi tidak bersyukur (terima kasih) kepada sebab yang menjadi perantara.” (Mulla Ali al-Qari, Mirqatul Mafatih, [Beirut, Darul Fikr: 2002], jilid I, halaman 93)
Sebagai penutup, hadits ini menegaskan bahwa berterima kasih dalam Islam tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang nyata. Rasa syukur kepada sesama dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari: mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu pekerjaan, pedagang yang memenuhi kebutuhan, guru yang menyalurkan ilmu, atasan yang memberikan gaji, atau pihak lain yang berperan dalam kehidupan kita.
Membiasakan diri untuk berterima kasih kepada sesama manusia adalah bagian dari ibadah. Sikap ini tidak hanya menjaga adab, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan kepekaan moral. Dengan demikian, bersyukur kepada Allah dan menghargai peran orang lain berjalan seiring, membentuk karakter yang utuh dan harmonis.
---
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan